Friday, 7 July 2017

TEH CELUP

Ada satu pertanyaan menarik dari saudara Istanto, tentang teh Celup: apakah teh celup yg ada di pasaran mengandung bahan kimia, perasa, pewarna, atau apalah yg tdk baik bagi tubuh kita? Bagaimana jika dibandingkan dg teh tubruk?

Sebelumnya saya akan ceritakan sejarah tentang teh celup. Adalah Thomas Sulivan, seorang pedagang teh dari America yang memperkenalkan teh celup secara tidak sengaja.
Pada waktu itu, Thomas Bermaksud memberikan sampel2 teh kepada pelanggannya. Dengan tujuan kepraktisan, maka sampel-sampel teh tersebut dibungkus dengan kain sutra.




Tentu saja para pelanggan Thomas, merasa heran dengan sampel-sampel teh tersebut. Dan kebetulan, mereka sedang memasak air panas, maka sample tersebut langsung dicemplungkan ke dalam air panas yang sedang mereka masak. Ketika warna air sudah berubah, mereka langsung angkt kembali sample2 teh tersebut. Aha. Ternyata hal tersebut memberikan ide baru bagi pelanggan Thomas. Mereka ingin menjual teh dalam kemasan kantong tersebut.

Hanya masalahnya teh membutuhkan ruangan untuk mengembang Dengan ukuran teh premium dan kantong-kantong yang besar tersebut, tentunya akan susah untuk memasarkannya
Lalu mereka mencari akal, dengan mengecilkan ukuran tehnya, berarti ukuran kantongnya juga bisa dikecilkan
Saat sekarang kantong-kantong teh dibuat dari serat Abaca, dan yang terbaru dibuat dari kain nylon yang berbentuk pyramid, sehingga bisa dimasukkan ukuran lebih besar.
Mengorbankan ukuran tentunya memberi resiko mengorbankan aroma dan rasa, serta cafein yang terekstrak lebih cepat. Akibatnya teh akan cepat menjadi pahit, jika diminum tanpa gula
Kualitas rasa teh, salahnya ditentukan oleh grading teh dimana banyaknya pucuk dan daun muda, serta ukuran daun akan sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa teh. Oleh karena itu, dapat dikatakan teh celup hampir selalu menggunakan kualitas daun teh yang lebih rendah
Kebanyakan teh celup menggunakan grading dust atau fanning. Ini grading terendah. Dust sendiri pada awalnya di dapatkan dari hancuran daun-daun premium yang ada di tong-tong penyimpanan teh. Akan tetapi sehubungan dengan permintaan dust yang meningkat, maka di pabrik juga menyesuaikan dan memproduksi grading sesuai permintaan pelanggan
Bagaimana dengan isue kantong teh celup yang menggunakan bahan kimia untuk memutihkan warna kantongnya?
Kalau pewarna saya rasa tidak kecuali Thai Tea. Teh sendiri mengandung pewarna merah natural yang sering digunakan oleh para tekstile . Zat warna paling banyak ada di teh hitam, daun tua dan batang.
Untuk perasa tergantung jenis tehnya. Untuk teh-teh rasa buah atau vanilla tentu semua didapatkan oleh perasa. Hanya kualitas perasa, apakah natural, identical atau artificial tentunya tergantung kualitas merk teh tersebut. Teh-teh murah, tentu menggunakan artificial. Cirinya aromsa tajam dan ada rasa yang menusuk di leher ketika teh diminum
Saya pribadi belum pernah mendapatkan laporan secara ilmiah kandungan kimia yang ada di kantong teh celup. Apakah ini sebatas isue atau benar, perlu dilakukan penelitian secara khusus
Saya pribadi hanya lebih konsen terhadap kualitas tehnya Kalau memang menginginkan kualitas teh lebih baik, gunakan loose leaf atau daun teh utuh. Walau tidak selalu teh tubruk lebih baik dibanding teh celup. Teh tubruk murah, tentunya akan banyak batang dan daun tua. Sedangkan teh celup yang bagus, terutama yang teh-teh import, walau finestnya halus, tetapi mereka tetapi menggunakan grade I yang biasanya terbuat dari pucuk hingga daun ke tiga
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menyeduh tehnya Jangan biarkan kantong teh terendam terus menerus. Selain kafein yang terektrak akan lebih banyak, rasa teh juga akan menjadi pahit, dan kalau misal ada kandungan kimia dalam kantong teh akan terektrak lebih banyak. Cukup rendam 2-3 menit saja, lalu angkat. Demikian juga kalau menggunakan teh tubruk, sebaiknya disaring setelah 2-3 menit perendaman.

No comments: