Friday, 20 June 2014

TWG: Tersesat di tengah belantara sosialita

Suatu hal yang menggembirakan hati saya adalah betapa sekarang pamor teh terus merangkak naik. Teh  sudah dianggap minuman berkelas sejajar dengan kopi, wine serta minuman berkelas lainnya.
Ini dapat dilihat dengan maraknya varians teh yang disediakan oleh cafe kopi. Starbuck, sebuah gerai kopi yang sangat terkenal berani mengakuisiis Teavana,s ebuah tea house dengan harga yang cukup fantastis.
Demikian juga dengan maraknya chatime di pelbagai mall, dan selalu membentuk antrian panjang bagi pembelinya. Minuman RTD mulai dari botolan dan gelasan sekarang menjadi satu bisnis yang cukup menggiurkan.

Kesemua produk teh tersebut, selain varians, market yang disasar juga berbeda. Mulai dari kalangan bawah, hingga kalangan atas.

Dalam  beberapa kesempatan, saya selalu mengungkapkan, berdasarkan pengamatan saya, market kelas dibagi menjadi 3 bagian:

  1.           Urban Pop (minuman RTD, teh celup lokal, teh tubruk)
     2.      Executive moderate (teh merk twinning, Dilmah, beberapa merk teh lokal seperti merk saya sendiri:  laresolo, Oza, dll)
     3.      Tea Connouisseur (Non brand single origin, Marriages freres, TWG, Daman Freres)
Kalau sebelumnya pasar yang ramai  dibidik adalah Executive moderate, sekarang tea connoussseur sudah mulai dilirik. Salah satu merk lama yang baru expansi ke Indonesia adalah TWG. 


Sepintas, sebelum orang mulai kenal dengan merk teh ini, orang akan menganggap TWG adalah singkatan dari Twinning, salah satu merk teh yang sudah exist lebih dari 200 tahun lalu di Inggris (tepatnya didirikan pada tahun 1706).
TWG sendiri didirikan di singapore, dengan mengambil position sebagai luxury tea. Tea housenya di design mewah. TWG merupakan singkatan dari Tea Wellness Group, didirikan Murjani pada tahun 2003, yang merupakan induk dari TWG tea yang didirikan oleh Manoj M. Murjani dan Toha Bouqdib pada tahun 2008. Saya ingat, sekitar tahun 2011 TWG hanya berupa Tea Shop di Grand Indonesia, tetapi sekarang menjelma menjadi tea house yang paling mewah di Jakarta

Belum lama ini saya di mendapat kehormatan untuk hadir pada acara launching TWG tea salon (demikian mereka menyebutnya) yang kedua, di Pasific Places.  Pada pembukaan salon pertama di Senayan City, saya juga hadir, hanya memang tidak seheboh yang kedua, terutam perihal undangannya: 600 undangan bo. Kalau satu orang bawa pasangan, yang hadir ada 1200 orang lebih.

Ini terbukti  ketika saya hadir tepat pukul 18.00, tampak antrian panjang mengular hanya untuk registrasi.  Dan registrasi ini cukup penting,  karena kita akan mendapat semacam kupon untuk mendapatkan goodie bag yang cakep.


Sayang sekali saya tidak dapat mengajak istri, karena harus bertugas sebagai baby sister, alias jaga anak-anak. Sayapun tidak tahu siapa saja teman dari komunitas pecinta teh yang hadir. Di saat mengantri saya sempat bertemu dan bertegur sapa dengan pak Tiko, salah satu manager di TWG.

Selesai mengisi registrasi, saya mulai celingak-celinguk mencari teman yang saya kenal. Saya coba telpon Umar, yang katanya mau hadir tetapi belum tiba. Memang benar-benar, sebagian besar dari  tamu wajahnya tidak asing bagi saya, alias saya kenal beberapa. Tetapi masalahnya, MEREKA TIDAK KENAL SAYA J
Saya lihat ada Daniel Mananta, Rianty Carlwright, Denada, Dominique, tengku Zacky, Laura Basuki, pak Wimar witular, Dessy Anwar,  Marissa Anita dan beberapa wajah lain yang akrab saya lihat di media . Saya benar-benar merasa tersesat di tengah belantara sosialita J







Kemudian disebuah pojok, saya lihat ada satu wajah yang saya cukup familiar, tetapi juga tidak terlalu sering muncul di televisi, makanya saya agak susah mengingat namanya. Ketika pandangan saya edarkan kesamping, baru saya ingat ah itu Pak Bondan Winardo, dan tentu yang disebelah adalah Gwen, salah satu putrinya yang beberapa kali ikut menemani  pak Bondan di acara wisata kuliner.
Saya mengenal pak Bondan lama sebelum beliau ngetop dan menjadi celebrities. Dulu, sebelum beliau sibuk dan ngetop seperti sekarang, hampir tiap bulan pak Bondan mengundang teman-teman dari jalan sutra untuk ngumpul dirumah beliau di daerah Sentul City.
Akhirnya ketemu juga sosialita yang saya kenal dan mengenal saya J  Lumayanlah saya tidak merasa cengoh sendirian, ada teman yang bisa diajak ngobrol.
Setelah Umar dan Indri, teman dari komunitas pecinta teh menelpon, baru saya pamitan ke pak Bondan untuk menemui mereka.

SALNUM
Berdasar pengalaman sewaktu undangan launching teh Twinning, dimana saya saltum, saya tidak mau terulang lagi. Saya waktu itu memakai Tshirt dan jeans, dan ternyata jamuannya adalah jamuan teh ala inggris. Bisa dibayangkan dong, bagaimana dandanan orang inggris kalau sedang mengadakan afternoon tea. Celakanya saya diminta untuk berdansa dengan salah satu dancer yang mengisi acara. Pokoknya saya tidak mau mengulang lagi kejadian memalukan tersebut.



Undangan kali ini, memang ada dress codenya yaitu  red Carpet Galm. Ketika saya tanya ke Ratna Somantri, teman saya dari komunitas pecinta teh, dijawab pokoknya dandan yang paling keren aja. Repot juga. Jas sewaktu kerja di hotel sudah entah dimana. Yah,  paling tidak saya  harus pakai kemeja dan bukan celana jeans lagi J

Tetapi tertanya bukan saltum yang terjadi pada saya tetapi salnum (salah minum). Ceritanya begini:
Namanya juga tea party, tentu para waiter berikut tea sommelier hilir mudik membawa teh dan beberapa cake dan sandwich. Sudah tiga gelas es teh yang saya minum. Yang pertama red tea, kemudian fruit tea dan satu lagi saya lupa apa namanya. Nah kali ini yang muncul dengan gelas cantik. Ketika saya tanya itu teh apa, dijawab, tea cocktail. Kok ya dasar ndeso, saya mikirnya ya teh dengan ditambah soda begitu, yang memang sering saya buat dan saya sajikan di kedai teh saya, macam Sparkling Grey and Sour.
Ketika saya cium, hmm. .. it’s smell strength. Saya coba cicipi satu teguk, alamak kok rasanya langsung ngliyeng. Baru saya tersadar it’s should be alcohol inside the tea. Ketika saya konfirmasikan memang benar, itu campuran wine dengan tea. Oh my god, betapa saya telah melakukan beberapa dosa. Minum 3 gelas es teh (tentunya manis, dan saya hampir tidak pernah minum teh manis) dan seteguk alcohol  J
Alhasil saya tidak berani menghabiskan minum tea cocktail tadi, dan karena belum ada waitres yang muncul dengan membawa nampan untuk clear up the glass, jadilah saya tenteng terus gelas yang masih penuh tersebut, termasuk untuk bergaya ketika sedang berphoto. Lumayan untuk teman narsis J








Kalau dibandingkan dengan launching salon yang pertama tamu undangan memang lebih heboh,tetapi cakenya tidak seheboh yang pertama. Kalau yang pertama scone, sandwich, macaron dan aneka macam cake bersliweran, kali ini hanya beberapa cake, dan ditengah-tengah hanya ada satu macaron. Jadi siapa cepat dia dapat.

Akhirnya setelah mencoba beberapa jenis teh lain, kue, dan berphoto-photo narsis ria, kami pulang dan mendapat hadiah yang wah. Kita mendapat satu kaleng teh, yang nilai diatas 400 ribuan. Saya beruntung sekali mendapatkan red tea, yang memang saya suka. Red tea dari TWG adalah sebutan untuk Rooibos yang di blend dengan racikan khusus. Rooibos adalah satu herbal dari afrika selatan, yang sering disebut sebagai red tea, karena warna teh kering mapun seduhannya berwarna kemerahan.  Ini sungguh menginspirasi saya. Dulu saya pernah sajikan menu Rooibos, di kedai saya, tetap tidak banyak yang suka. Kesalahan saya adalah saya hanya menyajikan Roobos single origin. Dan ternyata ketika di blend, akan menghasilakan cita rasa yang sangat berbeda. Ini menginspirasi saya untuk mengekplore rooibos lebih jauh.



TEH SUDAH MENJADI MINUMAN YANG BERGENGSI
Saya ingat, dulu sering mendengar ada pameo yang mengatatakan bahwa minuman teh kalah gengsinya dibanding kopi. Bahkan kita mesti minta maaf ketika hanya mampu menyuguhkan teh kepada tamu.
Tetapi sekarang tampaknya trend teh di Indonesia mulai naik. Dengan hadir TWG di indonesia, paling tidak dapat menyatakan bahwa minum teh itu bisa sangat mewah dan bergengsi. Teh minuman sehat para artis. Dan ini secara tidak langsung akan berdampak pada minuman teh kelas dibawahnya.
Sebagai contoh, hebohnya penjualan minuman Capcin (capucino cincau), adalah dampak tidak langsung ngetop minuman teh dengan bubble  yang sempat ngetrend di mall-mall.

Sekarang setiap cafe kopi pasti menyediakan teh, Sudah banyak beberapa kafe kopi di Surabaya, Bandung dan Jakarta yang minta supply teh dari Laresolo. Ini satu perkembangan yang menggembirakan.  
Harapannya, mereka yang pingin teh berkualitas, tetapi tidak mampu membeli teh dari TWG, mulai melirik teh Laresolo. Mereka akan mendapatkan teh yang dengan kualitas yang tidak terlalu jauh berbeda, tetapi dengan harga yang sangat jauh dibawahnya.











Semoga dengan kehadiran TWG di  Indonesia turut menggairahkan industri teh di Indonesia. Kalau saat ini hanya ada 2 macam teh di menu TWG, yaitu teh Malabar dan Taloon, semoga kelak akan lebih banyak lagi teh-teh unik lain di Indonesia di dalam daftar menu teh TWG. Hidup teh Indonesia.



5 comments:

Evi ARENGA said...

Tak lama lagi tea culture pasti akan semeriah coffee culture ya Pak. Dan itu semua pasti berkat insan-isan yang bergerak di dalamnya, seperti Pak Bambang

Bambang Laresolo said...

makasih mbak Evi. Lebih dari 7 tahun, saya Ratna Somantri, dan teman pecinta teh, berjuang untuk meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh. Dan sekarang harapan itu sudah mulai berwujud nyata. Bukan hal yang mudah meyakinkan para produsen untuk menjual teh premium di Indonesia, dan akhirnya kami diberi kesempatan memperkenalkan walau dalam jumlah yang kecil.

Bambang Laresolo said...
This comment has been removed by the author.
Qonita Lillah said...

Pak bambang apakah laresolo yang dibogor masih ada?kebetulan saya baru menemukan blog bapak,dan saya suka sekali teh

teh bidara said...

terima kasih info nya di jamin berkualitas teh nya