Friday, 20 June 2014

TWG: Tersesat di tengah belantara sosialita

Suatu hal yang menggembirakan hati saya adalah betapa sekarang pamor teh terus merangkak naik. Teh  sudah dianggap minuman berkelas sejajar dengan kopi, wine serta minuman berkelas lainnya.
Ini dapat dilihat dengan maraknya varians teh yang disediakan oleh cafe kopi. Starbuck, sebuah gerai kopi yang sangat terkenal berani mengakuisiis Teavana,s ebuah tea house dengan harga yang cukup fantastis.
Demikian juga dengan maraknya chatime di pelbagai mall, dan selalu membentuk antrian panjang bagi pembelinya. Minuman RTD mulai dari botolan dan gelasan sekarang menjadi satu bisnis yang cukup menggiurkan.

Kesemua produk teh tersebut, selain varians, market yang disasar juga berbeda. Mulai dari kalangan bawah, hingga kalangan atas.

Dalam  beberapa kesempatan, saya selalu mengungkapkan, berdasarkan pengamatan saya, market kelas dibagi menjadi 3 bagian:

  1.           Urban Pop (minuman RTD, teh celup lokal, teh tubruk)
     2.      Executive moderate (teh merk twinning, Dilmah, beberapa merk teh lokal seperti merk saya sendiri:  laresolo, Oza, dll)
     3.      Tea Connouisseur (Non brand single origin, Marriages freres, TWG, Daman Freres)
Kalau sebelumnya pasar yang ramai  dibidik adalah Executive moderate, sekarang tea connoussseur sudah mulai dilirik. Salah satu merk lama yang baru expansi ke Indonesia adalah TWG. 


Sepintas, sebelum orang mulai kenal dengan merk teh ini, orang akan menganggap TWG adalah singkatan dari Twinning, salah satu merk teh yang sudah exist lebih dari 200 tahun lalu di Inggris (tepatnya didirikan pada tahun 1706).
TWG sendiri didirikan di singapore, dengan mengambil position sebagai luxury tea. Tea housenya di design mewah. TWG merupakan singkatan dari Tea Wellness Group, didirikan Murjani pada tahun 2003, yang merupakan induk dari TWG tea yang didirikan oleh Manoj M. Murjani dan Toha Bouqdib pada tahun 2008. Saya ingat, sekitar tahun 2011 TWG hanya berupa Tea Shop di Grand Indonesia, tetapi sekarang menjelma menjadi tea house yang paling mewah di Jakarta

Belum lama ini saya di mendapat kehormatan untuk hadir pada acara launching TWG tea salon (demikian mereka menyebutnya) yang kedua, di Pasific Places.  Pada pembukaan salon pertama di Senayan City, saya juga hadir, hanya memang tidak seheboh yang kedua, terutam perihal undangannya: 600 undangan bo. Kalau satu orang bawa pasangan, yang hadir ada 1200 orang lebih.

Ini terbukti  ketika saya hadir tepat pukul 18.00, tampak antrian panjang mengular hanya untuk registrasi.  Dan registrasi ini cukup penting,  karena kita akan mendapat semacam kupon untuk mendapatkan goodie bag yang cakep.


Sayang sekali saya tidak dapat mengajak istri, karena harus bertugas sebagai baby sister, alias jaga anak-anak. Sayapun tidak tahu siapa saja teman dari komunitas pecinta teh yang hadir. Di saat mengantri saya sempat bertemu dan bertegur sapa dengan pak Tiko, salah satu manager di TWG.

Selesai mengisi registrasi, saya mulai celingak-celinguk mencari teman yang saya kenal. Saya coba telpon Umar, yang katanya mau hadir tetapi belum tiba. Memang benar-benar, sebagian besar dari  tamu wajahnya tidak asing bagi saya, alias saya kenal beberapa. Tetapi masalahnya, MEREKA TIDAK KENAL SAYA J
Saya lihat ada Daniel Mananta, Rianty Carlwright, Denada, Dominique, tengku Zacky, Laura Basuki, pak Wimar witular, Dessy Anwar,  Marissa Anita dan beberapa wajah lain yang akrab saya lihat di media . Saya benar-benar merasa tersesat di tengah belantara sosialita J







Kemudian disebuah pojok, saya lihat ada satu wajah yang saya cukup familiar, tetapi juga tidak terlalu sering muncul di televisi, makanya saya agak susah mengingat namanya. Ketika pandangan saya edarkan kesamping, baru saya ingat ah itu Pak Bondan Winardo, dan tentu yang disebelah adalah Gwen, salah satu putrinya yang beberapa kali ikut menemani  pak Bondan di acara wisata kuliner.
Saya mengenal pak Bondan lama sebelum beliau ngetop dan menjadi celebrities. Dulu, sebelum beliau sibuk dan ngetop seperti sekarang, hampir tiap bulan pak Bondan mengundang teman-teman dari jalan sutra untuk ngumpul dirumah beliau di daerah Sentul City.
Akhirnya ketemu juga sosialita yang saya kenal dan mengenal saya J  Lumayanlah saya tidak merasa cengoh sendirian, ada teman yang bisa diajak ngobrol.
Setelah Umar dan Indri, teman dari komunitas pecinta teh menelpon, baru saya pamitan ke pak Bondan untuk menemui mereka.

SALNUM
Berdasar pengalaman sewaktu undangan launching teh Twinning, dimana saya saltum, saya tidak mau terulang lagi. Saya waktu itu memakai Tshirt dan jeans, dan ternyata jamuannya adalah jamuan teh ala inggris. Bisa dibayangkan dong, bagaimana dandanan orang inggris kalau sedang mengadakan afternoon tea. Celakanya saya diminta untuk berdansa dengan salah satu dancer yang mengisi acara. Pokoknya saya tidak mau mengulang lagi kejadian memalukan tersebut.



Undangan kali ini, memang ada dress codenya yaitu  red Carpet Galm. Ketika saya tanya ke Ratna Somantri, teman saya dari komunitas pecinta teh, dijawab pokoknya dandan yang paling keren aja. Repot juga. Jas sewaktu kerja di hotel sudah entah dimana. Yah,  paling tidak saya  harus pakai kemeja dan bukan celana jeans lagi J

Tetapi tertanya bukan saltum yang terjadi pada saya tetapi salnum (salah minum). Ceritanya begini:
Namanya juga tea party, tentu para waiter berikut tea sommelier hilir mudik membawa teh dan beberapa cake dan sandwich. Sudah tiga gelas es teh yang saya minum. Yang pertama red tea, kemudian fruit tea dan satu lagi saya lupa apa namanya. Nah kali ini yang muncul dengan gelas cantik. Ketika saya tanya itu teh apa, dijawab, tea cocktail. Kok ya dasar ndeso, saya mikirnya ya teh dengan ditambah soda begitu, yang memang sering saya buat dan saya sajikan di kedai teh saya, macam Sparkling Grey and Sour.
Ketika saya cium, hmm. .. it’s smell strength. Saya coba cicipi satu teguk, alamak kok rasanya langsung ngliyeng. Baru saya tersadar it’s should be alcohol inside the tea. Ketika saya konfirmasikan memang benar, itu campuran wine dengan tea. Oh my god, betapa saya telah melakukan beberapa dosa. Minum 3 gelas es teh (tentunya manis, dan saya hampir tidak pernah minum teh manis) dan seteguk alcohol  J
Alhasil saya tidak berani menghabiskan minum tea cocktail tadi, dan karena belum ada waitres yang muncul dengan membawa nampan untuk clear up the glass, jadilah saya tenteng terus gelas yang masih penuh tersebut, termasuk untuk bergaya ketika sedang berphoto. Lumayan untuk teman narsis J








Kalau dibandingkan dengan launching salon yang pertama tamu undangan memang lebih heboh,tetapi cakenya tidak seheboh yang pertama. Kalau yang pertama scone, sandwich, macaron dan aneka macam cake bersliweran, kali ini hanya beberapa cake, dan ditengah-tengah hanya ada satu macaron. Jadi siapa cepat dia dapat.

Akhirnya setelah mencoba beberapa jenis teh lain, kue, dan berphoto-photo narsis ria, kami pulang dan mendapat hadiah yang wah. Kita mendapat satu kaleng teh, yang nilai diatas 400 ribuan. Saya beruntung sekali mendapatkan red tea, yang memang saya suka. Red tea dari TWG adalah sebutan untuk Rooibos yang di blend dengan racikan khusus. Rooibos adalah satu herbal dari afrika selatan, yang sering disebut sebagai red tea, karena warna teh kering mapun seduhannya berwarna kemerahan.  Ini sungguh menginspirasi saya. Dulu saya pernah sajikan menu Rooibos, di kedai saya, tetap tidak banyak yang suka. Kesalahan saya adalah saya hanya menyajikan Roobos single origin. Dan ternyata ketika di blend, akan menghasilakan cita rasa yang sangat berbeda. Ini menginspirasi saya untuk mengekplore rooibos lebih jauh.



TEH SUDAH MENJADI MINUMAN YANG BERGENGSI
Saya ingat, dulu sering mendengar ada pameo yang mengatatakan bahwa minuman teh kalah gengsinya dibanding kopi. Bahkan kita mesti minta maaf ketika hanya mampu menyuguhkan teh kepada tamu.
Tetapi sekarang tampaknya trend teh di Indonesia mulai naik. Dengan hadir TWG di indonesia, paling tidak dapat menyatakan bahwa minum teh itu bisa sangat mewah dan bergengsi. Teh minuman sehat para artis. Dan ini secara tidak langsung akan berdampak pada minuman teh kelas dibawahnya.
Sebagai contoh, hebohnya penjualan minuman Capcin (capucino cincau), adalah dampak tidak langsung ngetop minuman teh dengan bubble  yang sempat ngetrend di mall-mall.

Sekarang setiap cafe kopi pasti menyediakan teh, Sudah banyak beberapa kafe kopi di Surabaya, Bandung dan Jakarta yang minta supply teh dari Laresolo. Ini satu perkembangan yang menggembirakan.  
Harapannya, mereka yang pingin teh berkualitas, tetapi tidak mampu membeli teh dari TWG, mulai melirik teh Laresolo. Mereka akan mendapatkan teh yang dengan kualitas yang tidak terlalu jauh berbeda, tetapi dengan harga yang sangat jauh dibawahnya.











Semoga dengan kehadiran TWG di  Indonesia turut menggairahkan industri teh di Indonesia. Kalau saat ini hanya ada 2 macam teh di menu TWG, yaitu teh Malabar dan Taloon, semoga kelak akan lebih banyak lagi teh-teh unik lain di Indonesia di dalam daftar menu teh TWG. Hidup teh Indonesia.



Friday, 2 May 2014

Teh dan Filosofy

Mungkin ada yang pernah membaca buku filosofi kopi karangan Dee. Selepas terbitnya buku tersebut, banyak yang bertanya kepada saya, apakah ada filosofi teh?
Sangat kebetulan, seusai mendapat pertanyaan tersebut, saya diundang siaran di sebuah radio Swasta di Solo, dengan tema teh dan filosofi. Berikut  adalah materi dalam siaran tersebut.

Sebagian orang mungkin hanya mengenal  sebagai minuman saja. Maka banyak yang merasa heran ketika mendengar istilah filosofi teh. Bagaimana bisa sebuah minuman kok mengandung nilai-nilai filsafat yang biasanya dilakukan oleh para filsuf?
Sebelum membahas lebih lanjut ada baiknya kita ekplorasi terlebih dahulu apa makna dari filosofi sendiri
Filsafat merupakakan  sebuah studi tentang fenomena kehidupan dan pemikian manusia yang dijabarkan dalam sebuah konsep dasar.  Tidak seperti ilmu pengetahuan lain yang melewati percobaan atau ekperimen, filsafat lebih kepada pengutaraan masalah dan pencarian solusi yang disertai alasan dan argumentasi yang kuat. Artinya filsafat harus didasarkan kepada nalar atau logika.
Filsafat berasal dari kata Philia, yang artinya persahabatan, cinta, kasih, dsb. Dan kata Sophia yang artinya kebijaksanaan. Dalam arti yang sederhana filsafat bisa diartikan sebagai pecinta kebijaksanaan.
Ada beberapa klasifikasi filsafat. Misal digolongkan dalam origin. Jadi ada sebutan filsafat barat, timur tengah, filsafat timur, filsafat islam, filsafat Kristen dsb.
Dalam tradisi barat filsafat dibagi menjadi beberapa tema dan sub tema. Diantaranya:
1.       Metafisika. Dalam golongan ini filsafat lebih banyak mengekplorasi pada pemikiran mengenai eksistensi dan materi. Dari mana materi berasal, bagaimana hal tersebut dapat terjadi, semua itu dijadikan pemikiran yang seringkali melewati perenungan dan pengamatan terhadap alam. Dalam perkembangannya, golongan ini menjadi sub tema lain seperti Kosmologi, misalnya. Yang membicarakan mengenai manusia dan alam semesta.
2.       Epistemologi. Pengkajian dan pemikiran tentang hakikat dan pengetahuan. Pembahasan meliputi batas, sumber serta kebenaran sebuah pengetahuan.
3.       Aksiologi. Membahas mengenai nilai dan norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Golongan ini dibagi menjadi 2 sub tema,yaitu etika dan estetika,
Etika membahas tentang bagaimana manusia seharusnya bertindak. Beberapa bahasan menyangkut mengenai kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, nurani, dsb
Estetika membahasa mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan.




Kalau  dihubungkan dengan teh, tema apa yang dapat mewakili filosofi teh?
Secara singkat dapat saya jawab, bahwa filosofi the lebih banyak berkaitan dengan aksiologi, yaitu etika dan estetika.
Etika ini sifatnya bisa universal, dan juga bisa kontenstual. Misalnya dalam upacara minum teh jepang dikenal tata cara duduk formal yang disebut Seiza. Ini ada juga di muslim yaitu duduk diantara sujud yang disunahkan dilakukan dng cara Iqaa. Yaitu menyilangkan kanan diatas kaki kiri, dan pantat menduduki tumit.
Di Inggris, cara memegang cangkir yang sopan adalah dengan 3 jari, sementara kelingking dibiarkan mencuat. Di china makan menggunakan sumpit, yang tentunya dipegang dengan 3 jari. Cara memegang Cucing (cup kecil), dengan satu tangan juga dilakukan dengan 3 jari. Dalam islam ada juga sunnah nabi yang mengajarkan makan dengan 3 jari.


Sedangkan yang kontekstual terkadang malah berbenturan dengan etika budaya lain daerah, Misalnya saja dalam upacara minum teh jepang, cara minum yang sopan adalah dengan menyeruput keras sehingga berbunyi sebagai tanda penhormatan kepada tuan rumah. Sedangkan secara umum, itu malah tidak sopan.

Lebih lanjut, perkembangan teh dalam memberikan nilai-nilai filosofis, tidak lepas dari perkembangan teh dari jaman ke jaman. Kita coba tengok sebentar sejarah perkembangan teh. mengalamai perkembangan dari jaman ke jaman. Dan dapat dikatakan sebuah evolusi karena perkembangan ini melewati waktu ribuan tahun lamanya.
Pertama kali ditemukan oleh Shennong kira-kira hamper 3000 tahun sebellum masehi sebagai tanaman liar yang digunakan untuk pengobatan. Baru pada tahun 50-an Masehi (berarti 3000 tahun kemudian), pohon the dibudidayakan dan mulai diminum oleh para bangsawan.

Kira-kira 600 tahun kemudian, yaitu pada dinasti Tang, the mulai popular dan menjadi minuman nasional. Pada dinasti inilah muncul sastrawan yagn bernama Luyu yang pertama kalinya menuliskan buku tentang the secara lengkap. Buku tersebut memuat asal-usul the, peralatan the, cara memetik dan memasak the, upcara minum the, tempat produksi the, dsb.
Masa kecil Luyu dibesarkan dalam lingkungan religiustias bersama pendeta agama Zen Budha. Ini yang memberi pengaruh besar terhadap Tulisan Luyu. Dalam, tata cara menyiapkan the Luyu menempatkan tata cara tsb setara dengan upacara keagamaan. Semua peralatan hrus disesuaikan dengan situasi, benda yang ada dalam ruang the hrs memilik arati dan nilai kebaikan bagi setiap pribadi yang hadir.

Tulisan Luyu ini yang kelak  malah lebih banyak dibaca oleh orang Jepang dan kembangkan sebuah budaya minum teh yang memiliki nilai filosofis tersendiri.

Pada sekitar tahun 1191 Masehi, Eisai seorang pendeta Zen Budha yang belajar agama di China pulang membawa serta tradisi minum the terutama tehnikan pembautan powder tea. Ajaran tersebut berkembangan menjadi sebuah ceremony yang memiliki nilai-nilai filosofy tinggi yang disebut sebagai Chado yang artinya jalan hidup teh.
Adalah Seno Rikyu yang mengajarkan empat pilar dasar philosophy dalam Chado, yaitu WA KEI SEI dan JAKU. Wa yang bermakna keselarasan, rasa hormat, ketulusan dan ketenangan.


Chado adalah sebuah disiplin yang disimbolkan dalam ritual dan gerakan tertentu yang lengkap yagn memerlukan waktu kkurang lebih 15 menit untuk menyajikan semangkok teh.  Ada beberapa macam ritual yang memiliki tata cara, peralatan dan pakaian yang berbeda yang diseusaikan dengan musim atau tujuan ritual tersebut.
Adakah contoh nyata aplikasi filosofi  teh dalam kehidupan sehari-hari.
Makna dan aplikasi dari filosofy bagi masing-masing orang bisa saja berbeda, tergantung dari pengalaman hidup masing-masing. Misalnya saja dalam memaknai Wa, atau keselarasan bisa memiliki beragam makna.
Ada yang memaknai sebagai keselarsan antara manusia dan alam, manusia dan Tuhan, dsb
Saya pribadi memaknai Wa sebagai dasar pokok yang sangat mempengaruhi aspek kehidupan. Seperti Yin dan Yang di China, kesemuanya harus selaras. Adanya ketidak selarasan membuat hidup akan timpang.

Khusus untuk manfaat, saya lebih  memaknai sebagai alert atau pengingat untuk selalu melakukan kebajikan. Menjauhkan diri dari hal-hal yg sebenarnya mencederai atau berlawanan dengan kebaikan the. Contoh yang nyata, the dan rokok adalah sebuah ketidak selarasan dan kesia-siaan. Betapa tidak, the dikenal lmemberikan manfaat buat kesehatan, tentu akan menjadi sia-sia jika disandingkan dengan rokok yang jelas tertulis dikemasannya merugikan kesehatan,

Apakah budaya minum teh di Indonesia juga ada yang memiliki nilai-nilai filosofis?
Di Indonesia sendiri secara kontekstual berkembang nilai-nilai filosofy dalam the. Contohnya the poci dari tegal. Penggunaan gula batu sebagai pemanis disertai syarat tidak boleh diaduk. Cukup dengan menggoyangkan cangkirnya saja. The pada awal yang berasa pahit, diujung berasa manisnya. Makna dari filofohpy ini untuk mendapatkan manisnya hidup tidak dapat diguankan cara instant. Menggoyang cangkir ibarat sebuah usaha atau effort.  Nah lewat usaha ini kita akan menadapatkan manisnya kehidupan.



Apa yang dimaksud dengan Tea Quote?
Dalam lingkup lebih sempit filosofyy teh ditulilskan dalam bentuk ungkapan. Dalam lingkup lebih luas dituis dalam bentu tea story.
Ada banyak tea quote yang berbentuk sebuah wisdom, misalnya:

The adalah secanggkir kehidupan (Anonimdari )
The diminum untukmelupakan kekelaman dunia (Tien Yisheng)
Minum teh bersama, menjadi lebih dari sekedar bentuk acara minum ideal. Minum the adalah agama dan seni kehidupan. {Okakuro Kakuzo}
Dan sangat terkenal adalah quote William Gladstone, salah seorang perdana mentri Inggris:
Kalau kau dingin, teh akan menghangatkan
Kalau kepanasan, teh akan menyejukkan
Kalau galau, teh akan menenangkan

Tea quote tersebut sudah barang tentu tidak tertuang begitu saja, tetapi melewati pengalaman batin atau pengamatan mendalam di kehidupan lewat pengalaman minum teh.

Beberapa tea story seperti kumpulan Chicken soup for tea lover, tertulis kisah-kisah inspiratif yang berhubungan dengan pengalaman minum teh.
Atau satu kisah sejati pada awal-awal saya membuka kedai teh (baca http://kedai-teh-laresolo.blogspot.com/2010/07/my-special-guest.html)
Pada intinya, filosofi teh adalah berkaitan dengan esensi minum teh itu sendiri, yaitu sharing. Teh lebih enak jika dinikmat bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Ketika berbagi teh inilah, keakraban makin terajut. Obrolan yang pada awalnya hanya sekitar dari mana asal teh yang sedang diminum tersebut, apa jenisnya, dsb, bisa berkemang kepada sharing kehidupan yang lebih dalam lagi.
Saya ingat betul, tradisi masa kecil dimana teh selalu disajikan pagi dan sore untuk diminum bersama-sama. Ini juga terjadi pada keluarga-keluarga lainnya. Sayangnya tradisi tersebut sudah mulai memudar, karena kesibukan, sehingga banyak yang beralih minum teh yang lebih instant macam teh celup atau teh sachet. Dalam iklannyapun, teh celup selalu digambarkan diseduh sendiri dalam cangkir yang dipegang sendiri-sendiri. Padahal akan lebih nikmat, jika teh dibuat dalam teko dan dibagikan kepada orang-orang terdekat kita, untuk dinikmati bersama.



Yuk kita budayakan lagi minum teh bersama, biar bisa mendapatkan inspirasi dari filsafat teh.

Tradisi minum teh keluarga saya

Tanpa terasa saya sudah melewati 3 tahun menjalankan usaha dibidang teh. Dimulai dari kedai sederhana, belajar meracik teh, mensupply beberapa kafe yang menyedikan teh, melayani jasa custom blending untuk signature blend beberapa cafe, menjadi konsultan yang berkaitan dengan teh, juga menjadi pembicara dibidang teh. Pokoknya core bisnis saya tetap teh.
Banyak orang menanyakan, bagaimana awalnya saya tertarik kepada teh?
Tentunya ini sangat berkaitan dengan sejarah dan tradisi keluarga. Saya minum teh dari kecil, bahkan pada waktu itu saya tidak pernah minum air putih, selalu minum teh. Sebelum teh botol Sosro terkenal seperti sekarang, kami kemana-mana selalu bekal air teh yang dimasukkan dalam botol bekas Orson (syrup  jeruk). Bisa jadi Mbak Sosro Joyo terinspiriasi dari tradisi masyarakat Indonesai yang suka bekal teh dibotolin J
Ibu saya bukanlah seorang yang terpelajar. Sekolah hanya lulus SD, karena sudah dipaksa menikah pada usia Dini. Tetapi namanya cinta kasih tidak ada sekolahnya.
Ibu saya tidak kenal apa itu Afternoon tea, apalagi Puteri Anne yang mempelopori budaya minum teh dari Inggris tersebut. Bahkan ibu sama sekali tidak tahu apa itu teh hitam, teh hijau, Oolong, dsb. Bagi beliau teh hanya teh wangi melati. Teh harus diseduh dengan air mendidih, dan dijaga kehangatannya. Dapat dikatakan ibulah tea host di rumah kami, dan tamu-tamunya adalah suami dan anak-anaknya. Tradisi minum teh telah dimulai dari pagi hari, dan diulang lagi  pada sore harinya.
Saya ingat betul setiap hari ibu selalu bangun pagi buta. Setelah selesai sholat subuh, ibu langsung ‘nggodhog wedang’. Ini sebenarnya sebuah bahasa yang hyperbolic. Nggodok artinya masak. Sedangkan wedang berarti air minum yang sudah dimasak. Wedang teh, wedang jahe, wedang ronde, semua adalah air yang sudah siap dan layak diminum. Jadi kalau diterjemahkan, nggodhog wedang adalah memasak air minum yang sudah dimasak. Wah, mbulet banget.
Tempat menyeduh teh disebut porong, yaitu sebuah teko yang terbuat dari semacam campuran besi dan aluminium. Saya tidak tahu pasti material yang dipakai. Tidak ada ritual atau cara-cara khusus untuk menyeduh teh. Setelah teh selesai diseduh dengan air panas, porong ditutup dengan tutup yang berbentuk bantal. Ya, bentuknya memang mirip sekali dengan bantal karena memakai kapuk yang dibungkus kain. Ibu biasanya membuat sendiri tutup porong tersebut. Tujuannya agar teh yang diseduh tetap awet panas. Tentu saja kami belum kenal dengan apa yang namanya warmer. pun bukan Teapot cover yang dijual di Alibaba.com  Apalagi teapot cover ala TWG atau Marriage Freres, gak pernah kebayang.



 Teh yang sering digunakan ibu adalah teh 999 atau teh cap sepeda balap. Kadang-kadang teh gopek. Terkadang ibu juga mencampur beberapa merk teh tersebut.



Setiap bangun pagi, di meja makan pasti sudah tersedia gelas teh yang masing-masing gelas memiliki warna tutup yang berbeda. “Le, iki wedange le”, begitu sapa ibu setiap membangunkan saya. Biasanya ibu akan menunjukkan gelas mana yang punya saya, dan gelas mana yang punya bapak atau kakak. Sebagai teman minum pasti sudah tersedia tempe goreng dan beberapa cabe rawit. Karena kebetulan tetangga sebelah rumah yang memproduksi tempe tersebut, ibu selalu pesan tempe yang belum jadi. Yaitu tempe yang belum sempurna proses peragiannya sehingga butiran kedelai masih tampak nyata. Selain tempe yang selalu tersedia adalah kerupuk pasar yang berwarna merah muda atau kuning. Terkadang tersedia juga karak, yaitu kerupuk dari gendar. Kerupuk memang tidak pernah hilang dalam kuliner keluarga saya. Bahkan tukang kerupuk sempat meminjamkan blek atau kaleng kerupuk yang berbentuk kotak dari seng dengan tutup bulat macam topi, dan satu sisi memiliki kaca tembus pandang. Karak disimpan dalam lodhong atau toples kaca berbentuk silider dan bertup bulat . Gurih tempe, dipadu pedas rawit, disusul kriuk kerupuk kemudian digelontor teh melati manis. Hmm…nikmat sekali.
Itu baru menu pembukaan makan pagi. Setelah itu biasanya tersaji pondoh pecel, yaitu semacam gendar tetapi digunakan santan sebagai pengganti bleng. Selain itu juga tersedia pecel bongko yang terbuat dari kedelai. Itu baru appetizer semacam salad. Main coursenya adalah nasi putih dengan lauk tumis kulit melinjo dan tentu saja tempe goreng dan kerupuk.
Ritual minum teh tersebut akan berulang lagi pada sore harinya dan yang pasti tidak ketinggalan sebagai teman adalah tempe goreng dan kerupuk. Ritual minum teh sore biasanya dilanjutkan dengan mengobrol ringan di meja makan sampai tiba waktu magrib. Selesai Sholat, kami kembali ke meja makan untuk makan malam.
Hingga kini, setiap kami pulang kampung, dalam kerentaannya, dengan tertatih-tatih ibu masih saja menyediakan teh buat anak-anaknya. Padahal kami sudah besar semua. Punya anak dan istri masing-masing. Bahkan ibu sudah punya buyut, tetapi ibu tetap merasa itu adalah sebuah kewajiban dalam menunjukkan cinta kasihnya terhadap keluarga. Beliau merasa bahwa jabatan sebagai host dalam tradisi minum teh keluarga tidak tergantikan. Teh untuk cinta


Friday, 22 November 2013

Depok Green festival: Teh dan rokok


“Teh ini, khasiatnya apa?”
Pertanyaan itu selalu terlontar baik itu pelanggan kedai teh saya, pembaca blog saya, juga para pengunjung yang mengunjungi stand Pecinta teh di acara Depok Green festival.
Ya tepatnya tanggal 10 November 2013 lalu, atas jasa mas Eko Nugroho, kita diundang berpartisipasi untuk turut meramaikan acara tersebut. Saya salut sekali dengan semangat gotong royong keluarga komunitas pecinta teh. Setelah diskus digroup whatsup, akhirnya kami sepakat menunjuk pak Filtrady sebagai koodinator acara tersebut. 

Beberapa member membawa peralatannya dengan suka rela. Memes membawa dua container air dan satu water heather. Ada yang membawa kompor gas, pemanas air, koleksi teh. Bahkan pak Fit membawa meja dan kursi lipat sendiri. Luar biasa.
Ya, kami datang untuk berbagi dan mengedukasi masyarakat yang banyak salah kaprah mengenai teh. Ya seperti pertanyaan diatas, menganggap teh sebagai obat, khasiatnya,  ada tidak teh yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, belum lagi cara seduh, dsb.

Padahal faktanya, minum teh mesti dibarengi dengan culture teh yang baik. Artinya minum teh bukannya untuk sebagai minuman sakti yang membebaskan kita makan apa saja dan melakukan apa saja yang sebenarnya tidak baik buat kesehatan. Seperti mengkonsumsi lemak berlebihan, merokok, dan sebagainya.

Bicara soal rokok, jujur memang saya paling bersemangat untuk mengajak orang lain untuk berhenti, atau yang tidak merokok tidak toleran terhadap para perokok yang menyebarkan asap rokok disembarang tempat.

Seperti cerita awal saya berangkat menuju Depok green festival. Jujur, Depok bagi saya kota yang paling ribet dikunjungi  kecuali dengan kereta. Dari pintu toll jauh, lewat non toll jauh dan macet. Jadi keretalah pilihan utama. 

Pagi itu saya berangkat dengan kereta jam 8 pagi, dan seperti  biasa selalu tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya saya berdiri di dekat pintu sambungan gerbong.  Tidak berapa lama kereta berjalan, hidung  saya yang lumayan sensitif mengendus bau asap rokok. Wah siapa yang nekad merokok dalam gerbong ber AC ini, kata saya dalam hati. Longok ke depan, ke belakang, gak ada yang kelihatan merokok. Hmm.. jangan-jangan hidung saya yang salah nih...

Saya pastikan lagi baunya, dan yang paling kuat dari sela pintu. Saya longok ke sambungan antar gerbong, walah ternyata disitu manusianya. Saya langsung buka pintu, dan berkata dengan sopan:
“Punten mang, rokoknya dimatikan dulu ya” Dan karena penumpang lain mendengar serentak mereka turut menegur. “Iya pak, bau asapnya mengganggu ni”. Well, awal yang bagus ketika orang banyak sudah perduli dan saling mengingatkan.

Okay, cerita rokok saya tinggalkan sebentar, dan nanti diakhir cerita ada lagi cerita soal rokok.
Saya tiba di lokasi, Julian salah satu Momod yang paling rajin, sudah menunggu, sementara beberapa peralatan sudah teronggok di atas meja dimana mas Eko sudah menyiapkan (termasuk peralatan Memez), dari pagi. Berdua dengan Julian, mulai menata stand, dan tidak lama kemudian beberapa teman seperti pak Anton, Se thjie,Bu Brenda dan Ferly berdatangan.

Jam 9.40, kami mendapatkan kesempatan naik panggung untuk memperkenalkan komunitas pecinta teh kepada masyakarat depok. Ditemani Julian dan Bu Brenda, saya membagi-bagikan teh dingin, dimana sebelumnya saya ajukan beberapa pertanyaan. Tujuannya untuk menguji seberapa jauh pengetahuan audience terhadap teh. Ternyata lumayan juga, mereka bisa menyebutkan aneka macam teh diIndonesia, termasuk teh putih. Ada yang sudah pernah mencobanya, walapun belum dapat menjelaskan ketika ditanya apa itu teh putih. Tentu saja, dipanggung kamu tidak sempat memberikan edukasi mengenai teh. Kami mengarahkan mereka untuk datang ke booth pecinta teh, untuk menanyakan lebih dalam pelbagai hal tentang teh.






Di booth  teman-teman sudah menyiapkan Red tea dan Oolong tea untuk dicicipi para pengunjung.
Saya menyeduhkan teh racikan saya, mint green tea, dan Umar mendemokan membuat sparkling Arabian Red tea J Respon pengunjung cukup bagus, tapi kebanyakan pertanyaannya sama:”Khasiatnya apa?”

Dan saya tidak bosan-bosannya menjelaskan (termasuk dalam tulisan ini), bahwa teh bukanlah obat. Kalau teh itu ada manfaatnya secara ilmiah berdasarkan penelitian benar adanya. Tetapi ada beberapa dilakukan percobaan invivo, beberapa dengan hewan percobaan, sementara efek terhadap manusia beberapa bersifat kasuistis dan personal. Jadi dimanapun itu, di Facebook, twitter atau dimanapun, kalau ada komentar yang mempromosikan teh tertentu atas khasiatnya , pasti saya usilin.

Saya masih teringat, ketika acara Solo Festival, saya sempat berkomentar atas presentasi  Profesor Gerard, seorang peneliti dari Oxford University.
Dia bercerita bahwa, mereka sekeluarga memiliki hobi sama, minum teh. Diantara mereka sekeluarga hanya Profesor Gerard saja yang tidak mengalami masalah dengan jantung, sedangkan keluarga lainnya semua bermasalah.
“Yang membedakan adalah gaya hidup kami berbeda”, kata Prof Gerard. “Saya tidak pernah makan Junkfood, tidak merokok dan rajin olah raga”
Kalau begitu apa gunanya teh? Artinya tidak usah minum teh, kalau gaya hidup kita sehat pasti sehat juga donk.  Tentu saja.
Jadi minum teh bukanlah jaminan, bahwa hidup kita akan sehat, selama tidak ada keseimbangan dalam gaya hidup kita.

Jujur, saya bukanlah orang yang sehat. Kolesterol tinggi, darah tinggi, gula tinggi, asam urat tinggi. Pokoknya kalau mau adu sombong penyakit ayo J Walaupun saya minum teh 1-2 liter perhari? Saya tidak merokok  (tepatnya sudah berhenti merokok 20 tahun lebih) dan saya jarang mengkonsumsi gula.

Ketika saya analisa pola hidup saya memang ternyata ada yang salah. Saya penyuka gorengan. Mau tahu, tempe goreng berapapun pasti akan disikat habis. Bahkan dari kecil saya hanya doyan lauk yang digoreng, dibanding kalau direbus atau dimasak cara lain.
Gorengan menyebabkan kolesterol tinggi, yang menyebabkan penyumbatan arteri. Dan ini bisa menjadi penyebab darah tinggi, begitu kira-kira kesimpulannya.
“You don’t only became tea drinker, but you should floow good tea culture”, begitu advis Prof Gerard kepada saya.

Jadi apa yang selalu saya sharing adalah teh itu sebagai reminder untuk kita selalu berbuat baik, termasuk baik kepada diri sendiri.  Karena minum teh bukan sekedar tehnya atau khasiatnya lebih dari itu memiliki nilai filosofi yang tinggi.

Kalau kita mengambil falsafah Chanoyu, upacara minum teh jepang, yang mengedepankan Wa, artinya harmoni atau kesalarasan.  Berarti itu adalah dasar itu dalam melakukan perilaku kehidupan yang baik, entah kepada orang lain atau diri sendiri. Artinya janganlah menyakiti diri sendiri dengan makanan-makanan yang tidak sehat, atau (sudah pasti)merokok.

Seperti yang saya janjikan diawal, saya akan menceritakan lagi soal rokok.
Jadi karena suatu hal saya pamit duluan kepada teman-teman, dan naik ojeg menuju statiun depok.
Begitu motor berjalan, saya merasa tidak nyaman udaranya. Dengan sopan, saya minta tukang ojek mematikan rokoknya dulu, dengan alasan saya alergi terhadap rokok.

“Maaf ya pak”,  kata saya
“Saya yang mestinya minta maaf, karena mestinya dari tadi sudah saya matikan. Tadi juga ditegor polisi, katanya jangan merokok sambil naik motor”
Wah baru tahu kalau ada polisi sedemikian perduli terhadap rokok juga.
“Saya dulu juga perokok pak, tapi sudah tobat”, jelas saya. “Tapi karena berhenti saya malah jadi sensitif banget. Kena asapnya sebentar saya langsung radang tenggorokokan”
“Wah gitu ya pak. Saya sebenarnya juga pingin berhenti, tapi belum bisa, Gimana caranya pak”
“Tergantung niat pak. Kalau bapak yakin rokok dapat membuat bapak dan orang lain sakit, bapak akan merasa rugi kalau merokok. Insya Allah itu dapat membantu”
“Pingin pak, tapi masih susah”
“Baik, bapak muslim khan?”, tanya saya dengan yakin
“Iya pak”
“Nah dalam muslim ada 2 pendapat mengenai rokok. Pertama Makruh, kedua haram. Bapak boleh menggunakan mana yang bapak yakini”
“Maksudnya?”
“Kalau bapak yakin Makruh,  artinya bapak jangan merokok disembarang tempat, apalagi di dalam rumah, di depan anak-anak. Karena Makruh, walau tidak berdosa melakukannya tapi itu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah. Jadi kalau mau menyenangkan Allah sebaiknya ditinggalkan. Kalau belum bisa paling tidak bapak tidak merokok di depan anak-anak, karena itu menjadi contoh yang tidak baik. Bila perlu kalau pingin merokok ngumpet (walau pasti Allah juga akan melihat)”
“Kalau begitu mending haram sekalian ya pak”
“Itu terserah bapak bagaimana mengimaninya. Insya Allah pak, berhasil”
“Makasih ya pak, sudah mendapat pencerahan”
“Sama-sama pak. Insya Allah ya pak, bisa berhenti total”

Alhamdulillah, sebenarnya kalau kita dapat mengingatkan dengan sopan, para perokok dapat menerimanya. Jadi memang diperlukan peran aktif non perokok dan bahkan para perokok (yang sudah sadar tentunya) agar orang tidak merokok di sembarang tempat.
Saya selalu teringat setiap diskusi mengenai hal ini, para perokok kebanyakan mengatakan demikian:
“Iya saya tahu itu. Saya sendiri, juga tidak pernah merokok di tempat umum atau dalam rumah”
Alhamdulillah kalau banyak yang sudah sadar seperti ini. Lebih bagus lagi kalau turut mengingatkan orang lain dengan mengatakan”
“Maaf mas, saya juga merokok, tapi tidak pernah ditempat umum begini. Karena memang mengganggu. Saya sebagai perokokpun juga terganggu kalau ruang sesak begini dipenuhi asap rokok. Matikan dulu ya, ntar kita cari tempat khusus perokok dan bisa merokok bareng”
Keren khan kalau bisa begitu J

Jadi intinya yang saya share dalam acara tersebut adalah,  khasiat teh bukanlah tujuan utama. Dan khasiat teh, selalu berbanding lurus dengan kualitas teh. Demikian juga dengan rasa teh. Jadi kalau kita mengutamakan rasa teh, karena didapatkan dari teh-teh kuaitas tinggi, khasiat insya Allah akan mengikuti Dan karena teh adalah symbol kebaikan, jadikan dia reminder agar kita selalu berbuat baik, entah kepada orang lain atau diri sendiri.  Jadi berhentilah menyakiti diri sendiri dan tentu saja orang lain (karena efek asap rokok),





Friday, 23 November 2012

THE MAGIC OF SOUND


(Catatan dari Solo Tea festival)

Pernah liat permainan mentalis? Permainan itu sering dimainkan di televisi kita, salah satuny aadalah dimana seorang peserta menuliskan sesuatu, dan si host dengan mata tertutup dapat menebak apa yang ditulis oleh peserta.

Semula saya pikir, permainan itu adalah seperti sulap, pernah akal dan trick plus tipu-tipu. Tetapi ternyata setelah melihat permainan Jeniffer Aiko, salah seorang peserta Teh master, baru tahu, kalau menebak tulisan itu lewat pendengaran.
Pada waktu itu, dengan mata tertutup, dia sedang menebak salah seorang peserta yang menuliskan namanya. Dan ternyata tebakannya tidak benar. Karena peserta menuliskan nama Genta, Jennifer menebak Denta.

Ternyata, Jeniffer melatih pendengarannya untuk dapat membedakan suara huruf yang sedang ditulis. Celakanya, kebetulan si peserta menulis huruf Gnya agak aneh, tidak seperti huruf G pada umumnya. Huruf G ditulis langsung mirip hurup C, hanya ditambah garis lurus kedalam langsung.

Lalu apa hubungannya dengan teh?


Ternyata suara air yang menggelegak dapat digunakan untuk memperkirakan suhu air yang sedang dimasak tersebut. Ini seperti yang diajarkan oleh Camelia Siow, pemilik dari Purple Cane.

Sudah lama saya mendengar tentang Purple ini, sebuah tea house yang cukup terkenal di Malaysia. Purple Cane berdiri sejak tahun 1987. Sudah lama saya mendengar mengenai Purple Cane ini, dan siapa sangka saya dapat belajar langsung dengan empunya.





Pada waktu itu, seusai acara penutupan Solo International Tea Festival di Omah Sinten, Saya dan beberapa teman dari pecinta teh masih ngobrol di Pendopo omah Sinten.
Kami sedang menantikan Camelia Siow dan Mr. Lee yang sedang mempersiapkan peralatan untuk night tea time. Beberapa teman sudah balik ke hotel, dengan alasan kalau minum teh malam-malam takut susah tidur. Walah, pecinta teh kok takut susah tidur karena teh J

Camelia Siow minta dicarikan kain batik, sedangkan Mr. Lee minta disiapkan daun pisang. Semula saya tidak mengerti  untuk apa semua itu.




“If you come to another place and make some presentation or anything that can be shown, you should take local interest”, demikian penjelasan Hoya. Hmm.. cukup menarik.

Ternyata Camelia menggunakan kain batik sebagai alas untuk peralatan Gong Fu cha, sedangkan mr. Lee menggunakan alas daun pisang. Very Inspiring.

Kami menggunakan meja panjang, dimana Camelia dan Mr. Lee duduk di masing-msing ujung meja. Saya, Vic, Umar, Oza, Sethjie, Ip Wing Chi dan Hoya satu meja bersama Camelia, sedangan Mr. Lee dikelilingi oleh pecinta teh dari Solo.

Seduhan pertama adalah Liu Bao. Saat itulah Camelia mengajari saya bagaimana to hear the sound.


 “If water is at boiling point, there’s no sound but half-boiled water will make lots of noise,” Demikian penjelasan Camellia Siow.

Sebelumnya saya hanya bisa menebak suhu air dengan melihat besaran gelembung udara yang dihasilkan ketika air mulai menggelegak menuju titik didih.

Ternyata untuk beberapa ketel, besaran gelembung udara tidaklah selalu dapat mereprentasikan suhu. Ketika menggunakan ketel kuningan masih terdapat gelembung udara, tetapi ketika menggunan Tetsubin gelembung udaranya sangat sedikit.

Dengan suara, kita dapat memperkirakan air bersuhu 75 derajat. Suara air yang akan mendesis seperti wind blowing through pine leaves, angin berdesir diantara daun-daun pinus.
Suara mendesis seperti spring water spurting out of the stone,  mata air memancar dari bebatuan,   kira-kira suhunya sekitar  be 85˚C

Sedangkan bila suara air mendesis lebih keras seperti waves crashing on the shore,  ombak memecah lautan, itu suhunya sudah lebih dari 90 Derajat.

Tentunya butuh latihan dan jam terbang tinggi untuk dapat menggunakan cara ini.

Dalam kesempatan itu, Camelia juga mengajarkan saya menyeduh puerh dengan benar.

“You should arrange the speed of tea pouring”, kata dia.

Kalau menunggu hitungan hingga 30 detik, Puerh akan overbrew, Tetapi cara yang benar sambil dituang, dan memperhatikan warna dari seduhan. Ketika masih agak bening, atur keluar air dari corong perlahan-lahan, tetapi ketika sudah mulai menghitam segera tuang sisa teh dari dalam teko.

. Aroma Dancong langsung familiar di indera penciuman saya, ketika Camelia menyeduh teh kedua.
“Is it Dancong?”, saya menegaskan.
“You are correct”

After taste mirip buah lychee yang manis, membuat teh ini begitu istimewa.

Seduhan berikutnya, saya cukup mengenalnya juga. Lap Sang Sou chong.
“Lap Sang Sou Chong?” Saya menebak lagi.
“Correct again”

Lap sang Sou Chong memiliki aroma yang khas. Beberapa orang mengatakan seperti pernis. Tetapi keunikan taste dan aroma membuat banyak orang menyukai teh ini termasuk saya.

Demikianlah, malam itu kami lewati penuh dengan ilmu dan kebahagian menghirup aroma teh dan menikmatinya bersama para master.
Dan beruntung saya mendapat kenang-kenangan satu can Dong Ding, dari Camelia. Begitu juga teman-teman lain, mendapat teh masing-masing. Sungguh malam yang menyenangkan.