Saturday, 29 August 2009

Make a delicious bowl of tea

"Make a delicious bowl of tea", Itu jawaban pertama dari Sen No Rikyu ketika ditanya muridnya tentang hal yang terpenting yang harus dipahami dan tersimpan dari dalam pikiran kita ketika kita sedang melakukan tata cara upacara minum teh. Jadi tak heran kalau sensei Uchida, salah seorang pengajar Chanoyu di JF Indonesia mengatakan hal tersebut kepada muridnya, karena hal tersebut merupakan bagian dari Seven Rules of Rikyu's yang menjadi fondamental bagi seseorang yang berhubungan perilaku kita sewaktu latihan Chanoyu.


Walau tampaknya sederhana, tetapi membuat teh yang lezat, tampaknya begitu sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan effort, knowledge dan kesungguhan hati dari Otemae. Simplenya, untk membuat teh yang paling lezat, tentu kita sajikan teh yang paling mahal. Mahal disini bukan sekedar dari nilai uang yang kita gunakan untuk membeli teh tersebut, tetapi juga valueable dri teh tersebut. Apakah teh tersebut mahal karena kemasannya? Karena langka? Karena susah prosesnya? Karena dibuat dari bahan baku terbaik, lokasi yang baik, proses yang dan sebagainya.

Lalu apakah semua itu cukup hanya dengan memiliki teh terbaik dan mahal kita bisa menyajikan teh yang paling lezat?

Sayangnya teh-teh yang mahal (baca kualitas tinggi), seringkali membutuhkan pengetahuan dan treatment yang khusus. Kualiatas air, suhu yang tepat, lama seduh (khusus untuk Chanoyu tentunya keterampilan dalam menggunakan chasen), adalah langkah-langkah berikutnya.

Untuk mengetahui ini semua, selain membutuhkan ilmu tersendiri juga pengalaman dan jam terbang. Bagaimana kita tahu teh tersebut yang terbaik, kalau belum mencoba yang kurang baik. Kita juga mesti tahu, bagaimana seharusnya teh tersebut diproses.

Jadi make a delicous bowl of tea, lebih bermakna filosofis, untuk menunjukkan kesungguhan dan terlebih passionate kita untuk membuatnya.

Chanoyu atau Chado bukan sekedar ritual ceremony dalam bahasa simbolisasi, melainkan sebuah jalan hidup yang memang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip dasar dari Rikyu, yaitu Wa (keselarasan), Kei (rasa hormat), Sei (kesucian) dan Jaku (ketenangan) itulah dasar-dasar kita dapat menjadi otemae yang baik.

Dalam sebuah ceremony, beberapa memang dilakukan dalam simbolisasi. Seperti Keselarasan peralatan yang digunakan, yang mesti disesuaikan dengan musim sesuai kehendak alam. Keselarasan gerak, yang presisi namun penuh nilai seni tinggi. Seorang Otemae seperti Uchida, dimata saya gerakannya seperti penari yang lembut, tetapi tegas dan khidmat.

Rasa hormat, diaplikasikan dengan beberapa macam cara hormat seperti Sin, So atau Gyo. Tetapi prinsip dasar dari rasa hormat disini adalah sincerity, atau ketulusan untuk membawa kita kesuatu hubungan yang terbuka dan intim dengan lingkungan, kemanusian dan alam.

Tanpa rasa hormat dan ketulusan hati, niscaya sulit kita dapat menyajikan teh dengan baik, yang mesti dilakukan dengan tata cara dimana dimata orang awam terlihat ribet dan lama. Begitu juga sebagai tamu, tanpa ada rasa hormat dan ketulusan, sang tamu tidak akan dapat menikmati teh yang disajikan. Karena kesemua itu tidak hanya dinikmati di mulut, tetapi juga dipikiran dan dihati.

Kemurnian, dapat terlihat dari awal penyajian disiapkan, mulai dari merendam chakin (lap chawan) dan chasen (pengocok teh) dalam air panas, kemudian simbolisasi pembersihan Natsume (tempat teh), Chashaku (sendok teh), Chawan (mangkok teh), dan Chasen. Dalam upacara lengkap, bahkan simbolisasi ini dimulai ketika kita masuk pintu gerbang menuju Chasitsu (rumah teh), dimana kita sudah disediakan Tsukubai (tempat simbol pembersihan).
Di tempat ini disediakan air di dalam wadah batu, lengkap dengan peralatan pembersihan lainnya.

Kesemua itu dilakukan dalam suasana penuh ketenangan dan kedamaian, jauh dari hiruk pikuk dunia. Dalam ketenangan, di dalam ruang penyajian teh, kita seakan masuk ke dalam dunia microcosmos penuh dengan kedamaian. Dalam ketenangan kita renungkan kembali, sejauh mana Wa, Kei dan Sei telah dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari

Qualitea life

Belum lama ini, saya, Ratna Somantri, Julian dan Renny, mewakili milist pecinta teh, mendapat kehormatan untuk menghadiri acara launching Teh Celup Sosro dalam kemasan baru dengan tajuk TEACHNOLOGY CELEBRATION, dengan tagline Qualitealife.

Acara ini diselenggarakan oleh Gunung Slamat, yang memproduksi teh celup Sosro, dan juga teh lainnya (Teh Cap Botol, Teh Cap Poci).

Tentu kami merasa bangga bahwa perusahaan sebesar group Sosro turut mengundang kami. Paling tidak kami merasa, milist pecinta teh kami sudah di dengar oleh perusahaan sebesar Gunung Slamat.

Dalam presentasinya, pak Soehartono Gunawan, marketing Director Gunung Slamat mengatakan bahwa dengan dedikasi selama 70 tahun di dunia teh, mereka sangat berkomitment dengan kualitas. Komitmen ini didukung dengan kepemilikan kebun sendiri, sehingga mampu mendapatkan source teh yang berkualitas, yang mereka lakukan mulai dari awal pembibitan sehingga didapatkan bahan mentah teh basah yang berkualitas yang nantinya dioleh menjadi teh kering. Dukungan lain kepemilikian pabrik modern yang menggunakan tehnologi modern dan sistem kualitas.

Management Sosro secara umum, selain terkenal memiliki jaringan distribusi yang handal, mereka handal dalam strategi pemasaran yang selalu mengikuti perkembangan jaman.

Berawal dari kepercayaan mereka bahwa budaya minum teh sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya, mereka mencoba terus mengikuti gaya hidup masyarakat yang terus berkembang.

Khusus untuk teh kering Celup Sosro, mereka mencoba menghubungkannya dengan gaya hidup modern yang mobile. Dengan target market wanita usia 19-49 tahun, kaum urban dan modern moms, mereka mencoba memadukan teh dan gaya hidup dengan Miracle Packaging concept yang diharapkan dapat memberikan sentuah emosi, gampang diingat, interaktif dan menambah pengalaman.

Berkaitan dengan perkembangan gaya hidup modern yang mobile, mereka memanjakan pelanggan setia teh Celup Sosro dengan mengeluarkan aplikasi Handphone yang merupakan qualitea life mobile guide. Aplikasi tersebut berisi fitur-fitur menarik dan bermanfaat mengenai cerita-cerita yang mengundang inspirasi, wisata budaya, wisata kuliner, hotel serta percakapan dalam bahasa setempat. Untuk saat ini baru Jakarta, Bandung dan Bali yang masuk ke dalam directory.

Untuk menunjang semua itu, mereka juga merubah kemasan dengan tema Augmented Reallity, yang merupakan terobosan tehnology yang memukau yang diharapkan dapat menampilkan ”Keajaiban kemasan teh celup Sosro”, menjadi sebuah kemasan yang hidup.

Sebuah strategi marketing yang sangat menarik. Walaupun begitu saya akan memberikan catatan sesuai dengan opini saya terhadap dua program mereka, Qualitea Life Mobile Guide dan Augmented Reality.

Menawarkan aplikasi dalam gadget untuk penunjang gaya hidup modern memang sangat menarik. Hanya saya masih belum begitu mengerti sejauh mana hal ini akan memberi efek terhadap teh celup Sosro.

Sebelum memberikan pandangan saya terhadap program ini, saya akan mengelompokkan pasar-pasar para peminum berdasarkan versi saya.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, golongan kelompok peminum teh, saya bagi menjadi tiga bagian, yaitu Tea Connoisseur, Executive moderate dan Urban Pop.

Tea Connoisseur saya kelompokkan untuk mereka yang sangat mengerti tentang teh, memiliki waktu dan mau menyeduh teh dengan tata cara tertentu sesuai dengan jenis teh ataupun budaya menyeduh teh yang berbeda-beda di masing-masing negara. Paling tidak mereka memiliki pengetahuan, tentang hal tersebut. Kelompok ini begitu concern terhadap kualitas teh, sehingga mereka hampir selalu menggunakan teh kering, bukan teh celup.

Executive moderate saya kelompokkan untuk mereka yang menyukai teh-teh Import, terutama teh Inggris. Mereka biasanya lebih mengenal merk dari pada jenis teh. Teh-teh bermerk terkenal seperti Twining, Tetley atau Dilmah sangat mereka gemari. Kelompok ini di dominasi kalangan menengah ke atas, kaum executive yang suka nongkrong di Cafe-cafe.

Urban Pop saya kelompokan untuk mereka yang gaya hidupnya lebih ngepop, sebagian kalangan komuter yang banyak menghabiskan waktunya di jalan,.

Sebagian dari mereka terjebak dalam pola hidup tidak sehat, stress karena presure pekerjaan, sering makan makanan junk Food, pola makan tidak teratur. Mereka mulai tahu dan sadar bahwa minum teh cukup bermanfaat buat kesehatan, dan menganggap minum teh adalah sebagai penyeimbang dari pola hidup mereka yang kurang sehat. Mereka juga suka hal-hal yang praktis yang tidak buang-buang waktu.

Dalam kelompok versi saya, peminum teh Celup Sosro masuk dalam golongan Urban Pop. Sedangkan dalam target market versi Gunung Slamat, golongan yang mereka bidik adalah gabungan executive moderate dan Urban pop.

Sekarang saya coba bahas, bagaimana program Qualitea life dan Augmentend really, dalam hubungannya dengan target market yang dibidik.

Pertama soal kemasan, sebagai orang yang dapat dikatakan awam terhadap design, saya memang tidak menemukan sesuatu yang baru dalam perubahan kemasan mereka. Bahkan, kalau tidak membandingkan dengan kemasan yang lama, tidak terlalu tampak perbedaannya. Penggunakan logo, gambar, pilihan Font dapat dikatakan hampir sama. Hanya warna yang memang berubah, dimana dalam kemasan lama warnanya sangat merah, dalam kemasan baru warnanya merupakan gradasi warna merah, oranye dan kuning. Kemasan baru memang terasa fresh dan modern. Evolusi kemasan (kalau dapat dikatakan demikian), memang merupakan salah satu strategi yang digunakan. Menurut pak Daniel Surya, Country Director dari the Brand Union Jakarta, walau kemasan baru, tetap tidak melupakan asal muasal.

Walau secara sekilas tidak ada perubahan yang mencolok, tetapi sebenarnya kemasan baru tersebut secara tekhnologi dapat dikatakan revolusioner. Mereka menyebutnya Augmented Reallity. Dengan bantuan tehnologi komputer, setelah kita menginstall software khusus di komputer kita, kemasan tersebut mampu menampilkan gambar bahkan video.

Dengan mengarahkan webcam pada kemasan Teh Celup Sosro, di komputer kita seakan memunculkan suatu gambar rahasia yang tersembunyi di balik kemasan. Entah mungkin karena saya melihatnya sepintas, atau memang ini masih dalam taraf pengembangan, gambar atau video yang ditampilkan dalam keajaiban kemasan tersebut, belum memberikan pesan khusus.

Padahal gambar-gambar tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, mengenai manfaat teh misalnya. Atau tip trik cara seduh teh yang baik dan benar.

Kedua qualitea life mobile guide, tentunya merupakan sebuah kebutuhan bagi mereka yang selalu mobile.

Anda dapat mengunduh fasilitas ini secara gratis lewat www.qualitealife.com ke ponsel Anda. Bluetooth, infrared, data kabel dari ponsel dan komputer anda dapat menginstall program tersebut ke dalam ponsel anda. Dalam program in janda akan mendapatkan fitur-fitur direktori tempat-tempat, seperti lokasi dan peta restoran, hotel, tourist spot, lokasi budaya dan wisata, bahkan ada daftar nomor telepon darurat.

Sebuah usaha yang cukup menarik untuk meningkatkan citra teh celup Sosro.

Ibu Meicy, dari Gunung Slamat menjelaskan, bahwa untuk kualitas tehpun dilakukan peningkatan kualitas. Kalau dulu digunakan grade dust, sekarang sudah digunakan grade fanning.

Akan lebih mengesankan lagi, kalau perubahan kemasan juga dibarengi peningkatan kemasan di dalamnya.

Beberapa kelemahan dasar produk-produk teh Indonesia adalah tidak diperhatikannnya kemasan sebagai alat untuk menjaga aroma dan rasa teh itu sendiri.

Teh, seperti halnya kopi, kesegaran daun teh keringnya harus selalu terjaga. Musuh utama dari teh adalah udara dan cahaya langsung. Selain itu sifat teh juga menyerap aroma yang ada disekitarnya. Itu sebabnya beberapa produk teh kualitas tinggi selalu membungkus teh dalam kemasan aluminium foil. Kemasan ini, hingga saat ini masih merupakan bahan terbaik untuk melindungi teh dari oksidasi udara dan pengaruh aroma dari luar teh.

Kebanyakan, teh-teh kita hanya dibungkus plastik bening, atau sekedar dimasukkan begitu saja ke dalma kemasan luarnya. Dapat dibayangkan, perjalanan panjang teh hingga sampai ke tangan pembeli akhir, harus melewati beberapa moda angkutan. Kemudian di tangan pengecer, melewati beberapa macam ruangan dengan aneka aroma segala rupa. Ketika dipajang di supermarketpun bercampur dengan aneka aroma lain yang ada disana.

Pada saat teh tersebut pindah ke tangan pengguna akhir, di tempat penyimpanan keluarga, boleh jadi teh tersebut disimpan di dapur, dimana disana sudah menunggu aroma bumbu masak lainnya.

Seringkali saya mendapatkan teh-teh yang semestinya tidak terlalu buruk, tetapi dengan sangat sederhanya kemasan, membuat teh ini cepat berbau apek.

Nah dengan adanya perubahan kemasan dan tehnologi, peningkatan kualitas produk yang digunakan, juga inner kemasan, mestinya akan menjadikan teh Celup Sosro bisa berdiri setingkat di atas pesaingnya.

Tuesday, 12 May 2009

Sincha

Teh hijau Jepang adalah teh yang unik dan memiliki rasa dan aroma yang unik pula. Negara Jepang merupakan negara kepulauan yang tentu saja dikelilingi oleh lautan. Kondisi geographis inilah yang mempengaruhi cita rasa teh hijau jepang yang memiliki aroma rumput laut, dengan rasa yang sedikit amis. Aroma dan cita rasa ini, juga dipengaruhi oleh masa dimana teh tersebut di panen.

Itu sebabnya, pengelompokan kualitas teh hijau Jepang, selain dari ukuran daun juga ditentukan oleh waktu panen. Pengelompokan lain, juga dibedakan apakah sebelum dipanen, pohon teh tersebut diberi naungan penuh atau tidak.

Sencha adalah teh hijau jepang yang paling dikenal. Bentuknya yang lurus, seperti jarum kecil-kecil, dengan warna hijau Jamrud.

Sencha yang di panen pertama (sekitar bulan April), dinamakan Sincha. Ini merupakan teh sencha kualitas terbagus, walaupun juga masih terbagi lagi dengan utuh tidaknya daun. Makin utuh daun, makin bagus kualitasnya. Kalau makin banyak bubuknya, berarti bukan kualitas terbagus. Bubuk ini selain memberi warna seduhan lebih gelap, juga menyebabkan rasa teh lebih pahit.

Belum lama ini saya mendapat kiriman Sincha dari ibu Lim Kim Soan, sahabat saya dari Milist Pecinta Teh . Beliau memang tinggal di Jepang, sehingga acap kali kalau ada teman beliau yang datang ke Indonesia, beliau sering titip sesuatu untuk saya. Saya juga mendapatkan kiriman buku tentang teh. Tampaknya buku ini cukup lengkap dengan photo-photo yang sangat bagus. Sayangnya saya tidak dapat membacanya, karena hurufnya kanji semua.

Sincha, harus disimpan di dalam refrigerator, kalau tidak aromanya akan cepat hilang. Agar supaya tidak terpengaruh oleh aroma lain yang ada di dalam refrigerator, sebaiknya Sincha tetap di dalam bungkus aluminium foilnya, lalu dimasukkan lagi ke dalam wadah plastic. Lebih bagus lagi wadah tersebut wadah yang kedap udara.

Karena panenan pertama, aroma Sincha lebih kuat, dan warna daun tehnya juga berwarna jamrud. Saya biasanya menggunakan takaran 1 sendok teh, untuk air volume air sekitar 200 cc. Seduhan pertama 2 menit, seduhan kedua empat menit. Biasanya memang hanya 2 kali seduh, karena seduhan ketiga aroma dan rasanya sudah berkurang cukup banyak.

Sincha rasa cukup lembut, dengan aroma sea weed lebih halus. Sekalipun ada hint rasa pahit, tetapi after tastenya cukup manis.

Ampas Sincha, juga sangat lembut. Kalau dalam tulisan sebelumnya saya mencoba membuat peyek dari ampah Sencha, sekarang saya coba makan begitu saja ampas sinchanya. Sedikit mirip rasa bayam, dengan sisa aroam rumput laut. Rasa pahit juga sudah mulai menghilang (mungkin karena sudah diseduh 2 kali). Daunnya begitu muda dan lembut. Bahkan tangkai daunnya juga cukup lembut.

Kalau istri saya memiliki cara lain memanfaatkan ampas daun Sincha. Dengan dicampur sedikit telor, jadilah masker yang menurut beberapa penelitian, kandungan Cathecinnya memiliki manfaat anti oxidant yang cukup tinggi.

Jadi minum Sincha, bukan sekedar minum air seduhannya, tetapi juga sekaligus dapat dimakan daunnya, atau digunakan sebagai masker. Mudah-mudahan semua cathecin, baik yang sudah terektrak di air dan tersisa di ampas, masih cukup bermanfaat buat tubuh. Sebenarnnya kandungan cathecin teh hijau jepang, tidak setinggi kandungan cathecin teh hijau Indonesia, tetapi walaupun begitu, saya belum memiliki keberanian untu mencoba makan ampas daun teh hijau Indonesia.

Wednesday, 6 May 2009

Rempeyek teh

Teh adalah minuman nomor dua di dunia setelah air putih. Di beberapa negara, teh bukan hanya sekedar minuman, tetapi juga dimakan. Dalam tulisan saya tentang teh Myanmar , pernah saya ceritakan bahwa di negara tersebut teh dibuat semacam asinan dan dibuat kudapan sambil menonton televisi.

Jepang merupakan jagonya teh hijau. Di negara ini, ditemukan sistem penghentian proses oksidasi dengan cara steam, sebagai pengganti cara pan frying seperti yang dilakukan di china. Dengan cara ini, selain menjaga kandungan cathecin tidak banyak terbuang dalam proses produksi, juga membuat warna daun teh menjadi lebih segar dan lebih hijau.

Dalam gambar, dapat anda lihat untuk teh Sencha, warna ampas tehnya lebih hijau dan segar. Sedangkan teh hijau Indonesia dan China, yang menggunakan sistem pan frying, ampasnya berwarna coklat.

Khusus untuk teh Jepang kualitas tertentu, ampas daun teh hasil seduhan, selain dapat digunakan sebagai bahan perawatan kecantikan (untuk masker misalnya), juga dapat dapat dimakan.


Kalau anda memiliki Sencha kualitas Fine,. Untuk daun teh Sencha kualitas tinggi, digunakan daun teh yang sangat muda coba anda kunyah ampas daun tehnya. Karena daun teh yang digunakan sangat muda, ketika dikunyah terasa lembut dan tidak pahit.. Nah, anda juga dapat mencoba membuatnya menjadi makanan.


Kebetulan sekali Istri saya sedang membuat risole, yang menggunakan bahan tepung terigu, mentega dan telur. Untuk percobaan, saya ambil sebagian adonan tadi, dan saya campur dengan ampas teh Sencha, lalu digoreng.

Hasilnya mirip dengan rempeyek teh. Tetapi, karena adonan tersebut dominan rasa telur dan menteganya, rasa tehnya memang kurang begitu terasa. Kemungkinan lain, karena teh tersebut sudah diseduh 3 kali, sehingga sudah banyak berkurang aroma dan rasanya.


Anda dapat saja berkreasi dengan mencampur ampas teh dengan bahan makanan lain, sebagai campuran pecel, asinan atau gado-gado misalnya?

Paling tidak, kita masih mendapatkan sisa-sisa cathecin yang mungkin masih terkandung di dalam ampas teh tersebut. Hanya yang perlu diperhatikan hanya daun teh yang benar-benar muda yang enak untuk dijadikan bahan makanan.

Thursday, 26 March 2009

Teh Cap Botol Premium

Kalau anda dilahirkan dan dibesarkan di Jawa, tentunya sudah tidak asing lagi dengan teh wangi. Ada berbagai merek yang masing-masing memiliki penggemar fanatik. Ada merek-merek yang menguasai pasar regional seperti Dandang, Nyapu, Balap, Sintren. Beberapa merek lain yang cukup dikenal di perkotaan adalah Cap Botol, Tong Tji dan 2 Tang dan Gopek.


Saya pernah mereview khusus ke empat merk terakhir. Walau kesimpulan terakhir saya lebih memilih cap Botol, tetap saja saya merasa belum puas karena tangkai dan batang teh cukup mengusik dan mengganggu.


Saya sempat bermimpi, apa mungkin kalau saya pesan kualitas premium, dimana saya mendapatkan daun-daun utuh tanpa batang.

Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk bermimpi, karena beruntung sekali saya dapat berkenalan dengan pak Budi HS, marketing manager dari Gunung Slamat, sebuah perusahaan teh yang memproduksi teh cap Botol dan Poci. Beliau mengundang saya untuk melakukan tea tasting di kantornya.

“Kami masih pasarkan di supermarket kecil, macam Naga dan Gelael pak”, demikian penjelasan pak Budi. “Untuk pasaran lokal memang kurang disukai, karena teh ini tidak bisa nasgithel seperti halnya cap Botol warna hijau atau biru. Teh inilah yang digunakan untuk membuat teh botol Sosro”.


Disini terjawab dengan jelas, bahwa kalau selama ini orang banyak menduga teh botol Sosro adalah teh hitam adalah salah besar. Penjelasan pak Budi juga menjawab beberapa persepsi yang keliru yang mengatakan bahwa teh wangi adalah teh hitam.


Menurut pak Budi, bahan dasar yang dipakai untuk membuat teh wangi adalah teh hijau. Khusus untuk kualitas premium, digunakan grade Pekoe Super.


Dalam situs Sosro, dijelaskan bahwa untuk teh hijau mereka ada tiga macam sortiran, yaitu Peko, Jikeng (daun tua), Kempring (remukan daun) dan tulang. Sedangkan untuk teh hijau kualitas tinggi, seperti teh cap pucuk sari misalnya, kualitas Peco dibagi lagi menjadi beberapa grade, yaitu Gun Powder, Pekoe Super dan Pekoe. Dibawah itu adalah grade Fanning dan Dust, yang biasanya digunakan untuk bahan teh celup.


Proses pewangian teh adalah dengan cara terlebih dahulu melembabkan teh hijau (yang sebenarnya telah dikeringkan). Tujuan proses pelembaban ini adalah agar supaya teh dapat menyerap aroma melati yang akan dicampurkan. Yang perlu diketahui adalah, bunga melati hanya diambil aromanya saja. Setelah dibiarkan semalaman, bunga melati tersebut akan diblow up dan terpisah dari teh daun tehnya.


Kalau ada yang tercampur di dalam teh, kalau tidak “katutan” mungkin sebagai hiasan untuk menandai bahwa teh tersebut beraroma melati.


Bunga melati yang digunakan juga bukan bunga melati sembarangan. Bunga yang dipakai adalah bunga yang siap mekar. Menurut pak Budi ada jenis macam bunga melati yang dipakai, yaitu Bunga Melati (jasminum sambac) yang diambil dari daerah pantura (pemalang, pekalongan) dan bunga melati gambir (jasminum Officinale) diambil dari daerah pegunungan di dekat Slawi. Bunga ini harus diambil dalam keadaan segar, sebab kalau tidak bisa-bisa aromanya sudah menghilang ketika mau digunakan. Itu sebabnya, kenapa pabrik teh wangi selalu berada di daerah pantura seperti tegal, slawi, pekalongan dikarenakan lebih mendekatkan kepada sumber bunga melatinya.


Penambahan bunga melati juga bukannya tanpa alasan. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pohon teh yang di tanam di Indonesia adalah varians dari Assamica. Varians ini ditanam dan disebar luaskan d Indonesia, karena kebetulan Belanda yang pada waktu itu membudidayakan teh di Indonesia, ingin menjual tehnya di pasar Eropa, yang kebetulan lebih suka teh hitam varians Assamica.


Teh varians Assamica, ketika dibuat menjadi teh hijau, aroma dan rasanya kurang enak. Kalau dalam bahasa Jawa disebut sebagai langu. Untuk mengatasi rasa enak tersebut, maka dicampurlah dengan melati. Selain itu, sebenarnya teh hijau Assamica juga terlalu sepat. Itu sebabnya teh wangi melati, kalau diseduhnya pekat, lebih enak diminum dengan gula.


Inilah keunikan teh hijau wangi melati. Sekalipun teh hijau treatment yang dilakukan mirip teh hitam. Selain diseduh dengan air mendidih (sekitar 100ºC), juga diminum dengan gula. Teh wangi melati inilah yang digunakan untuk menyeduh teh ala teh poci, yang menjadi tradisi di Tegal dan sekitarnya.


Dalam photo dibawah, saya lampirkan photo teh cap botol dan cap botol premium. Tampak jelas dari daun teh kering cap Botol, tampak besar-besar (Jikeng?), dengan ranting yang besar pula, Selain itu tampak juga serpihan warna putih, bunga melati. Sedangkan photo cap Botol premium, gulungan daun terlihat lebih kecil. Tangkai daun masih terlihat juga, dengan ukuran lebih kecil. Sama sekali tidak tampak serpihan bunga melati. Aroma melatinya tidak terlalu tajam.. Daunya masih berwarna hijau tua, dan ukurannya masih cenderung utuh, sekalipun masih tercampur tangkai daun kecil-kecil.


Khusus teh hijau cap botol Premium, aroma melatinya tidak terlalu tajam. Kalau dilihat dari daun teh keringnya, sama sekali tidak tampak serpihan bunga melati di dalamnya. Daunya masih berwarna hijau tua, dan ukurannya masih cenderung utuh, sekalipun masih tercampur tangkai daun kecil-kecil. Seduhan yang disarankan adalah satu sendok makan teh, untuk ukuran 300 ml air, dengan lama seduh 3-5 menit. Ampas bekas seduhan terlihat daun hijau segar dan cenderung utuh.


Bagi penggemar teh wangi, teh cap Botol premium merupakan teh wangi kualitas tertinggi diantara teh wangi dipasaran yang ada.


Mungkin teman-teman pernah beberapa kali mencoba membuat es teh manis, tetapi kok tidak mendapatkan rasa yang mendekati rasa teh botol Sosro (baca tea tasting di Gunung slamat). Karena merupakan bahan yang sama yang digunakan untuk proses produksi teh botol, seduhan teh ini sangat terasa teh botol Sosro sekali.


Beberapa teman dan keluarga saya langsung jatuh cinta ketika mencoba teh ini. Sama halnya dengan beberapa teh kualitas tinggi lainnya, pertanyaan yang susah dijawab adalah ketika mereka menanyakan, “Dapat dibeli dimana?”

Sunday, 15 February 2009

Dayuling Oolong tea

Regina dan Halomoan adalah pasangan suami istri pecinta teh, yang terkadang saya anggap lebih maniak dibanding saya. Berbagai macam teh dan peralatannya mereka borong dari pelbagai tempat.

Baru-baru ini Halomoan memesan teh Oolong Dayuling dari http://www.teafromtaiwan.com/, atas rekomendasi dari mbak Ratna Soemantri, kolega saya di milist Pecinta teh. Sungguh beruntung saya mendapatkan kesempatan untuk mencicipinya. Terima kasih ya.

Dayuling adalah teh Oolong yang ditanam di pegunungan Li Shan, Taiwan, dengan ketinggian Elevasi mencapai 2400 meter. Teh ini merupakan teh semi fermented yang mendekati teh hijau. Artinya fermentasi dilakukan tidak terlalu lama, sehingga warna daun teh keringnya masih berwarna hijau Jamrud.

Saya coba seduh dengan seduhan ala Gong Fu cha, dan sekalian mencoba Gaiwan set saya.

Dari daun teh kering saya cium aroma flowerynya cukup menonjol, khas teh-teh Taiwan. Pertama-tama saya lakukan warming pada Gaiwan dan cangkir. Air panas yang saya gunakan 90 ºC. Teh saya tuang hingga semua permukaan Gaiwan tertutup dengan teh. Kemudian tuang air panas, diamkan 1-2 detik, lalu airnya dibuang. Proses ini adalah proses pembersihan teh.

Kemudian baru dituang air panas lagi untuk menyeduhnya. Seduhan pertama saya lakukan dalam waktu 60 detik. Pada seduhan pertama, duan teh belum terlalu mengembang, karena baru sebentar tetapi warna dan aroma sudah keluar. Warnanya kuning kehijauan, cantik sekali. Aroma flowery masih menonjol, walau tidak seharum Ti Kuan Yin. Rasanya manis dan mellow, seperti rasa buah muda yang ranum. Menurut referensi, teh ini bisa diseduh berulangkali bahkan hingga sepuluh kali. Seduhan kedua, saya tambahkan 15 detik, yaitu 75 detik. Demikian pula seduhan berikutnya, saya tambakan 15 detik dari waktu seduhan kedua, dan seterusnya. Dan hingga seduhan kesepuluh rasa manis masih cukup terasa, warna masih bagus, walupun aroma sudah banyak berkurang. Saya mampu minum hingga seduhan ke sepuluh, karena kebetulan Gaiwan saya ukurannya cukup kecil, yaitu kurang dari 100 ml.

Tuesday, 18 November 2008

The Way of Tea (3)

Sensei

Kelas Chanoyu di Japan Foundation adalah hasil kerja sama dengan Urasenke, salah satu aliran Chanoyu yang cukup terkenal di Jepang, yang memiliki cabang di beberapa negara.

Cabang urasenke di Indonesia bernama Urasenke Tankokai Indonesia Association (UTIA). Founder adalah ibu Sany Soendoro, sedangkan ketuanya adalah ibu Kumiko Pohan. Ibu Suwarni, pemiliki Siang Ming Tea house berlaku sebagai secretaris UTIA. Merekalah pengajar-pengajar utama kami, disamping pengajar lain seperti Ibu Sitanggang, Uchida San, Sugihara San, dan lain-lain.

Dalam setiap pelajaran, biasanya dibagi menjadi dua group. Saya lebih sering diajar oleh ibu Sanny, Ibu Sitanggang dan Uchida San. Sedangkan group lain diajar oleh Ibu Kumiko Pohan, ibu Suwarni dan pengajar lain secara bergantian.















Beberapa pengajar atau biasa kami memanggilnya sensei memiliki karakter yang berbeda-beda. Ibu Sanny orangnya lembut dan sangat sabar. Ibu Suwarni tegas, tetapi banyak sekali filosophy yang diajarkan oleh beliau. Uchida san, sangat santun dan rendah hati, khas wanita-wanita Jepang.

Tanpa bermaksud mengecilkan peranan sensei yang lainnya, saya memang sangat terkesan dengan Uchida San. Gerakan-gerakan ketika menyiapkan dan menyajikan teh sangat indah seperti halnya seorang penari, dan penuh presisi. Dan yang pailng mengesankan adalah kocokan tehnya. Dari beberapa kali mencoba minum teh, kocokan Uchida Sanlah yang paling lembut dan menawan.





Peralatan yang dibutuhkan dalam Usucha

Secara harafiah, Chanoyu artinya hot water for tea. Dalam pengertian luas, Chanoyu adalah serangkaian upacara untuk mempersiapkan, menyajikan dan minum teh.

Dalam penyajian ini, selain dibutuhkan peralatan khusus, juga keahlian khusus untuk menggunakannya

Dalam chanoyu ada dua macam, yaitu Usucha atau teh encer dan Koicha atau teh kenthal.

Perbedaan utama adalah selain dari jumlah penggunaan teh, dalam Koicha teh disajikan dalam satu chawan dan diminum bersama-sama secara bergantian. Sedangkan dalam Usucha, teh disajikan percawan.

Untuk penyajian Usucha, digunakan dua macam cara, yaitu menggunakan Ketel , dan menggunakan Hishaku (gayung) dan Kama semacam kuali tempat merebus air.























Tata caranya sedikit berbeda. Kami baru mempelajari Usucha dengan menggunakan Ketel..

Beberapa peralatan lain yang wajib digunakan adalah, Chawan (mangkok teh), Chasaku (sendok teh), Natsume (tempat bubuk teh), Matcha (teh hijau bubuk), Chasen (alat pengocok teh), Chakin (linen untuk membersihkan chawan), fukusa (sapu tangan untuk membersihkan peralatan teh), Daisu (nampan) dan Kensui (tempat pembuangan air kotor), dan tentu saja kompor untuk merebus air.

Beberapa peralatanan tambahan lainnya adalah Kobukusa (kain untuk tatakan chawan), Kaishi (semacam tisu), Tatami (tikar), dan masih banyak lagi peralatan lainnya.

Secara garis besar cara penyajian Usucha dengan ketel adalah kita siapkan Chawan, Natsume, Chakin dan Cashaku dalam sebuah nampan. Pertama-tama tuan rumah, dengan fukusa tergantung disamping obinya (semacam stagen untuk mengikat kimono, yang juga berfungsi sebagai ikat pinggang), akan mengantarkan kue untuk dimakan sebelum minum teh.. Setelah itu, Tuan rumah akan kembali ketempat awal sebelum naik tatami untuk mengambil nampan berisi peralatan untuk membuat teh, untuk diletakkan di dekat kompor.

Setelah itu, tuan rumah akan kembali ke belakang untuk mengambil kensui. Setelah itu Tuan rumah mengambil Fukusa, dan mulai membersihkan peralatan mulai dari Natsume dilanjutkan dengan membersihkan chasaku. Setelah itu Tuan rumah akan Chasen dengan air, dan dilanjutkan dengan membersihkan chasen dengan chakin.

Sambil memegang chasaku, tuan rumah akan mempersilahkan tamu untuk makan kuenya.

Setelah itu, tuan rumah akan mengambil Matcha dari natsume kira-kira 2,5 sendok, tuang air panas kemudian di kocok dengan chasen. Mengocok teh kelihatan mudah dan sederhana, tetapi ternyata membutuhkan tehnik khusus untuk dapat menghasilkan hasil kocokan yang halus dan lembut, dan tentu saja tidak mematahkan ujung dari Chasen.

Setelah mengocok sekitar 50 kali atau ketika dirasa hasil kocokannya sudah bagus, Tuan rumah memutar chawan dua kali, agar supaya gambar dalam chawan menghadap kepada tamu.

Kalau ada assisten, tugas asistenlah yang menyajikan teh tersebut kepada tamu. Kalau tidak ada asisten pihak tamu akan mengambil sendiri

Setelah selesai, tamu akan mengembalikan teh kepada tuan rumah, dan mulai dibersihkan.

Sudah barang tentu kesemua tata cara tersebut menggunakan gerakan-gerakan khusus yang khidmat dan terukur. Untuk dapat mengingat urut-urutan gerakan, membutuhkan latihan ektra dan memerlukan waktu yang tidak pendek.Bahkan untuk mencapai kesempurnaan, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk melatihnya.