Tuesday, 12 May 2009

Sincha

Teh hijau Jepang adalah teh yang unik dan memiliki rasa dan aroma yang unik pula. Negara Jepang merupakan negara kepulauan yang tentu saja dikelilingi oleh lautan. Kondisi geographis inilah yang mempengaruhi cita rasa teh hijau jepang yang memiliki aroma rumput laut, dengan rasa yang sedikit amis. Aroma dan cita rasa ini, juga dipengaruhi oleh masa dimana teh tersebut di panen.

Itu sebabnya, pengelompokan kualitas teh hijau Jepang, selain dari ukuran daun juga ditentukan oleh waktu panen. Pengelompokan lain, juga dibedakan apakah sebelum dipanen, pohon teh tersebut diberi naungan penuh atau tidak.

Sencha adalah teh hijau jepang yang paling dikenal. Bentuknya yang lurus, seperti jarum kecil-kecil, dengan warna hijau Jamrud.

Sencha yang di panen pertama (sekitar bulan April), dinamakan Sincha. Ini merupakan teh sencha kualitas terbagus, walaupun juga masih terbagi lagi dengan utuh tidaknya daun. Makin utuh daun, makin bagus kualitasnya. Kalau makin banyak bubuknya, berarti bukan kualitas terbagus. Bubuk ini selain memberi warna seduhan lebih gelap, juga menyebabkan rasa teh lebih pahit.

Belum lama ini saya mendapat kiriman Sincha dari ibu Lim Kim Soan, sahabat saya dari Milist Pecinta Teh . Beliau memang tinggal di Jepang, sehingga acap kali kalau ada teman beliau yang datang ke Indonesia, beliau sering titip sesuatu untuk saya. Saya juga mendapatkan kiriman buku tentang teh. Tampaknya buku ini cukup lengkap dengan photo-photo yang sangat bagus. Sayangnya saya tidak dapat membacanya, karena hurufnya kanji semua.

Sincha, harus disimpan di dalam refrigerator, kalau tidak aromanya akan cepat hilang. Agar supaya tidak terpengaruh oleh aroma lain yang ada di dalam refrigerator, sebaiknya Sincha tetap di dalam bungkus aluminium foilnya, lalu dimasukkan lagi ke dalam wadah plastic. Lebih bagus lagi wadah tersebut wadah yang kedap udara.

Karena panenan pertama, aroma Sincha lebih kuat, dan warna daun tehnya juga berwarna jamrud. Saya biasanya menggunakan takaran 1 sendok teh, untuk air volume air sekitar 200 cc. Seduhan pertama 2 menit, seduhan kedua empat menit. Biasanya memang hanya 2 kali seduh, karena seduhan ketiga aroma dan rasanya sudah berkurang cukup banyak.

Sincha rasa cukup lembut, dengan aroma sea weed lebih halus. Sekalipun ada hint rasa pahit, tetapi after tastenya cukup manis.

Ampas Sincha, juga sangat lembut. Kalau dalam tulisan sebelumnya saya mencoba membuat peyek dari ampah Sencha, sekarang saya coba makan begitu saja ampas sinchanya. Sedikit mirip rasa bayam, dengan sisa aroam rumput laut. Rasa pahit juga sudah mulai menghilang (mungkin karena sudah diseduh 2 kali). Daunnya begitu muda dan lembut. Bahkan tangkai daunnya juga cukup lembut.

Kalau istri saya memiliki cara lain memanfaatkan ampas daun Sincha. Dengan dicampur sedikit telor, jadilah masker yang menurut beberapa penelitian, kandungan Cathecinnya memiliki manfaat anti oxidant yang cukup tinggi.

Jadi minum Sincha, bukan sekedar minum air seduhannya, tetapi juga sekaligus dapat dimakan daunnya, atau digunakan sebagai masker. Mudah-mudahan semua cathecin, baik yang sudah terektrak di air dan tersisa di ampas, masih cukup bermanfaat buat tubuh. Sebenarnnya kandungan cathecin teh hijau jepang, tidak setinggi kandungan cathecin teh hijau Indonesia, tetapi walaupun begitu, saya belum memiliki keberanian untu mencoba makan ampas daun teh hijau Indonesia.

Wednesday, 6 May 2009

Rempeyek teh

Teh adalah minuman nomor dua di dunia setelah air putih. Di beberapa negara, teh bukan hanya sekedar minuman, tetapi juga dimakan. Dalam tulisan saya tentang teh Myanmar , pernah saya ceritakan bahwa di negara tersebut teh dibuat semacam asinan dan dibuat kudapan sambil menonton televisi.

Jepang merupakan jagonya teh hijau. Di negara ini, ditemukan sistem penghentian proses oksidasi dengan cara steam, sebagai pengganti cara pan frying seperti yang dilakukan di china. Dengan cara ini, selain menjaga kandungan cathecin tidak banyak terbuang dalam proses produksi, juga membuat warna daun teh menjadi lebih segar dan lebih hijau.

Dalam gambar, dapat anda lihat untuk teh Sencha, warna ampas tehnya lebih hijau dan segar. Sedangkan teh hijau Indonesia dan China, yang menggunakan sistem pan frying, ampasnya berwarna coklat.

Khusus untuk teh Jepang kualitas tertentu, ampas daun teh hasil seduhan, selain dapat digunakan sebagai bahan perawatan kecantikan (untuk masker misalnya), juga dapat dapat dimakan.


Kalau anda memiliki Sencha kualitas Fine,. Untuk daun teh Sencha kualitas tinggi, digunakan daun teh yang sangat muda coba anda kunyah ampas daun tehnya. Karena daun teh yang digunakan sangat muda, ketika dikunyah terasa lembut dan tidak pahit.. Nah, anda juga dapat mencoba membuatnya menjadi makanan.


Kebetulan sekali Istri saya sedang membuat risole, yang menggunakan bahan tepung terigu, mentega dan telur. Untuk percobaan, saya ambil sebagian adonan tadi, dan saya campur dengan ampas teh Sencha, lalu digoreng.

Hasilnya mirip dengan rempeyek teh. Tetapi, karena adonan tersebut dominan rasa telur dan menteganya, rasa tehnya memang kurang begitu terasa. Kemungkinan lain, karena teh tersebut sudah diseduh 3 kali, sehingga sudah banyak berkurang aroma dan rasanya.


Anda dapat saja berkreasi dengan mencampur ampas teh dengan bahan makanan lain, sebagai campuran pecel, asinan atau gado-gado misalnya?

Paling tidak, kita masih mendapatkan sisa-sisa cathecin yang mungkin masih terkandung di dalam ampas teh tersebut. Hanya yang perlu diperhatikan hanya daun teh yang benar-benar muda yang enak untuk dijadikan bahan makanan.

Thursday, 26 March 2009

Teh Cap Botol Premium

Kalau anda dilahirkan dan dibesarkan di Jawa, tentunya sudah tidak asing lagi dengan teh wangi. Ada berbagai merek yang masing-masing memiliki penggemar fanatik. Ada merek-merek yang menguasai pasar regional seperti Dandang, Nyapu, Balap, Sintren. Beberapa merek lain yang cukup dikenal di perkotaan adalah Cap Botol, Tong Tji dan 2 Tang dan Gopek.


Saya pernah mereview khusus ke empat merk terakhir. Walau kesimpulan terakhir saya lebih memilih cap Botol, tetap saja saya merasa belum puas karena tangkai dan batang teh cukup mengusik dan mengganggu.


Saya sempat bermimpi, apa mungkin kalau saya pesan kualitas premium, dimana saya mendapatkan daun-daun utuh tanpa batang.

Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk bermimpi, karena beruntung sekali saya dapat berkenalan dengan pak Budi HS, marketing manager dari Gunung Slamat, sebuah perusahaan teh yang memproduksi teh cap Botol dan Poci. Beliau mengundang saya untuk melakukan tea tasting di kantornya.

“Kami masih pasarkan di supermarket kecil, macam Naga dan Gelael pak”, demikian penjelasan pak Budi. “Untuk pasaran lokal memang kurang disukai, karena teh ini tidak bisa nasgithel seperti halnya cap Botol warna hijau atau biru. Teh inilah yang digunakan untuk membuat teh botol Sosro”.


Disini terjawab dengan jelas, bahwa kalau selama ini orang banyak menduga teh botol Sosro adalah teh hitam adalah salah besar. Penjelasan pak Budi juga menjawab beberapa persepsi yang keliru yang mengatakan bahwa teh wangi adalah teh hitam.


Menurut pak Budi, bahan dasar yang dipakai untuk membuat teh wangi adalah teh hijau. Khusus untuk kualitas premium, digunakan grade Pekoe Super.


Dalam situs Sosro, dijelaskan bahwa untuk teh hijau mereka ada tiga macam sortiran, yaitu Peko, Jikeng (daun tua), Kempring (remukan daun) dan tulang. Sedangkan untuk teh hijau kualitas tinggi, seperti teh cap pucuk sari misalnya, kualitas Peco dibagi lagi menjadi beberapa grade, yaitu Gun Powder, Pekoe Super dan Pekoe. Dibawah itu adalah grade Fanning dan Dust, yang biasanya digunakan untuk bahan teh celup.


Proses pewangian teh adalah dengan cara terlebih dahulu melembabkan teh hijau (yang sebenarnya telah dikeringkan). Tujuan proses pelembaban ini adalah agar supaya teh dapat menyerap aroma melati yang akan dicampurkan. Yang perlu diketahui adalah, bunga melati hanya diambil aromanya saja. Setelah dibiarkan semalaman, bunga melati tersebut akan diblow up dan terpisah dari teh daun tehnya.


Kalau ada yang tercampur di dalam teh, kalau tidak “katutan” mungkin sebagai hiasan untuk menandai bahwa teh tersebut beraroma melati.


Bunga melati yang digunakan juga bukan bunga melati sembarangan. Bunga yang dipakai adalah bunga yang siap mekar. Menurut pak Budi ada jenis macam bunga melati yang dipakai, yaitu Bunga Melati (jasminum sambac) yang diambil dari daerah pantura (pemalang, pekalongan) dan bunga melati gambir (jasminum Officinale) diambil dari daerah pegunungan di dekat Slawi. Bunga ini harus diambil dalam keadaan segar, sebab kalau tidak bisa-bisa aromanya sudah menghilang ketika mau digunakan. Itu sebabnya, kenapa pabrik teh wangi selalu berada di daerah pantura seperti tegal, slawi, pekalongan dikarenakan lebih mendekatkan kepada sumber bunga melatinya.


Penambahan bunga melati juga bukannya tanpa alasan. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pohon teh yang di tanam di Indonesia adalah varians dari Assamica. Varians ini ditanam dan disebar luaskan d Indonesia, karena kebetulan Belanda yang pada waktu itu membudidayakan teh di Indonesia, ingin menjual tehnya di pasar Eropa, yang kebetulan lebih suka teh hitam varians Assamica.


Teh varians Assamica, ketika dibuat menjadi teh hijau, aroma dan rasanya kurang enak. Kalau dalam bahasa Jawa disebut sebagai langu. Untuk mengatasi rasa enak tersebut, maka dicampurlah dengan melati. Selain itu, sebenarnya teh hijau Assamica juga terlalu sepat. Itu sebabnya teh wangi melati, kalau diseduhnya pekat, lebih enak diminum dengan gula.


Inilah keunikan teh hijau wangi melati. Sekalipun teh hijau treatment yang dilakukan mirip teh hitam. Selain diseduh dengan air mendidih (sekitar 100ºC), juga diminum dengan gula. Teh wangi melati inilah yang digunakan untuk menyeduh teh ala teh poci, yang menjadi tradisi di Tegal dan sekitarnya.


Dalam photo dibawah, saya lampirkan photo teh cap botol dan cap botol premium. Tampak jelas dari daun teh kering cap Botol, tampak besar-besar (Jikeng?), dengan ranting yang besar pula, Selain itu tampak juga serpihan warna putih, bunga melati. Sedangkan photo cap Botol premium, gulungan daun terlihat lebih kecil. Tangkai daun masih terlihat juga, dengan ukuran lebih kecil. Sama sekali tidak tampak serpihan bunga melati. Aroma melatinya tidak terlalu tajam.. Daunya masih berwarna hijau tua, dan ukurannya masih cenderung utuh, sekalipun masih tercampur tangkai daun kecil-kecil.


Khusus teh hijau cap botol Premium, aroma melatinya tidak terlalu tajam. Kalau dilihat dari daun teh keringnya, sama sekali tidak tampak serpihan bunga melati di dalamnya. Daunya masih berwarna hijau tua, dan ukurannya masih cenderung utuh, sekalipun masih tercampur tangkai daun kecil-kecil. Seduhan yang disarankan adalah satu sendok makan teh, untuk ukuran 300 ml air, dengan lama seduh 3-5 menit. Ampas bekas seduhan terlihat daun hijau segar dan cenderung utuh.


Bagi penggemar teh wangi, teh cap Botol premium merupakan teh wangi kualitas tertinggi diantara teh wangi dipasaran yang ada.


Mungkin teman-teman pernah beberapa kali mencoba membuat es teh manis, tetapi kok tidak mendapatkan rasa yang mendekati rasa teh botol Sosro (baca tea tasting di Gunung slamat). Karena merupakan bahan yang sama yang digunakan untuk proses produksi teh botol, seduhan teh ini sangat terasa teh botol Sosro sekali.


Beberapa teman dan keluarga saya langsung jatuh cinta ketika mencoba teh ini. Sama halnya dengan beberapa teh kualitas tinggi lainnya, pertanyaan yang susah dijawab adalah ketika mereka menanyakan, “Dapat dibeli dimana?”

Sunday, 15 February 2009

Dayuling Oolong tea

Regina dan Halomoan adalah pasangan suami istri pecinta teh, yang terkadang saya anggap lebih maniak dibanding saya. Berbagai macam teh dan peralatannya mereka borong dari pelbagai tempat.

Baru-baru ini Halomoan memesan teh Oolong Dayuling dari http://www.teafromtaiwan.com/, atas rekomendasi dari mbak Ratna Soemantri, kolega saya di milist Pecinta teh. Sungguh beruntung saya mendapatkan kesempatan untuk mencicipinya. Terima kasih ya.

Dayuling adalah teh Oolong yang ditanam di pegunungan Li Shan, Taiwan, dengan ketinggian Elevasi mencapai 2400 meter. Teh ini merupakan teh semi fermented yang mendekati teh hijau. Artinya fermentasi dilakukan tidak terlalu lama, sehingga warna daun teh keringnya masih berwarna hijau Jamrud.

Saya coba seduh dengan seduhan ala Gong Fu cha, dan sekalian mencoba Gaiwan set saya.

Dari daun teh kering saya cium aroma flowerynya cukup menonjol, khas teh-teh Taiwan. Pertama-tama saya lakukan warming pada Gaiwan dan cangkir. Air panas yang saya gunakan 90 ºC. Teh saya tuang hingga semua permukaan Gaiwan tertutup dengan teh. Kemudian tuang air panas, diamkan 1-2 detik, lalu airnya dibuang. Proses ini adalah proses pembersihan teh.

Kemudian baru dituang air panas lagi untuk menyeduhnya. Seduhan pertama saya lakukan dalam waktu 60 detik. Pada seduhan pertama, duan teh belum terlalu mengembang, karena baru sebentar tetapi warna dan aroma sudah keluar. Warnanya kuning kehijauan, cantik sekali. Aroma flowery masih menonjol, walau tidak seharum Ti Kuan Yin. Rasanya manis dan mellow, seperti rasa buah muda yang ranum. Menurut referensi, teh ini bisa diseduh berulangkali bahkan hingga sepuluh kali. Seduhan kedua, saya tambahkan 15 detik, yaitu 75 detik. Demikian pula seduhan berikutnya, saya tambakan 15 detik dari waktu seduhan kedua, dan seterusnya. Dan hingga seduhan kesepuluh rasa manis masih cukup terasa, warna masih bagus, walupun aroma sudah banyak berkurang. Saya mampu minum hingga seduhan ke sepuluh, karena kebetulan Gaiwan saya ukurannya cukup kecil, yaitu kurang dari 100 ml.

Tuesday, 18 November 2008

The Way of Tea (3)

Sensei

Kelas Chanoyu di Japan Foundation adalah hasil kerja sama dengan Urasenke, salah satu aliran Chanoyu yang cukup terkenal di Jepang, yang memiliki cabang di beberapa negara.

Cabang urasenke di Indonesia bernama Urasenke Tankokai Indonesia Association (UTIA). Founder adalah ibu Sany Soendoro, sedangkan ketuanya adalah ibu Kumiko Pohan. Ibu Suwarni, pemiliki Siang Ming Tea house berlaku sebagai secretaris UTIA. Merekalah pengajar-pengajar utama kami, disamping pengajar lain seperti Ibu Sitanggang, Uchida San, Sugihara San, dan lain-lain.

Dalam setiap pelajaran, biasanya dibagi menjadi dua group. Saya lebih sering diajar oleh ibu Sanny, Ibu Sitanggang dan Uchida San. Sedangkan group lain diajar oleh Ibu Kumiko Pohan, ibu Suwarni dan pengajar lain secara bergantian.















Beberapa pengajar atau biasa kami memanggilnya sensei memiliki karakter yang berbeda-beda. Ibu Sanny orangnya lembut dan sangat sabar. Ibu Suwarni tegas, tetapi banyak sekali filosophy yang diajarkan oleh beliau. Uchida san, sangat santun dan rendah hati, khas wanita-wanita Jepang.

Tanpa bermaksud mengecilkan peranan sensei yang lainnya, saya memang sangat terkesan dengan Uchida San. Gerakan-gerakan ketika menyiapkan dan menyajikan teh sangat indah seperti halnya seorang penari, dan penuh presisi. Dan yang pailng mengesankan adalah kocokan tehnya. Dari beberapa kali mencoba minum teh, kocokan Uchida Sanlah yang paling lembut dan menawan.





Peralatan yang dibutuhkan dalam Usucha

Secara harafiah, Chanoyu artinya hot water for tea. Dalam pengertian luas, Chanoyu adalah serangkaian upacara untuk mempersiapkan, menyajikan dan minum teh.

Dalam penyajian ini, selain dibutuhkan peralatan khusus, juga keahlian khusus untuk menggunakannya

Dalam chanoyu ada dua macam, yaitu Usucha atau teh encer dan Koicha atau teh kenthal.

Perbedaan utama adalah selain dari jumlah penggunaan teh, dalam Koicha teh disajikan dalam satu chawan dan diminum bersama-sama secara bergantian. Sedangkan dalam Usucha, teh disajikan percawan.

Untuk penyajian Usucha, digunakan dua macam cara, yaitu menggunakan Ketel , dan menggunakan Hishaku (gayung) dan Kama semacam kuali tempat merebus air.























Tata caranya sedikit berbeda. Kami baru mempelajari Usucha dengan menggunakan Ketel..

Beberapa peralatan lain yang wajib digunakan adalah, Chawan (mangkok teh), Chasaku (sendok teh), Natsume (tempat bubuk teh), Matcha (teh hijau bubuk), Chasen (alat pengocok teh), Chakin (linen untuk membersihkan chawan), fukusa (sapu tangan untuk membersihkan peralatan teh), Daisu (nampan) dan Kensui (tempat pembuangan air kotor), dan tentu saja kompor untuk merebus air.

Beberapa peralatanan tambahan lainnya adalah Kobukusa (kain untuk tatakan chawan), Kaishi (semacam tisu), Tatami (tikar), dan masih banyak lagi peralatan lainnya.

Secara garis besar cara penyajian Usucha dengan ketel adalah kita siapkan Chawan, Natsume, Chakin dan Cashaku dalam sebuah nampan. Pertama-tama tuan rumah, dengan fukusa tergantung disamping obinya (semacam stagen untuk mengikat kimono, yang juga berfungsi sebagai ikat pinggang), akan mengantarkan kue untuk dimakan sebelum minum teh.. Setelah itu, Tuan rumah akan kembali ketempat awal sebelum naik tatami untuk mengambil nampan berisi peralatan untuk membuat teh, untuk diletakkan di dekat kompor.

Setelah itu, tuan rumah akan kembali ke belakang untuk mengambil kensui. Setelah itu Tuan rumah mengambil Fukusa, dan mulai membersihkan peralatan mulai dari Natsume dilanjutkan dengan membersihkan chasaku. Setelah itu Tuan rumah akan Chasen dengan air, dan dilanjutkan dengan membersihkan chasen dengan chakin.

Sambil memegang chasaku, tuan rumah akan mempersilahkan tamu untuk makan kuenya.

Setelah itu, tuan rumah akan mengambil Matcha dari natsume kira-kira 2,5 sendok, tuang air panas kemudian di kocok dengan chasen. Mengocok teh kelihatan mudah dan sederhana, tetapi ternyata membutuhkan tehnik khusus untuk dapat menghasilkan hasil kocokan yang halus dan lembut, dan tentu saja tidak mematahkan ujung dari Chasen.

Setelah mengocok sekitar 50 kali atau ketika dirasa hasil kocokannya sudah bagus, Tuan rumah memutar chawan dua kali, agar supaya gambar dalam chawan menghadap kepada tamu.

Kalau ada assisten, tugas asistenlah yang menyajikan teh tersebut kepada tamu. Kalau tidak ada asisten pihak tamu akan mengambil sendiri

Setelah selesai, tamu akan mengembalikan teh kepada tuan rumah, dan mulai dibersihkan.

Sudah barang tentu kesemua tata cara tersebut menggunakan gerakan-gerakan khusus yang khidmat dan terukur. Untuk dapat mengingat urut-urutan gerakan, membutuhkan latihan ektra dan memerlukan waktu yang tidak pendek.Bahkan untuk mencapai kesempurnaan, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk melatihnya.

Sunday, 16 November 2008

The Way of Tea (2)


Pada awalnya, ketertarikan saya dengan Chanoyu hanyalah sebatas ingin ikut dalam Ceremonynya saja. Di dukung oleh minat teman-teman dari milist pecinta teh untuk dapat mengikuti acara ini, salah satunya adalah Frisca Saputra, saya direkomendasikan untuk menghubungi ibu Nurul Japan Foundation

Gayung bersambut. Atas usulan saya, Japan Foundation malah berniat membuka kelas Kursus Chanoyu. Kelas ini untuk umum, dan sudah barang tentunya tempatnya terbatas. Untuk hal itu, karena saya yang mengusulkan, saya mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan informasi lebih awal, tetapi prosedur pendaftaran tetap sama berlaku seperti umum, yaitu kita mesti datang sendiri dengan ketentuan siapa cepat dia dapat.

Benar saja, ketika saya datang 1 jam setelah jam pendaftaran dibuka, saya sudah mendapatkan nomor 10, dari 15 tempat yang tersedia.

Hari pertama pelajaran, kami melihat dulu demo yang dilakukan oleh Uchida San. Dan karena saya duduk di paling depan, saya mendapatkan kehormatan untuk menjadi tamu. Sungguh menyenangkan, tetapi sangat menyakitkan. Betapa tidak, karena sebagai tamu mau gak mau harus duduk secara formal ala Jepang, dan itu membuat kaki bukan hanya pegal dan kesemutan, tetapi benar-benar menjadi mati rasa.


Seiza sitting style

Pelajaran pertama Chanoyu adalah cara menghormat dan cara berjalan.Cara menghormat ada 3 macam, yaitu Sin, Gyo dan So. Masing-masing cara menghormat digunakan sesuai kondisinya. Dari ketika cara menghormat tersebut, Sin merupakan cara penghormatan tertinggi yang paling formal.

Setelah belajar cara menghormat, kami diajari cara berjalan, cara duduk dan cara bangkit dari duduk. Hal terberat, bahkan dari semua pelajaran Chanoyu adalah cara duduk.

Ketika dilakukan upacara minum teh, baik Tuan rumah maupun tamu harus duduk dengan Seiza style. Ini adalah cara duduk paling formal, yang memang digunakan dalam agama zen untuk meditasi. Kita duduk bertumpu pada dua kaki, posisi pantat di atas tumit kaki, dimana telapak kaki kanan diletakkan di atas telapak kaki kiri. Dengan duduk seperti ini, kita lebih mudah mengontrol pikiran dan konsentrasi.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan cara duduk Seiza, cara duduk seperti ini sangat menyakitkan. Kaki bukan hanya kesemutan, tetapi menjadi mati rasa. Ketika mencoba bangkit, kaki amat susah digerakkan dan sakit sekali. Perlu latihan yang inten dan continue untuk dapat duduk dengan cara seiza. Bahkan tidak semua orang Jepang juga mampu duduk Seiza dalam waktu yang lama.

Saya sendiri melakukan latihan duduk seiza dengan cara mengaplikasikannya dalam ibadah agama saya, yaitu sholat, berdoa, membaca quran dan mendengarkan kutbah jumat.Mulai dari tahan 1 menit, 5 menit, ½ jam, hingga akhirnya saya bisa tahan duduk seiza hingga kutbah jumat selesai.Dan satu hal yang saya rasakan manfaat nyata dari duduk seiza ini, yaitu konsentrasi. Kalau biasanya saya duduk bersila, sementara Khotib berkotbah dengan penuh semangat, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kepala saya untuk terkulai ke depan dan terbang ke alam mimpi maya Kesadaran baru tergugah ketika kotib membaca doa, atau bahkan ketika qomat sudah dikumandangkan.
Dengan duduk seiza, konsentrasi lebih terjaga, dan nyatanya saya bisa terjaga hingga kotbah usai.

Semula saya sempat khawatir, cara duduk seiza yang saya aplikasikan dalam ibadah saya ini melanggar aturan dan dikatakan bid’ah. Untuk memastikannya, saya berdiskusi dengan kakak saya, yang nota bene ilmu agamanya sudah cukup tinggi, sehingga dapat saya percaya untuk menjadi tempat bertanya.
Jawaban kakak saya membuat saya terkesima. Ternyata duduk seiza juga ada dalam ajaran agama islam. “Namanya iftiros”, begitu penjelasan kakak saya.
“Bahkan dalam suatu riwayat, diceritakan pada pernah pada waktu Nabi Muhammad menerima wahyu dari Jibril, mereka duduk berhadapan, duduk iftiros dan lutut saling menempel. Duduk iftiros juga dilakukan ketika kita duduk di antara dua sujud ketika sembahyang”, lanjutnya.”Saya sendiri, ketika berdoa juga lebih suka dengan duduk iftiros, daripada bersila. Lebih konsentrasi”

Alhamdulillah. Ternyata aplikasi latihan yang saya lakukan memberikan manfaat, bahkan menyadarkan saya dari beberapa kekeliruan. Seperti duduk di antara dua sujud, biasanya saya lakukan seperti halnya duduk tahiyat awal, padahal seharusnya duduk iftiros.

Photo-photo lengkap klik
Chanoyu Demo & Farewel
dan
Chanoyu: Ujian di Japan Foundation

The Way of Tea (1)


Sejarah Chanoyu

Chado atau the way of tea adalah suatu jalan atau cara memahami upacara minum teh dan segala estetikanya untuk dapat diaplikasikan dalam secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Chado sering juga disebut sebagai Chanoyu.

Chanoyu sendiri, kalau diartikan secara harafiah artinya adalah air panas untuk teh. Tradisi ini berkembang seiring dengan sejarah panjang masuknya teh ke Jepang.

Sejarah perkembangan teh di Jepang tidak bisa dipisahkan dari peranan para biksu Jepang. Para biksu ini, sepulangnya mereka dari belajar agama Budha di China, mereka juga membawa bibit pohon teh berikut juga budayanya yang dikembangkan untuk keperluan meditasi agama zen dengan membawa adat istiadat Jepang.

Salah seorang Biksu yang dikenal sebagai pendiri Zen Budha Jepang adalah Myōan Eisei. Dialah yang telah membawa dan membudiyakan teh di Jepang, sekembalinya dari China pada tahun 1911. Kalau sebelumnya, teh dibudidayakan untuk pengobatan, Eisei membudidayakan untuk upacara keagamaan. Apakah Eisei budi daya teh ini dilakukan oleh Eisei sendiri memang masih menjadi perdebatan. Tetapi tidak diragukan lagi, bahwa Eiseilah yang telah membawa budaya teh bubuk ke Jepang. Dia mengajarkan bagaimana cara menggiling teh menjadi bubuk yang halus,

Pada perkembangan berikutnya Chanoyu menjadi suatu kebiasaan dan kegemaran yang biasa dilakukan para Daimyo di Jepang. Acara minum teh juga menjadi acara tebak-tebakan tempat asal air, yang pada akhirnya berkembang menjadi sarana perjudian. Selain itu Chanoyu juga menjadi ajang pamer kekayaan, karena menggunakan peralatan yang mewah dan mahal yang didatangkan dari China dari dinasti Tang.

Kebiasaan ini ditentang oleh Murata Juko. Menurut dia, acara minum teh tidak boleh ada minuman keras dan perjudian. Acara minum haruslah menjadi ajang pertukaran pengalaman spiritual kedua belah pihak. Acara teh yang diperkenalkan oleh Juko akhirnya berkembang menjadi aliran Wabicha.

Wabi secara literal artinya kesunyian, dan ini disimpulkan dalam sebuah kesederhanaan dan keheningan. Oleh Takeno Shoo dan kemudian diteruskan oleh muridnya Sen No Rikyu, Wabicha makin berkembang dan populer di kalangan samurai. Wabicha berkembang menjadi upacara minum teh yang sederhana, tetapi penuh kekhidmatan dan filosofi yang tinggi. Beberapa peralatan dibuat dari bahan sederhana. Seperti sendok teh, pengocok teh, dibuat dari bambu.

Sen No Rikyulah yang meletakkan dasar-dasar filosofi Chado,yaitu Wa, Kei, Sei dan Jaku, yang artinya adalah Harmoni atau keselarasan, Penghormatan, Kemurnian dan Ketenangan. Dasar pijakan Chanoyu adalah keselarasan dengan alam. Rumah teh dan taman dibuat selaras dengan alam sekitarnya. Rumah teh bisa dibuat dari balok kayu berikut kulit kayu yang masih menempel, atau pilar kayu tanpa diserut dan dicat. Dinding dipoles dengan acian tanah liat. Untuk jalan-jalan setapak di taman menuju rumah teh digunakan batu-batu alam.

Kei atau penghormatan adalah dasar pijakan kedua. Dalam chanoyu, manusia tidak ada lagi kelas-kelas. Tidak ada perbedaan status sosial, agama, strata, karena semuanya adalah setara. Ketika mereka duduk dalam satu ruang teh, mereka harus saling menghormati. Tuan rumah menghormati tamunya, begitu juga sebaliknya, apapun status sosial dan perbedaan lainnya. Penghormatan juga ditunjukan terhadap keindahan karya seni manusia. Chawan-chawan yang sekalipun tampak sederhana, tetapi tampak begitu indah karena dibuat oleh seorang ahli tembikar sejati. Dalam buku Novel Musashi, Eiji Yoshikawa bahkan menggambarkan bahwa seorang ahli tembikar tak ubahnya seorang ahli pedang. Goresan kape di Chawan yang tergurat, sama dengan potongan bunga peoni yang dilakukan oleh seorang ahli pedang.

Sei adalah kemurnian yang muncul dari ketulusan hati. Kesungguhan tuan rumah dalam menyiapkan teh, adalah inti sari kemurnian dari Chanoyu. Tanpa ketulusan dan kesungguhan, mustahil tuan rumah mau melakukan suatu ritual yang begitu detail dan ribet Cuma sekedar menyiapkan semangkok teh.

Dan diantara kesemua dasar tersebut dilakukan dengan ketenangan dan sangat khusuk. Itu sebabnya dalam sebuah upacara, hampir dikatakan tidak ada suara sama sekali. Tak ada alunan musik, tak ada suara obrolan riuh rendah yang tidak perlu.Itu sebabnya dalam aliran wabicha, digunakan ruang teh yang kecil dengan jumlah tamu yang tidak terlalu banyak.

Sepeninggal Rikyu, ajarannya berkembang menjadi beberapa aliran. Sansenke adalah aliran yang dimulai oleh Shen No Soan , yang merupakan anak dari istri muda Rikyu dan diteruskan oleh garis keturunannya, hingga sekarang. Urasenke adalah sebuah nama sekolah dari Upacara minum teh Jepang. Ini merupakan aliran dari San Senke, salah seorang dua saudara keturunan Sasenke lainnya, Omotesenke dan Mushanokejisenke.

Dimulai dari Sen No Rikyu, generasi keturunannya sudah mencapai generasi ke 16, yaitu Genmoku Shositsu.

Urasenke selain di negara asalnya, juga berkembang di negara lain, termasuk Indonesia.

Pada awalnya, Urasenke di Indonesia bernama Urasenke Dookookai Indoneisia, yang didirikan pada tahun 1987. Pada tahun 1997, namanya berubah menjadi Urasenke Indoneisa Shibu, dan terakhir berubah menjadi Urasenke Tankokai Indonesia Association. Tujuan dari pendirian assosiasi ini adalah untuk memperkenalkan Chado menurut tradisi Urasenke kepada masyarakat luas di Indonesia, termasuk warga asing yang berdiam di Indonesia. Selain itu tujuan lain adalah untuk merintis pemakaian peralatan buatan Indonesia yang dapat mendukung seni tersebut, sehingga tercapai suatu keterpaduan yang baik kebudayaan Jepang dan Indonesia.

Salah satu contoh yang sudah dipraktekkan secara nyata adalah penggunaan batik sebagai bahan kimono wanita. Selain itu urasenke juga memperkenalkan tradisi Chanoyu ke kampus-kampus dan pesantren. Menurut ibu Suwarni, secretaris Urasenke Tankokai Indonesia Association, karena tujuan memperkenalkan chanoyu bukan sekedar budaya dan tata caranya, tetapi juga kandungan filosofi yang dibawanya, lebih mudah kalau diperkenalkan kepada pelajar.

Dalam kesempatan lain Urasenke juga diperkenalkan kepada masyarakat luas lewat beberapa demo di beberapa tempat, seperti di hotel Nikko bulan beberapa waktu yang lalu, bertepatan dengan ulang tahun Urasenke. Sungguh suatu kesempatan yang langka, karena saya bisa langsung menyaksikan Genshitsu Sen, Grand Master Urasenke generasi ke 15 menyajikan teh.



Photo lengkap klik Chanoyu di Hotel Nikko