Wednesday, 21 July 2010
SAYA TEH JALANSUTRA
Artinya bisa menjadi semacam pengakuan atau kebanggaan telah menjadi salah satu bagian dari milist jalansutra. Nama jalansutra, memang sering saya gunakan ketika meminta izin melakukan pemotretan entah tempat atau makanan kepada pemilik restaurant. Bukan bermaksud untuk mendapatkan servis lebih atau Discount, tetapi lebih kepada kemudahan memberikan alasan kenapa saya harus motret tempat mereka.
Hal tersebut saya lakukan, karena iasanya, ketika meminta izin, pasti akan ditanya, “Bapak dari mana?”.
Saya tidak mungkin menjawab dari sebuah media, karena memang bukan wartawan. Satu jawaban yang masuk akal, adalah saya jawab, dari klub jalansutra, sebuah klub pencinta jalan-jalan dan makan-makan. Kebutuhan saya untuk memotret adalah untuk sharing kepada teman-teman lain.
Nama jalan sutra secara tidak sengaja juga saya gunakan sebagai kartu pers. Ceritanya dalam rangka ulang tahun Urasanke Indonesia, diadakanlah sebuah CHANOYU, yaitu upacara minum teh ala Jepang yang diselenggarakan di Hotel Nikko. Kebetulan salah satu panitia acara ini adalah ibu Suwarni yang saya kenal lewat kegiatan jalansutra. Lewat ibu Diah, dari teh Malino (yang saya kenal berkat tulisan saya di jalansutra juga), saya diundang dan ditanya mau duduk di kursi tamu atau pers? Karena saya ingin bebas memotret, saya pilih duduk di kursi Pers. Oleh karena itu, ketika saya datang, saya mendapatkan kartu pers dengan tulisan JALANSUTRA.
Tentu saja tidak semua orang kenal dengan nama jalansutra. Untuk menghadapi situasi seperti ini, untuk mempermudah biasanya memang saya pinjam nama pak Bondan Winarno, yang memang jauh lebih dikenal. Saya katakan klub jalansutra adalah asuhan pak Bondan Winarno, pengasuh acara wisata Kuliner. Banyak dari mereka yang langsung memahaminya.
Faktanya memang alasan pertama saya masuk klub ini karena kesukaan saya membaca tulisan pak Bondan Winarno. Saya menyukai tulisan pak Bondan, bahkan jauh sebelum beliau menulis tentang jalan-jalan dan makan. Saya mengikuti tulisan beliau semenjak beliau menulis KIAT, yang membahas tentang manajemen dengan gaya yang ringan tetapi sangat menarik (kalau gak salah sekitar tahun 80-an). Kebetulan, saat masih kuliah, saya ikut aktif dalam Bulletin Kampus, dimana saya sering menulis tentang pemasaran dan periklanan dalam buletin tersebut. Tulisan KIAT pak Bondan, banyak memberi inspirasi saya.
Semenjak tulisan KIAT menghilang dari majalah Tempo, (dan walaupun saya telah mengkoleksi 2 buah buku kumpulannya), saya merasa kehilangan tulisan beliau. Baru pada tahun 2005, saya menemukan kembali tulisan beliau di Kompas On-line di kolom jalansutra. Hanya kali ini memang apa yang ditulis jauh berbeda dengan sebelumnya.Beliau tidak lagi menulis tentang manajement, tetapi menulis tentang makanan dan tempat makan, tetap dengan gaya yang sama menariknya. Dalam kolom ini, di pokok kanan atas ada satu banner kecil bertuliskan Milist Jalansutra. Banner itulah yang menjadi titik awal saya bergabung dengan milist jalansutra.
Arti kedua dari judul di atas dapat dibaca SAYA, TEH dan JALANSUTRA. Faktanya, lewat jalansutra akhirnya saya menemukan passion khusus mengenai teh, yang pada akhirnya membuat saya banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan teh. Walaupun belum merubah jalan hidup saya, tetapi paling tidak telah memberi arah, mimpi dan cita-cita saya.
Berkenaan dengan ulang tahun jalan sutra pada tanggal 22 besok, saya coba merenungi dan menelusuri perjalanan saya di milist ini.
Satu hal yang sempat membuat saya terkejut adalah pertanyaan tentang teh merupakan postingan saya ketiga di awal-awal saya bergabung dengan jalan sutra. Postingan pertama saya adalah menjawab pertanyaan tentang Rafting (dimana menjadi passion saya pada waktu itu), dan postingan kedua adalah tentang pengalaman rafting saya.
Pertanyaan tentang teh tersebut saya posting setelah membaca tulisan pak Bondan tentang Etika minum teh. Dari postingan tersebutlah, akhirnya saya berkenalan dengan mas Arie Parikesit, yang kata cak Uding, koleksi tehnya satu lemari penuh. Beliaulah yang membukakan mata saya betapa teh ada banyak macamnya. Dapat saya katakan mas Arie merupakan mentor pertama saya khusus mengenai teh.
Semenjak itu, saya rajin mencoba berbagai merk teh (merk, bukan jenis teh), dan menuliskan pengalaman saya di milist ini. Sewaktu saya menuliskan pengalaman saya mencoba teh cap Mawar, Tiurlan Sitompul, salah satu Jser yang juga pecinta teh, mengirimkan saya 2 bungkus teh. Sebagai barter, beliau minta saya mengirimkan cap mawar saya. Walaupun Tiur tidak menulis jenis teh apa yang dia kirim, tetapi lewat hasil searching di Google dan berdasarkan photo-photo yang ada, saya tahu dia kirim Silver Needle atau Teh putih, yang tentu saja harganya cukup mahal. Teh kedua yang dia kirm adalah teh Puerh. Sedangkan barter yang dia minta Cuma teh cap mawar (kelak, saya akan mengetahui bahwa teh ini jenis teh hitam, grade II, finest dust yang diberi aroma mawar).
Semenjak itu, minat saya terhadap teh semakin besar. Bukan sekedar jenis dan macam-macam teh, tetapi berikut budayanya.
Pertama kali saya belajar tentang budaya teh adalah belajar Gong Fu cha di tempat ibu Suwarni yang terselenggara berkat bantuan dari Elisa Sutanujaya. Beliaulah yang menjadi mentor kedua setelah mas Arie. Saya semakin giat untuk mengekplore berbagai macam jenis teh dan menuliskan pengalaman saya, baik di Jalansutra maupun di blog saya. Kalau sebelumnya saya menuliskan semua jenis tulisan, baik review tentang makanan, tentang keluarga juga teh di http://laresolo.multiply.com saya memutuskan untuk membuat blog khusus tentang teh di http://kedai-teh-laresolo.blogspot.com
Berkat tulisan-tulisan di jalansutra dan di Blog, makin banyak yang membaca tulisan saya sehingga, sehingga kiriman teh juga semakin banyak. Selain dari beberapa perkebunan teh, juga dari pribadi-pribadi yang memang menggemari teh.
Salah satunya adalah pak Yopie Hendrik, Jser yang mengirim saya Ceylon Silver tip tea (White tea dari Ceylon), juga Long Tjing grade premium, Dragon pearl, Blooming tea, serta beberapa jenis teh lainnya. Ibu Lim Kim Soan, yang sering saya titipi beberapa peralatan teh dari Jepang, dan baru-baru ini mengirimkan teh Sincha untuk saya. Masih banyak teman-teman yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Lewat teh pula akhirnya saya dipertemukan dengan Ratna Somantri. Beliau selain seorang pecinta teh, juga profesional di bidang teh. Pernah mengelola Tea Gallery dan menjadi konsultan dan pembicara khusus mengenai teh. Kami sering ketemu lewat beberapa event tea class yang diselenggarakan oleh Jalansutra. Karena persamaan visi dan misi (kayak partai aja), akhirnya kami sepakat membuat sebuah milist khusus tentang teh. Nama milistnya adalah Pecinta_teh@yahoogroups.com. Salah satu Visi dari milist ini adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh.
Pada awalnya, member dari milist ini adalah member jalansutra juga. Milist ini tak ubahnya sebuah kelompok kecil dari jalansutra. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, member milis ini makin luas, walau ditinjau dari jumlah masih dapat dikatakan sangat kecil sekali. Beberapa produsen teh, peneliti teh, Dewan teh dan para profesional dibidang teh yang turut pula bergabung, membuat milist ini makin berwarna. Belum lama ini, milist ini juga sempat masuk dalam tulisan di harian Jakarta Post ( http://www.thejakartapost.com/news/2009/04/14/that-tantalizing-taste-tea.html ). Sebuah langkah kecil yang diharapkan dapat merupakan langkah awal untuk dapat mewujudkan visi dan cita-cita.
Ada satu hal yang saya tidak pernah lupa, Captain Gatotlah yang selama ini mengencourage saya untuk tekun mempelajari teh.
“Suatu saat nanti, saya yakin anda akan menjadi salah satu tempat bertanya khusus mengenai teh”, itu kata-kata beliau yang selalu saya kenang.
Pada akhirnya kata-kata pak Gatot memang menjadi pertanyaan. Beberapa media atau pribadi sering menanyakan saya hal-hal yang berkenaan dengan teh. Ada yang untuk bahan skripsi, ujian akhir, dsb. Satu hal yang membuat saya suka tersenyum simpul adalah beberapa pertanyaan sederhana, seperti tentang jenis-jenis teh, apa beda teh hijau dan teh hitam, karena ternyata pertanyaan-pertanyaan itu pula yang pada awal-awalnya juga saya tanyakan di milist ini.
Masih ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan. Pelajaran masih jauh dari usai. Saya masih ingin mendalami Chanoyu, serta budaya-budaya lain yang berkaitan dengan teh. Masih banyak cita-cita yang masih jauh dari jangkauan. Salah satunya adalah, bagaimana kita sendiri masyarakat Indonesia, dapat menikmati teh kualitas nomor satu hasil produksi kita sendiri. Sebagai contoh, teh hitam Orange Pekoe dari Malabar, adalah termasuk teh hitam kualitas nomor satu. Teh tersebut saya temukan di sebuah situs dan hanya dapat dibeli di perancis sana. Bukan satu hal yang mudah untuk meyakinkan para trader teh atau produsen teh untuk memasarkan teh premium mereka di Indonesia. Kalau secara hitung-hitungan rugi laba, memang cita-cita tersebut belumlah berhasil mendapatkan angka.
Lewat jalansutra pada akhirnya membuat saya suatu perenungan, bahwa lewat support, effort, dukungan, pengalaman dan kesempatan, membuat kita terpacu untuk melakukan sesuatu yang dapat memberi nilai tambah kepada diri kita sendiri pada khususnya, dan memberi manfaat kepada orang banyak pada umumnya.
Teh bukanlah sekedar minuman pelepas dahaga belaka, lebih dari itu teh merupakan sebuah budaya. Sejauh mana nilai dari budaya tersebut, tergantung dari bagaimana kita mengapresiasinya. Apakah sekedar menjadikannya minuman komoditas belaka, atau sebuah kegiatan yang memiliki nilai spritualitas yang bermakna.
Terima kasih jalansutra, yang menjadikan telah hidup saya jauh lebih bermakna.
Sunday, 11 July 2010
Hari pertama kedai Teh Laresolo
Saya merasa, alangkah menyedihkannya kalau dalam sehari sampai nol sama sekali tidak ada yang beli. Ditambah lagi, kabar buruk dari rumah, Croisant agak overbaking, Fermipan yang saya beli kemarin ketlisut, sehingga tidak dapat membuat dough lagi.
Melihat tamu tampaknya sepi-sepi saja, akhirnya saya lari sebentar ke Yuk,toko kue langganan kami, yang tidak terlalu jauh dari kedai. Ternyata Yuk sudah tutup, larilah saya ke Surya Kencana (baca ngebut:Karena pakai motor). Mau Belum sampai kebun Raya, antrian kendaraan sangatlah panjang. Bujubuset! Baru teringat, hari ini hari terakhir liburan.
Setelah berjibaku belok kanan kiri, akhirnya berhasillah saya menembus kemacetan, dan mendapatkan fermipan. Karena saya mesti pulang bawa mobil,jadi saya mesti kembali ke Saung untuk mengambilnya.
Sampai di Saung, ternyata tamu sudah mulai banyak.Bahkan ada sekelompok tamu dengan asyiknya duduk lesehan dipinggir kolam (tanpa tikar pula), disampingnya tampak tray Gongfucha, dan teko teh yang lainnya.
Sangat menyenangkan. Asistant saya, ternyata cukup sigap juga,walaupun dia baru sebentar belajar. Bahkan tamu saya cukup puas dengan penjelasan banu mengenai menu-menu yang ada di kedai saya.
Mereka bilang, mereka tidak merasa beli kucing dalam karung. Mereka order white tea, Morrocant lemon mint tea, dan paling favorite apalagi kalau bukan white tea. Apalagi ketika saya recommend untuk mencoba Oolong Bengkulu, tambah puas mereka. Senang rasanya tamu saya dapat menikmat teh yang saya sajikan. Salah satu diantara mereka adalah seorang bule dari Rumania, dia berkata, "I'll bring my girlfriend here"
Tak lama kemudian beberapa teman dari FB, Milist pada datang. Itulah gunanya network. Dukungan dan suport selalu mengalir. Mango green tea dan Original Chai, mendapat pujian.
Malamnya sebenarnya berencana tutup warung agak awal. Badan sudah terlalu lelah, karena hari sebelumnya sudah seharian jalan (tambah nonton bola pula)."Kita tutup habis magrib ya Banu".
Belum sempat tutup, datang serombongan tamu yang ingin melihat-lihat. Saya coba tawarkan minuman teh,adalah salah seorang berbadan gempal yang jawabannya bikin ilfill:
"Saya tidak minum teh, tidak ngopi"
"Oh, jadi minum apa?""Air putih saja," Jawabnya singkat.
"Kalau begitu, silahkan ngobrol saja disini gak papa" Saya pikir, dia mungkin olahragawan pingin menjalanai hidup sehat.
Teman-temannya mulai bertanya-tanya tentang teh. Setelah saya jelaskan aneka macam teh yang ada disitu,langsung deh mulai borong white tea untuk diminum dirumah. Satu lagi pingin teh hitam plain saya tawarkan Tambi.
Satu lagi mau coba Earl grey, satu lagi mau coba white tea untuk diminum ditempat.
Rata-rata setelah minum white tea, langsung pada jatuh cinta. Dan Lucunya si Gempal,mulai tertarik komen-komen temannya yang mencoba white tea. Akhirnya tidak tahan dia dan mememesan white. Benar saja, kesinisannya terhadap teh langsung luruh,dan mulai banyak bertanya tentang teh.
Akhirnya obrolan menjadi hangat dan lancar. Sehangat teh-teh yang saya sajikan.
Well, hari yang melelahkan tetapi menyenangkan. Benar kiranya moto kedai saya, EVERY DAY IS TEA GATHERING
Wednesday, 7 July 2010
Dari Virtual menjadi Actual
Ternyata mimpi itu sebentar lagi menjadi kenyataan. Akhirnya telah berdiri sebuah kedai teh actual ditempat yang nyaman, Komplek Agripark, Jl.Taman Kencana No. 3 Bogor.
Rencana Soft Opening tanggal 11 July. Bagi yang rumahnya jauh dari Bogor, kami juga melayani pembelian teh kering lewat TIKI.
Terima kasih pembaca setia. Atas kesetiaan anda membaca blog saya memberi spirit luar biasa untuk mewujudkan visi dan misi saya : Meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh.
Bagi yang berkunjung ke Bogor, silahkan mampir. Moto kedai saya adalah : Every day is Tea gathering.
Saturday, 12 June 2010
Grey Dragon
Beberapa waktu yang lalu saya iseng-iseng googling teh premium
Saya ketika di searching keyword “Orange Pekoe
Tidak berapa lama kemudian, Google menginformasikan adanya situs tentang Orang Pekoe Malabar. Wah tentunya ini sangat menarik. Tenyata Malabar, ada memproduksi teh Orange Pekoe. Ketika saya klik, ternyata teh tersebut dijual di Paris. :-(
Ternyata orang perancis banyak yang menyukai teh hitam grade orange pekoe. Belum lama ini, dikebun teh Dewata, saya bertemu dengan Franquize. Beliau adalah seorang penulis, yang juga pecinta teh. Dia membawa sample teh dari Malabar untuk kami coba bersama-sama. Sample yang dia bawa, adalah OPS atau orange Pekoe Souchung.
Di Paris, ada satu cafe teh yang cukup terkenal, yaitu Mariage Freres. Disana dijual teh-teh kualitas premium. Cafe ini cabang, salah satunya di Ginza Jepang. Belum lama ini rekan saya Ratna Somantri, berkunjung ke
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuliskan pengalaman saya tasting white dari beberapa tempat, seperti Dewata dan Malino. Dalam tulisan tersebut, saya menjanjikan akan mengulas salah satu grade teh yang menarik, yaitu Grey Dragon.
Terus terang saya masih cukup bingung untuk mengklasifikasikan teh ini, dan bagaimana treatmen yang mesti saya lakukan.
Grey Dragon, terbuat dari pucuk daun teh yang belum mekar, sama seperti halnya white tea, hanya prosesnya yang sedikit berbeda. Grey Dragon mengalami semi oksidasi, jadi mirip-mirip teh Oolong. Tetapi tidak mengalami proses pelayuan seperti halnya teh Oolong. Dari bentuk dan warna, sebenarnya teh ini lebih cocok kalau masuk klasifikasi teh hitam. Bukan sekedar Orange Pekoe, menurut saya mestinya bisa disamakan dengan grade STGFOP (Super Tippy Golden Flower Orange Pekoe). Tetapi bedanya, proses produksinya tidak sama dengan teh hitam. Bingung bukan....
Warna teh ini sangat menarik. Warna ungu kehitaman dengan seleret putih di tengahnya. Bentuknya yang runcing seperti jarum, dan agak melengkung, memang memberi kesan seperti bentuk naga. Ditambah seleret putih, memberi kesan perut. Jadi memang cocok, kalau disebut sebagai Grey Dragon. Dari sebuah sumber, saya mendapatkan info, bahwa teh Grey Dragon ini telah menjadi salah satu koleksi dari Mariage Freres. Cukup membanggakan bukan.
Mengenai treatmen menyeduh teh ini, saya diberitahu oleh pak Iskandar salah satu pejabat dari PTPN 8, bahwa teh ini diseduh dengan air mendidih 100 derajat.
Jadi treatment yang dilakukan kurang lebih mirip dengan teh hitam. Dibanding teh dengan White tea, aromanya tentu masih kalah. Bingung juga kenapa bisa begitu, mengingat dari material yang sama. Rasanya sedikit ada kemiripan, hanya grey dragon karena semi fermented, jadi lebih bold. Dengan seduhan yang tepat, bisa didapatkan slighty rasa antara lengkeng dan lechy.
Thursday, 6 May 2010
Unitea: Teh segala rasa
Mungkin judulnya sedikit lebay. Judul ini saya buat karena terinpirasi dari cerita tentang permen segala rasa di buku Harry Potter. Dalam Novel tersebut, diceritakan bahwa tiap permen yang dimasukkan kemulut, memberi kejutan rasa yang berbeda-beda. Teh ini, sesuai dengan namanya, Unitea, merupakan campuran dari tiga macam teh, yaitu Oolong, Hijau dan White tea. Teh ini dapat juga disebut sebagai unik tea. Karena, memang unik.
Keunikan pertama adalah, campuran teh ini sedikit keluar dari pakem. Blend tea, biasanya menggunakan teh dari jenis yang sama. Jadi teh hijau blend dengan teh hijau, atau dengan herbal lain. Misalnya teh hijau dengan daun mint.
Semula sedikit bingung, bagaimana cara seduh teh ini. White tea dan green tea biasanya diseduh menggunakan air sekitar 70 derajat, sedangkan Oolong, membutuhkan air yang lebih panas, sekitar 90 derajat.
Ketika saya tanyakan kepada pak Mustopha dari PT. Chakra (beliaulah yang mengkreasi teh ini), saya diberitahu untuk di treatment seperti halnya teh hijau. Oolong yang digunakan, masih kategori Oolong green, begitu asalannya.
Keunikan lain adalah, ketika kita menyendok teh untuk diseduh, akan tersusun komposisi yang berbeda untuk teko yang lainnya.
Kebetulan sendok saya mendapatkan komposisi Oolong yang lebih banyak, beberapa helai white tea dan teh hijau.
Ketika saya seduh, rasanya memang dominan Oolong. Rasa fruity, cukup menonjol, tetapi ada litle bit bitter khas teh hijau. White tea, kurang begitu terasa, karena kebetulan komposisinya tidak terlalu banyak.
Jadi itu yang saya maksud teh segala rasa. Anda bisa mendapatkan seduhan yang berbeda dari tiap takaran sendok teh yang diambil.
Monday, 19 April 2010
Morrocan Mint tea
Pada awalnya, sebenarnya saya kurang begitu suka dengan aroma mint. Sampai akhirnya, saya mencoba teh yang diblend dengan daun mint, selera saya jadi berubah.
Saya pertama kali mengenal blend teh dengan daun mint, ketika ada acara Warna-warni teh Indonesia, dimana pada waktu itu bekerja sama dengan jalansutra, saya dan Ratna Somantri ikut pameran dan mengisi talk show tentang teh.
Salah satu koleksi teh Ratna Somantri yang dipamerkan saat itu adalah Morrocan mint tea, keluaran Twinning. Morrocant mint Twinning merupakan blend teh hijau grade Gun Powder1, dengan daun mint kering. Satu hal yang membanggakan (atau mungkin menyedihkan), teh yang digunakan, produksi perkebunan teh Dewata di daerah Jawa Barat.
Morrocan mint, merupakan teh yang sangat digemari dan menjadi budaya ngeteh tersendiri di daerah Afrika Utara dan sebagian Arab. Teh ini disebut sebagai Tuareg Tea. Dalam dialel Arab disebut sebagai Attay
Teh yang digunakan adalah teh hijau pan Frying, grade Gun Powder atau Chunmee, kemudian ditambahkan daun mint segar dan gula. Cara penyeduhan, kurang lebih sama dengan penyeduhan teh wangi ala
Step pertama penyeduhan, mirip dengan penyeduhan teh china, seduhan pertama dibuang airnya untuk menghilangkan debu yang timbul akibat rusaknya teh selama transportasi, dan juga sedikit mengurangi rasa sepat. Kemudian ditambahkan gula dan daun mint segar, seduh sekitar 3-menit, tuang ke gelas. Terkadang dari gelas, tuang kembali ke teko, tuang ke gelas, diulang sampai tiga kali supaya rasanya lebih tercampur.
Teko yang digunakan adalah teko tradisional dengan leher panjang berbentuk V. Dengan teko model seperti itu,memungkinkan teh dituang ke dalam gelas kecil dari ketinggian sekitar ½ meter, sehingga teh yang tertuang di cangkir akan sedikit muncul busa dipermukaannya.
Saya mulai menyukai mint tea, ketika bersama teman-teman dari milist pecinta teh berkunjung ke kebun teh Dewata, sebelum terjadi bencana longsor. Disana kami disuguhi teh hijau Yabukita, dengan ditambahkan daun mint segar. Entah karena suasana yang dingin, daun mint terasa sangat menyegarkan dan membuat lebih fresh.
Pada waktu itu saya juga baru tahu, kalau ternyata di
Beberapa waktu yang lalu, pak Robby Baddudin, pemilik kebun teh Dewata, memberi saya sample Teh hijau mint produksi mereka sendiri. Berbeda dengan Morrocan minta buatan Twinning, grade yang digunakan kali ini adalah Chunmee. Sedangkan daun mint yang digunakan diambil dari kebun sendiri, yang kemudian dikeringkan.
Perbedaan Gun Powder dan Chunmee adalah bentuknya. Gun Powder berbentuk bulat-bulat, sedangkan chunmee bentuknya memanjang. Ketika saya buka kemasannya, aroma mint langsung menyeruak menyegarkan.
Segera saya siapkan air mendidih untuk menyeduhnya. Saya bilas sebentar dengan air mendidih untuk mengurangi debu remukan teh yang rusak. Karena saya tidak minum teh manis, lama seduhan Cuma sekitar 90 detik saja. Dengan waktu seduh 90 detik, aroma teh dan mint sudah keluar, tetapi rasa sepat khas teh hijau assamica tidaklah terlalu mengganggu. Kecuali kalau memang mau ditambahkan gula, seduhan bisa dilakukan 3-5 menit.
Segar sekali rasanya. Aroma mint dan rasa khas sepat teh
Sebenarnya anda bisa menambahkan sendiri daun mint segar kedalam teh hijau anda. Cuma agak hati-hati, jangan sampai daun mintnya kena panas langsung. Ini akan mengakibatkan daun mint berwarna kehitaman, dan baunya agak kurang menyenangkan. Sedikit kelemahan menggunakan daun mint segar, teh tidak bisa diseduh lebih dari satu kali. Seduhan kedua, aroma daun mint sudah kurang nyaman. Kecuali anda ganti daun mintnya dengan yang baru.
Monday, 22 March 2010
White tea tasting
Tampaknya white tea akhir-akhir ini sedang naik daun. Kandungan EGCG yang tinggi, yang bermanfaat untuk aktioksidan, banyak yang mengasosiasikannya bermanfaat buat kecantikan. Banyak sekali produk komestik yang menambahkan kandungan white tea ke dalam produk mereka. Mungkin saja ada benarnya, mengingat antioksidan bermanfaat buat penangkal kerusakan sel dari pengaruh radikal bebas. Dengan dijaganya sel-sel dari kerusakan, white tea dipercaya dapat membuat awet muda.
Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa white paling banyak bermanfaat sebagai anti kanker. Juga disebutkan bahwa white tea memiliki kandungan antiviral dan antibakterial lebih tinggi dibanding teh hijau.
Kepopuleran white tea, makin bertambah seiring dengan musibah yang menimpa kebun teh Dewata. Entah apa sebabnya dalam berita yang disajikan, disebutkan Kebun teh Dewata sebagai penghasil teh putih, walau sebenarnya kebun ini juga menghasilkan jenis teh lain seperti green tea Gun Powder dan juga Sencha. Bahkan beberapa orang yang baru saya kenal, dan ketika saya ajak ngobrol soal teh, mereka langsung menanyakan, apa itu teh putih. Saya katakan dari mana tahu tentang teh putih. Mereka jawab, dari berita di Televisi yang meliput musibah longsor di kebun teh Dewata.
Tak kurang dari Malino Tea rupanya juga mencoba membuat white tea. Beberapa waktu yang lalu saya sempat di Undang oleh salah satu direksi dari Malino, ibu Diah untuk diperlihatkan hasil percobaan produksi teh putih mereka.
“Apakah white tea harus selalu putih?”, demikian pertanyaan pertama yang tercetus. Pertanyaan itu muncul, karena white yang diperlihatkan kepada saya berwarna kehitaman, dengan seleret putih, yang mengingatkan saya dengan Grey Dragon punya kebun teh Dewata (tulisan berikutnya saya akan mereview tentang Grey Dragon ini).
Logikanya, disebut white tea, dikarenakan warna daun teh keringnya berwarna putih keperakan. Di China white tea disebut sebagai Yinzhen, kalau diartikan dalam bahasa Inggris disebut sebagai Silver Needle. Bentuknya yang runcing seperti jarum, dengan warna putih keperakan.
White tea dari Malino ada dua macam, yaitu dari varians Assamica Klon TRI, dan varians Sinensis dari klon Yabukita. Saya teringat, bahwa saya juga memiliki stock white tea Sinensis dari Fujian China, dan Assamica dari Dewata. Semula saya mengira klon yang digunakan oleh Dewata adalah Klon Gambung, seperti kebanyakan kebun teh 



Supaya tahu perbedaan dari masing-masing white tea tersebut, saya lakukan tea tasting bersama-sama. Dari beberapa pengalaman saya, ternyata treatment penyeduhan white tea assamica dan sinensis sedikit berbeda. Untuk Assamica, lama brewing cukup 3 menit. Lebih dari itu akan overbrew, dan menimbulkan astringency yang kurang menyenangkan. Sedangkan untuk varians Sinensis, justru 3 menit, belum keluar semua rasa dan aroma. Minimal seduh 5 menit, baru keluar semua.
Supaya lebih adil, membandingkan dari dua jenis varians yang sama. Jadi pertama-tama saya seduh white tea assamica TRI dan Dewata 27.
Secara appearance, Dewata 27 paling cantik. Teh hanya terdiri dari pucuk daun yang masih kuncup, dengan warna putih jernih. TRI, seperti yang saya ceritakan di awal, tampaknya memang teroksidasi, sehingga warnanya kehitaman. Walaupun begitu, secara aroma memang wangi sekali, mengingatkan saya wangi rose, hanya sedikit grassy.
Warna seduhan, Dewata 27 kelihatan jernih dan bening, sedang TRI putih kecoklatan.
Untuk rasa, saya membenarkan pendapat beberapa teman mengenai white tea assamica, ada rasa buah lengkeng. Apalagi ketika sedikit bersendawa, rasa buah lengkengnya terasa banget. Beberapa orang luar, mengatakan rasanya Peachy. Mungkin karena mereka belum kenal buah lengkeng ya, tahunya buah peach. Kalau dibandingkan dengan rasa peachy di teh
Sedang TRI, rasa fruity ada Cuma perbendaharaan memory saya belum ketemu buah apa yang pas. Aroma wanginya terasa panjang, tetapi juga grassy.
Rasa grassy, mungkin karena proses pengeringan yang belum sempurna. Hal ini juga tampak dari daun teh kering yang terasa agak lembek belum terlalu kering. Mengingat ini masih percobaan, dan kondisi cuaca juga tidak bagus, mungkin saya hasil percobaannya belum terlalu sempurna.
Berikutnya saya seduh white tea dari
Untuk lebih mudahnya White tea
Warna Yinzhen putih sedikit kehijauan. Beberapa daun sedikit hancur. Kemungkinan karena pada saat terima kondisinya dipacking dengan sistem vakum. White tea memang sangat rapuh banget, kalau divakum akan banyak yang hancur. Yabukita white, kondisinya sama mirip dengan TRI, tampak teroksidasi.
Warna seduhan Yinzhen, bening, sedikit kuning keemasan. Warna Yabukita white, lebih tebal cenderung kekuningan. Aroma seduhan, tidak seperti white tea lainnya yang biasanya flowery, Yinzhen jutru aromanya nutty, demikian juga rasanya, dan diakhiri dengan rasa manis. Rasa Nutty, sangat mirip dengan Longjing, dari Huang Zhou. Dari beberapa pengalaman saya menyeduh green tea dari
Sedangkan rasa Yabukita juga cukup manis.
Kebetulan tema gathering dari milist pecinta teh adalah White tea, nanti saya akan membawa teh ini untuk dicoba bersama-sama. Kalau dulu pernah dilakukan tea tasting white tea dari beberapa grade (semuanya sinensis), seperti Yinzhen, Bai Mudan, Shou Mei, gathering nanti juga akan dicoba White tea dari varians yang lain.
Sedikit catatan mengenai perbedaan white tea varians Assamica dan Sinensis. Untuk takaran, tetap digunakan takaran yang sama, dan jumlah takaran 2 kali dari takaran teh jenis lainnya. Waktu seduh Assamica cukup 3 menit seduhan pertama, dan hanya enak diseduh 2 kali saja. Seduhan kedua bisa 4 menit. Seduhan ketiga, biasanya rasa sepetnya sudah cukup mengganggu. Hanya sebagian orang justru suka dengan rasa sepet ini. Selain itu, rasa sepet bisa juga sebagai pertanda bahwa kandungan katekinnya tinggi. Dalam tulisan terdahulu, pernah saya singgung, bahwa kandungan katekin teh
White tea varians Sinensis, seduhan pertama minimal 5 menit, dan dapat diseduh ulang 3-4 kali. Untuk aroma, saya lebih suka varians assamica, karena aroma wanginya sangat kuat. Hanya untuk rasa dan after taste varians Sinensis tidak ada rasa sepet yang bagi saya terkadang cukup mengganggu.

