Sunday, 2 October 2016

KHASIAT WHITE TEA, HANYA MITOS BELAKA?


Beberapa tahun lalu, di Bandung terjadi diskusi kecil antara saya dan pak Dadan Rohdiana. Beliau adalah seorang peneliti teh dari Gambung.
“Menurut mas Bambang, apa yang membuat white tea sekarang begitu special dan banyak dicari orang”
“Marketingnya”, jawab saya sambil tersenyum.
“Benar mas. Marketing yang mempromosikan bahwa white tea memiliki kandungan anti oksidan paling tinggi. Memang tidak salah, tetapi ketika diseduh, katekin yang terektrak tidak terlalu banyak”

Bagi yang belum paham apa apa itu white tea, saya akan berikan gambaran. White tea adalah salah satu jenis teh yang dibedakan oleh proses produksi.
Secara proses sebenarnya white tea dapat dikatakan sangat sederhana. Petik kering lalu keringkan.

 Grade tertinggi white tea namanya silver needle. Teh ini hanya dibuat dengan bahan pucuk teh yang masih kuncup. Grade ke dua namanya White peony atau Pai Mutan. Teh dibuat dengan materi satu pucuk dan 2 daun. Sedangkan grade terendah white tea namanya Shomei. Ini terbuat dari remahan daun, dan juga daun daun tua.
Yang menjadikan white tea menjadi mahal karena memang jumlah pucuk teh Cuma sedikit. Dan semua lahan kebun diproses menjadi white tea, karena akan mengganggu produktitivitas.
Kandungan utama di teh adalah katekin dan theanin. Dimana katekin memiliki khasiat untuk antioksidan dan theanine berfungsi sebagai neotransmiter dopamin di otak, yang efeknya akan memberikan rasa relaks di otak.


Secara kontent, kandungan kedua senyawa ini paling banyak ada di pucuk dan daun muda, termasuk juga kafein. Kandungan ini akan berkurang seiiring dengan rangkaian proses produksi.
White tea, khususnya silver needle, dpt dikatakan kandungan katekin paling tinggi dibanding dengan jenis teh lain.

Fakta inilah yang sering dijadikan alat promosi bahwa minum white tea sangat bermanfaat karena kandungan antik oksidannya paling tinggi dibanding jenis teh lain. Faktanya seperti apa?
Secara teori,proses ektraksi juga dipengaruhi oleh besaran partikel daun. Makin kecil partikelnya proses ektraksi akan semakin cepat, begitu juga sebaliknya.

White tea, khususnya silver needle, masih terdiri dan utuh, belum mekar pula. Sehingga proses ektraksi sangat lambat. Banyangkan seperti ini, biji kopi tidak perlu di grind,  kemudian anda seduh dengan air panas. Seberapa banyak  anda bisa mendapatkan ektraksi kafeinnya?
“Menurut, saya kalau mau mendapatkan optimal katekin di white tea, tehnya harus di cacah dulu”, demikian pak Dadan pernah melontarkan idenya.

Iya, memang benar cara itu dapat mengekstrasi lebih banyak katekin, tetapi jangan lupa, dalam white tea kandungan kafeinnya juga tinggi. Sehingga selain katekin akan di dapat kafein yang tinggi juga.
Fakta lain, berbanding terbalik. Hasil penelitian laboratorium seperti yang dituliskan dalam beberapa jurnal kesehatan. Akan tetapi perlu diingat, bahwa penelitian tersebut di lakukan in vivo di laboratorium. Yang diambil adalah kandungan kafein dalam white tea secara keseluruhan, tetapi tidak dijelaskan bagaimana metode ektraksinya. Dugaan saya, karena yang diinginakan ekstraksi kandungan katekin yang optimal, maka cara memecah daun teh menjadi partikel lebih kecil adalah cara yang sangat masuk akal untuk dilakukan.

Dalam buku, TEA, HISTORY TERROIRES VARIETIES, nd edition, terbitan The Camelia sinensis tea house, ada satu bab yang khusus menjelaskan senyawa kimia dari masing-masing jenis teh.

Ada beberapa metode pengetesan. Untuk ektraksi teh rata-rata digunakan 5 gram,  air 500 cc (kecuali matcha Cuma 100 cc), waktu ektraksi bervariasi mulai 3.5 –hingga 6 menit (Khusus matcha hanya 30 detik).
TeaFamilyEGCGEGCCECECG
MatchaSendoGreen986522124
Long Jing Shi FengGreen60132821
Anji Bai ChaGreen47111410
Darjeeling Sungma st FlushBlack2951315
Sencha AshikuboGreen1816165
Mr. Changs dong dingOolong1618155
Dragon PearlGreen124146
Bai Hao YinzhenWhite30014
Assam BanapspatyBlack20112
Arti singkatan C = Cathecin EC: Epigalo Cathecin  ECG: EpiCathecin Gallat EGC: EpiCathecin Gallat EGCG : Epic Gallo Cathecin Gallat

Untuk kandungan antiokidan, saya kutipkan salah satu hasil pengetesan dengan metode ORAC
TeaFamilyAntioksidan
Matcha SendoGreen
3,100 µmoles
Long Jing Shi fengGren
2,425 µmoles
Anji Bai ChaGreen
1,175 µmoles
KamairichaGreen
1,050 µmoles
Darjeeling Sungma st FlushBlack
750 µmoles
Mr. Chang Dong DingOolong
550 µmoles
Assam BanaspatyBlack
500 µmoles
Sencha AshikuboGreen
425 µmoles
Bai Hao Yin ZhenWhite
300 µmoles
Dragon Pearl jasmineGreen
150 µmoles

Data dari table diatas tampak jelas bahwa ektraksi silver needle memiliki kandungan katekin yang cukup  rendah dibanding jenis teh lain,yaitu no. 2 dari bawah diantara 9 jenis teh.
Sedangkan konsentrasi antioksidan jugamenunjukkan hasil yang sama, nomor 2 dari bawah diantara 10 jenis teh.

Pertanyaannya, whort tidak kita mengkonsumsi white tea?

Dari awal saya mengenal teh, sudah saya tegaskan bahwa kita mengapresiasi teh karena keunikan rasa yang terdapat dalam teh tersebut. Lupakan soal manfaat. Saya sejak dulu juga tidak setuju kalau branding teh kita Cuma ditonjolkan manfaat kesehatannya.  Pada akhirnya kita malah bersaing dengan jamu.
Yang perlu ditonjolkan adalah keunikan teh tersebut, terutama rasanya.

Lalu apa keunikan Silver Needle?

Diatas saya kemukakan bahwa konten senyawa terbanyak ada di pucuk. Begitu juga dengan volatil2 dalam teh yang berperan dalam memberikan flavour dan aroma. Silver Needle memiliki flavour manis, dan aroma yang sangat delicated. Ada yang memiliki flavour buah, aroma bunga. Teh ini justru teh yang sangat aman untuk dijadikan daily tea, karena karakternya yang light.
Jadi menurut saya yang cukup whort untuk dibeli, karena rasanya memang luar biasa. Apalagi kalau diseduh dingin, luar biasa enaknya.

2 comments:

Ardha Kusuma said...

Kedai Laresolo yang di Jogja masih buka tidak ya? Makasih.

Bambang Laresolo said...

sudah tutup mas Ardha yang terbaru ada di sukabumi, dan mendatang insya Allah buka di Cianjur