Showing posts with label Teh Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Teh Indonesia. Show all posts

Friday, 27 August 2010

Oolong Ratu Bayah

Banyak yg mengatakan bahwa dunia itu sempit. Seringkali kita menjumpai sesuatu
memerlukan waktu, padahal dia ada disekitar kita.

Kalau dikaitkan dengan teh, saya pernah menuliskan pengalaman saya menemukan
Oolong Bengkulu. Ternyata hal yg tidak jauh berbeda, terjadi pada Oolong yg
hendak saya ceritakan ini.

Bagi yg pernah ikut tea gathering di KPB, 2 tahun yg lalu, mungkin masih ingat
disitu kita pernah mencoba Oolong yg dibawa Julian (waktu itu masih menjadi
pertanyaan apakah itu Oolong Bengkulu yg kami cari). Disitu juga pertama kalinya
kami mengenal pak Robby, dimana pada waktu itu beliau membaw teh racikannya
sendiri yg disebut sebagai Robby's Blend, yaitu campuran white tea, Oolong dan
teh hijau.

Pada saat mencoba racikan pak Robby (sekarang diberi nama Unitea), saya sempat
terhenyak. Ini Oolong cakep banget. Aroma flowerynya cakep. Saya sempat tidak
percaya kalau dikatakan itu Oolong lokal. Bahkan saya sempat menduga-duga,
apakah ini oolong dari bengkulu. Ditambah lagi saya dapat informasi, bahwa
Chakra, bekerja sama dengan petani oolong.

Belakangan baru semua terjawab. Chakra memang punya kebun di Bengkulu, tetapi
tidak ada hubungannya dengan Oolong bengkulu. Sedikit informasi, bahwa Oolong yg
dipakai pak Robby berasal dari Pelabuhan ratu.

Ternyata memerlukan waktu 2 tahun, kalau akhirnya Oolong tersebut saya temukan
langsung dari sumbernya. Tepatnya Oolong tersebut datang sendiri ke rumah saya,
dan tidak tanggung-tanggung, Presdir dari pemilik Oolong ini sendiri yg datang
ke rumah, diantar oleh staf Marketingnya. Luar biasa. Ini sebuah kehormatan
besar bagi saya.

Pak Effendi datang bersama pak Alex, presdir dari PT. Harendong. Ketika pak Alex
menyebutkan bahwa produknya adalah teh Oolong dari daerah Bayah, yang dapat
dilalui lewat Pelabuhan Ratu, saya langsung teringat teh Oolong yang pernah saya
coba di Uniteanya pak Robby.

Dunia memang sempit benar adanya. Ternyata Oolong yang dibawa pak Alex adalah
Oolong yang sama. Unitea saya pernah review, tetapi Oolongnya sebagai single
Origin membuat saya penasaran dan pingin segera mencobanya.

Tehnya bentuknya sama denganteh Oolong pada umumnya, berupa gumpalan kecil
dengan warna hijau Jamrud. Dengan takaran 2 sendok teh China (sekitar 5 gram),
saya seduh tehnya dengan Gaiwan. Aroma bunga langsung menyergap nuansa indera
penciuman saya. Fresh banget.Seduhan pertama saya lakukan 25 detik, liquornya
tampak kuning keemasan. Rasanya fresh banget, tetapi memang lack of sweatness.
Seduhan kedua dan ketiga, taste dan flavour tampaknya tidak bertahan lama
dimulut. Begitu masuk mulut, aftertaste yang lebih mendominasi adalah
astringentnya. Mereka yang gemar dengan rasa sepet teh khas kita, mungkin akan
menyukainya. Dengan sergapan wangi diawal tegukan, diakhiri dengan rasa sepet
yang khas.

Teh ini juga sudah dicoba oleh Marchel. Beliau adalah adik Yohan Handoyo, yang
gemar melakukan wine tasting dan kuliner. Jadi kepekaan lidah mereka beberapa
tingkat diatas saya.

Beberapa paramater, seduhan pertama hingga ketiga, mirip dengan apa yang saya
rasakan. Hanya kejutan dari Marchel adalah ketika mencoba seduhan kelims. Fruit
tastenya mulai keluar. Rasa Nanas katanya. Saya penasaran dan ikut mencobanya.
Memang samar-samar, ada hint nanas yang muncul.

Anyway, Oolong ini cukup worthed dengan harganya yang tidak mahal. Saya
menamakannnya Oolong Ratu Bayah, singkatan dari Pelabuhan Ratu dan Bayah.

Wednesday, 7 July 2010

Dari Virtual menjadi Actual

Seringkali saya mendapatkan email yang menanyakan, dimana lokasi kedai teh Laresolo. Banyak juga wartawan yang menanyakan hal serupa. Saya selalu jawab, kedai teh laresolo adalah kedai virtual, kedai masa depan. Suatu saat, saya bermimpi untuk memiliki kedai teh sendiri, yang menjual teh Indonesia kualiatas premium.

Ternyata mimpi itu sebentar lagi menjadi kenyataan. Akhirnya telah berdiri sebuah kedai teh actual ditempat yang nyaman, Komplek Agripark, Jl.Taman Kencana No. 3 Bogor.

Rencana Soft Opening tanggal 11 July. Bagi yang rumahnya jauh dari Bogor, kami juga melayani pembelian teh kering lewat TIKI.
Terima kasih pembaca setia. Atas kesetiaan anda membaca blog saya memberi spirit luar biasa untuk mewujudkan visi dan misi saya : Meningkatkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh.
Bagi yang berkunjung ke Bogor, silahkan mampir. Moto kedai saya adalah : Every day is Tea gathering.

Saturday, 12 June 2010

Grey Dragon

Beberapa waktu yang lalu saya iseng-iseng googling teh premium Indonesia.

Saya ketika di searching keyword “Orange Pekoe Indonesia”. Ini merupakan grade teh hitam full leaf yang cukup tinggi.

Tidak berapa lama kemudian, Google menginformasikan adanya situs tentang Orang Pekoe Malabar. Wah tentunya ini sangat menarik. Tenyata Malabar, ada memproduksi teh Orange Pekoe. Ketika saya klik, ternyata teh tersebut dijual di Paris. :-(

Ternyata orang perancis banyak yang menyukai teh hitam grade orange pekoe. Belum lama ini, dikebun teh Dewata, saya bertemu dengan Franquize. Beliau adalah seorang penulis, yang juga pecinta teh. Dia membawa sample teh dari Malabar untuk kami coba bersama-sama. Sample yang dia bawa, adalah OPS atau orange Pekoe Souchung.

Di Paris, ada satu cafe teh yang cukup terkenal, yaitu Mariage Freres. Disana dijual teh-teh kualitas premium. Cafe ini cabang, salah satunya di Ginza Jepang. Belum lama ini rekan saya Ratna Somantri, berkunjung ke Ginza. Menurut Ratna, cafenya sangat ramai. Orang pada antri untuk membeli teh. Salah satu teh yang dibeli Ratna adalah, teh hitam dari Talun Sentosa. Grade yang dibeli adalah TGFOP (Tippy Golden Flower Orange Pekoe), satu grade yang belum pernah saya dengar diproduksi di Indonesia. Biasanya grade-grade ini diproduksi untuk teh-teh dari Darjeeling.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuliskan pengalaman saya tasting white dari beberapa tempat, seperti Dewata dan Malino. Dalam tulisan tersebut, saya menjanjikan akan mengulas salah satu grade teh yang menarik, yaitu Grey Dragon.

Terus terang saya masih cukup bingung untuk mengklasifikasikan teh ini, dan bagaimana treatmen yang mesti saya lakukan.

Grey Dragon, terbuat dari pucuk daun teh yang belum mekar, sama seperti halnya white tea, hanya prosesnya yang sedikit berbeda. Grey Dragon mengalami semi oksidasi, jadi mirip-mirip teh Oolong. Tetapi tidak mengalami proses pelayuan seperti halnya teh Oolong. Dari bentuk dan warna, sebenarnya teh ini lebih cocok kalau masuk klasifikasi teh hitam. Bukan sekedar Orange Pekoe, menurut saya mestinya bisa disamakan dengan grade STGFOP (Super Tippy Golden Flower Orange Pekoe). Tetapi bedanya, proses produksinya tidak sama dengan teh hitam. Bingung bukan....

Warna teh ini sangat menarik. Warna ungu kehitaman dengan seleret putih di tengahnya. Bentuknya yang runcing seperti jarum, dan agak melengkung, memang memberi kesan seperti bentuk naga. Ditambah seleret putih, memberi kesan perut. Jadi memang cocok, kalau disebut sebagai Grey Dragon. Dari sebuah sumber, saya mendapatkan info, bahwa teh Grey Dragon ini telah menjadi salah satu koleksi dari Mariage Freres. Cukup membanggakan bukan.


Mengenai treatmen menyeduh teh ini, saya diberitahu oleh pak Iskandar salah satu pejabat dari PTPN 8, bahwa teh ini diseduh dengan air mendidih 100 derajat.

Jadi treatment yang dilakukan kurang lebih mirip dengan teh hitam. Dibanding teh dengan White tea, aromanya tentu masih kalah. Bingung juga kenapa bisa begitu, mengingat dari material yang sama. Rasanya sedikit ada kemiripan, hanya grey dragon karena semi fermented, jadi lebih bold. Dengan seduhan yang tepat, bisa didapatkan slighty rasa antara lengkeng dan lechy.

Thursday, 6 May 2010

Unitea: Teh segala rasa

Mungkin judulnya sedikit lebay. Judul ini saya buat karena terinpirasi dari cerita tentang permen segala rasa di buku Harry Potter. Dalam Novel tersebut, diceritakan bahwa tiap permen yang dimasukkan kemulut, memberi kejutan rasa yang berbeda-beda. Teh ini, sesuai dengan namanya, Unitea, merupakan campuran dari tiga macam teh, yaitu Oolong, Hijau dan White tea. Teh ini dapat juga disebut sebagai unik tea. Karena, memang unik.

Keunikan pertama adalah, campuran teh ini sedikit keluar dari pakem. Blend tea, biasanya menggunakan teh dari jenis yang sama. Jadi teh hijau blend dengan teh hijau, atau dengan herbal lain. Misalnya teh hijau dengan daun mint.

Semula sedikit bingung, bagaimana cara seduh teh ini. White tea dan green tea biasanya diseduh menggunakan air sekitar 70 derajat, sedangkan Oolong, membutuhkan air yang lebih panas, sekitar 90 derajat.

Ketika saya tanyakan kepada pak Mustopha dari PT. Chakra (beliaulah yang mengkreasi teh ini), saya diberitahu untuk di treatment seperti halnya teh hijau. Oolong yang digunakan, masih kategori Oolong green, begitu asalannya.

Keunikan lain adalah, ketika kita menyendok teh untuk diseduh, akan tersusun komposisi yang berbeda untuk teko yang lainnya.

Kebetulan sendok saya mendapatkan komposisi Oolong yang lebih banyak, beberapa helai white tea dan teh hijau.

Ketika saya seduh, rasanya memang dominan Oolong. Rasa fruity, cukup menonjol, tetapi ada litle bit bitter khas teh hijau. White tea, kurang begitu terasa, karena kebetulan komposisinya tidak terlalu banyak.

Jadi itu yang saya maksud teh segala rasa. Anda bisa mendapatkan seduhan yang berbeda dari tiap takaran sendok teh yang diambil.

Sunday, 14 March 2010

Duka di Lembah Dewata

“Saya suka bekerja disini, karena pemilik kebun ini sayang sama kita semua.Tetapi, sekarang kami harus bagaimana”, begitulah sekilas wawancara salah seorang korban longsor Kampung Dewata yang saya lihat di Televisi.

Saya tercenung. Saya paham, apa yang dirasakan oleh pekerja tersebut. Dia sudah bekerja bertahun-tahun disitu. Bahkan mungkin entah sudah berapa generasi, mereka beranak pinak disitu. Saya yang baru 2 kali mengunjungi Lembah Dewata, sudah dapat merasakan betapa kedamaian, keakraban dan kesahajaan, seluruh warga kampung dewata, termasuk pejabat-pejabat perkebunan bahkan hingga pemiliknya.

Jadi ketika saya mendengar kabar adanya longsor di kampung Dewata pada hari Selasa , saya pikir Cuma longsor biasa yang tidak terlalu parah. Tetapi ketika mendengar berita betapa jumlah korban yang meninggal maupun hilang cukup banyak, apalagi ketika saya melihat photo di kompas dibawah ini, hati saya terasa sangat pilu.


Coba bandingkan dengan photo yang diambil Willy Suwandi, rekan dari komunitas pecinta teh ketika berkunjung ke tempat ini bulan October 2009, sungguh sangat menyedihkan.



Ingatan saya melayang beberapa bulan silam, awal-awal sa

ya berkenalan dengan pak Robby Baddrudin, salah seorang putra dari Rahmad Baddrudin, pemilik kebun teh Dewata ini.

Pak Atik Dharmadi, salah seorang mantam tea scientist dari Bandung, yang membawa dan memperkenalkan pak Robby dengan komunitas pecinta teh. Pada waktu itu kami mengadakan gathering di Kantor Pemasaran Bersama, Gondangdia Jakarta.

Saya pikir, Cuma sekedar basa-basi ketika pak Robby menawarkan kami untuk datang berkunjung ke kebunnya. Apalagi menurut beliau, jalanan yang ditempuh medannya cukup berat, dan harus menggunakan mobil offroad untuk mencapainya dengan lebih nyaman.

Cerita tentang kunjungan ke kebun mungkin saya akanceritakan di lain waktu. Yang saya ingat adalah, keramahan dari seluruh pekerja kebun. Mereka menyiapkan kedatangan kami dengan sepenuh hati. Bahkan pak Irvan, salah seorang Administratur kebun, rela meminjamkan rumah dinasnya kepada kami, sementara beliau dan keluarga mengungsi ke tempat lain.

Dan ternyata rumah yang dulu kami inapi, sekarang sudah tertutup dengan tanah. Yang lebih menyedihkan, putra terkecil dari pak Irvan menjadi salahsatu korban yang tidak selamat dari bencana tersebut.

Kali kedua saya berkunjung ke Lembah Dewata adalah ketika saya mengikuti acara program jurnalistik yg diadakan bu Maria dari kantor berita Antara.

Di kali kedua, tersebut saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Dewata. Bahkan saya menginap satu kamar bersama pak Darso dan pak Robby di mess 2, yg sekarang hanya tampak gundukan tanah seperti halnya Mess 1 dan rumah pak Irvan. Disitu kami sempat ngobrol semalaman bicara mengenai visi, filosofy serta impian-impian kami.



Saya teringat, betapa ceria dan gembiranya wajah para pemetik teh, ketika kami memotret mereka. ”Nanti dikirim ya pak”, kata mereka sambil tersenyum lebar.
Saya teringat, betapa sepanjang jalan, mereka melambaikan tangan kepada kami.

Betapa menyedihkannya, ketika melihat betapa mereka sekarang harus mengungsi dari kampung yang telah mereka tinggali entah berapa generasi.




Saya teringat, betapa saya telah bersama-sama memasak di dapur mess mereka, ketika menyiapkan baberque untuk makan malam. Kemana ikan-ikan super besar hanya mau memakan rumput saja. Kemana sekarang sebuah pohon teh besar yang telah berusia 50 tahun lebih.

Hal yang membuat saya gundah, demikian juga dengan pertanyaan Nilam Zubir, salah satu peserta loka karya menulis di Lembah Dewata, yaitu kenapa sebuah bukit penuh pepohonan bisa runtuh? Bukankah alam dan manusia telah bersahabat sebelumnya. Betapa pohon-pohon tersebut dirawat, dan tidak ada ekploitasi alam yang berlebihan. Bukankah akar-akar pohon teh tersebut akar yang kuat. Bahkan para tamu, diwajibkan menanam pohon sebagai kenangan dan juga pelestarian lingkungan.


Beberapa analisa para ahli sedikit menjawab kegundahandan pertanyaan saya. Gempa Tasik yang melanda pengalengan beberapa waktu yang lalu, ternyata telah menyebabkan retakan tanah. Ketika turun hujan, dimana pada masa-masa sebelum bukit tersebut runtuh, air hujan mengisi retakan tanah tersebut, sehingga menyebabkan ikatan antar tanah jadi melunak. Selainitu, menurut pak Robby, memang terjadi hujan yang curahnya hujannya sangat hebat, sekitar 5 kali dari curah hujan .

Menurut teman saya, Pak Dhe Rovicky, si pendongeng Gempa, pepohonan, terkadang memang bisa menjadikan beban tanah makin berat.


Apapun analisanya, yang terpenting adalah, lembah Dewata segera dapat pulih kembali.


Monday, 14 December 2009

Warna-warni budaya minum teh di Indonesia

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan, kira-kira ada nggak sih, budaya minum
teh ala Indonesia?

Sebagai seorang pecinta teh, dan khususnya tertarik untuk mendalami seni dan
budaya teh, pertanyaan tersebut sangat menggelitik rasa ingin tahu saya. Kalau
di China punya Gong Fu cha, di Jepang ada Chanoyu, di Korea memiliki Panyaro, di
Inggris tempat lahir Afternoon tea, High tea dan tea break, Indonesia punya apa?

Bagi keluarga saya, minum teh menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan tiap pagi
dan sore. Walau sekilas kegiatasan ini mirip-mirip dengan afternoon tea di
Inggris, tetapi sifatnya lebih personal dan terbatas pada lingkungan keluarga
saja.

Untuk kegiatan yang bersifat lebih luas, teh juga menjadi minuman yang selalu
disajikan disetiap acara hajatan. Bahkan hingga kini, ketika di perkotaan
menyediakan air putih dalam kemasan gelas karena kepraktisan, kami masih tetap
menyajikan teh. Walaupun sebenarnya kegiatan ini juga sifatnya regional, yang
mungkin saja memiliki tata cara yang berbeda diantara masing-masing daerah.

Di daerah saya, khususnya di desa Nambangan, kabupaten Wonogiri, dalam setiap
hajatan, ada seseorang yang bertugas untuk menyeduh teh, jabatannya disebut
Jayeng. Ruang kerjanya disebut Jayengan. Jayeng dibantu Sinoman yang bertugas
untuk mengantarkan teh untuk para tamu dengan nampan.

Tugas seorang Jayeng mulai dari memasak air, menyeduh teh, dan menyiapkan teh ke
dalam gelas belimbing. Uniknya, proses penggulaan dilakukan tiap gelas. Jadi
semisal ada 100 tamu, gula akan dituang sendok demi sendok ke dalam 100 gelas,
dan diaduk satu persatu.

Kebiasaan ini, juga berlaku bagi keluarga saya. Ibu saya kalau menyeduh tiap
buat keluarga, selalu menuang gula ke masing-masing gelas. Dan hingga sekarang,
kebiasaan ini selalu saya bawa ketika saya menyeduh teh buat keluarga.

Berbeda dengan keluarga saya, keluarga istri yang kebetulan anggota keluarganya
juga banyak memiliki cara menyeduh yang berbeda. Karena mereka hidup
diperkotaan, tentu saja teh yang mereka gunakan adalah teh celup. Teh diseduh
dalam pitcher, dan kemudian langsung diberi gula ke dalam pitcher tersebut.

Lain keluarga, lain kebiasaannya. Apalagi daerah. Kalau di daerah Jawa tengah
dan sebagian Jawa Timur, teh yang diminum adalah teh hijau wangi melati. Banyak
diantara mereka yang fanatik terhadap merk-merk tertentu seperti teh cap Sepeda
Balam, Sintren, Dandang , Nyapu, Tong Tji, 66, dsb Ada pula sebagian yang
melakukan blend, yaitu mencampur teh dengan beberapa merk yang berbeda. Teh-teh
tertentu aroma wanginya yang diambil, sedangkan teh merk lain, diambil warnanya
yang lebih merah.

Sedangkan di daerah Jawa Barat, peminum teh hijau dan sebagian teh hitam.
Berbeda dengan dengan jawa tengah yang hampir selalu minum teh manis, di daerah
jawa barat seduhan tehnya sangat bening, dan diminum tanpa gula. Di daerah
Garut, bukan bunga melati yang dicampurkan melainkan Chamomile, yang mereka
sebut sebagai kembang teh. Berbeda dengan proses pewangian teh wangi melati,
yang dilakukan proses khusus, pencampuran chamomile mirip dengan proses tea
blending. Bunga Chamomile langsung ditabur disatukan dengan daun teh kering.
Uniknya, di Garut, teh dijualnya layaknya tea house, hanya dengan penampilan
yang lebih sederhana. Beberapa penjual teh menjual teh dengan berbagai varian
grade yang berbeda-beda, dan dijual kiloan. Jadi kita bisa memilih sendiri,
apakah mau batang saja, daun saja, atau mau dicampur.

Di daerah Sumatera, familiar dengan teh hitam rasa Vanilla. Itu sebabnya teh
merk Bendera dan Prenjak cukup populer disana. Beberapa kebiasaan minum teh juga
cukup unik. Di Medan teh dicampur susu, dituang ke cangkir lain secara
berulang-ulang sehingga menyebabkan susu menjadi berbusa. Proses ini mirip
sekali dengan teh tarik yang ada di Malaysia. Entah Malaysia atau Medan yang
duluan, tetapi tampaknya budaya ini dipengaruhi oleh kebiasaan minum teh susu di
India. Bedanya kalau di India, teh dan susu langsung direbus bersama dengan
rempah-rempah seperti cengkeh, kapulaga, jahe dan Kayu Manis. Teh ini terkenal
dengan nama Masala Chai.

Di padang lain lagi. Disini teh dicampur dengan telur, yang terkenal dengan
sebutan teh talua.

Satu lagi kebiasaan minum teh yang cukup terkenal dan memiliki nilai filosofi
adalah teh poci. Kebiasaan ini berlaku di daerah tegal dan sekitarnya, dan
menyebar ke beberapa daerah lainnya. Di sini, teko yang digunakan adalah teko
tanah liat, dengan ukuran personal. Satu teko, hanya untuk 2 cangkir saja,
karena menyeduh teh disini merupakan sesuatu yang personal. Entah bagaimana
sejarahnya, tampaknya kebiasaan ini merupakan adapatasi dari Kebudayaan Gong Fu
cha di China. Gong fu cha, juga dilakukan secara personal, bahkan ukuran tekonya
jauh lebih kecil lagi. Teko yang digunakan juga teko tanah liat, hanya memang
teh Poci tidak sedetail dan seribet cara-cara Gong Fu cha, yang memerlukan
pengetahuan teh dan cara-cara penyeduhan khusus, karena masing-masing jenis teh
mempunyai treatment yang berbeda. Teh yang digunakan juga sebagian besar adalah
teh Oolong.

Sedang teh poci, walau teh yang digunakan sebenarnya teh hijau wangi melati,
tetapi treatment yang dilakukan mirip dengan penyeduh hitam. Kalau di China, teh
hijau digunakan air yang tidak terlalu panas (sekitar 70-80 ºC), teh hijau wangi
melati digunakan air mendidih (sekitar 100 ºC). Keunikan lain adalah pemanis
yang digunakan adalah gula batu, dan tidak boleh di aduk, melainkan cukup
digoyang sedikit cangkirnya. Dan hal ini memiliki nilai filosofi tersendiri,
yaitu hidup ini awalnya pahit. Kita mesti bersabar, sehingga di akhir nanti kita
akan mendapatkan manisnya.

Dengan keanekaragaman budaya kita, mestinya masih banyak lagi yang digali seni
dan budaya minum teh khas Indonesia.

Ada yang menambahkan, budaya minum teh di daerah masing-masing?

Saturday, 14 November 2009

Oolong, Kepahiang Bengkulu


Dunia memang sempit itu benar adanya. Terkadang beberapa hal terjadi secara kebetulan bak sebuah drama sinetron saja. Pertemuan saya dengan Oolong bengkulu adalah salah satu contohnya.

Teh Oolong bengkulu adalah salah satu teh Oolong yang dulu pernah kami cari-cari.
Ceritanya, pada waktu itu mbak Ratna tanya kepada saya, apakah saya mengetahui kebun teh Oolong di Bengkulu yang hasil produksinya semua di ekpor ke Taiwan. Seperti biasa, segala macam pertanyaan biasanya saya teruskan ke Om Google. Atas saran Om Google saya diminta menghubungi PT. Trisula Ulung Megasurya. Saya juga dapat nomor telponnya, tetapi tidak pernah berhasil melakukan kontak bicara.

Sebuah kebetulan kalau akhirnya saya bisa mengenal lebih dekat dengan Julian Julindra. Dia 'menemukan' saya di tengah belantara booth teh sewaktu acara tea festival di Bandung pada tahun 2008. Setelah pertemuan itu, Julian akhirnya menjadi peserta Gathering yang paling aktif. Kami ketemu di acara gathering yang dilakukan di Festival teh di Kemajoran. .

Sepulang dari gathering Kemayoran, secara kebetulan, saya dan Julian ngobrol tentang teh Oolong dari Bengkulu, dan Julian mengatakan bahwa dia punya teman dimana bapaknya punya kebun teh di Bengkulu. Wah, jangan-jangan dia, pikir saya. Berkat Julian pula akhirnya saya berkenalan dengan pak Surya Dharmadi. Ternyata benar dugaan saya, setelah pak Surya mengeluarkan kartu nama, tertera nama perusahaannya PT. Trisula Ulung Megasurya. Dunia benar-benar sempit.

Baik, saya rasa prolog yang cukup panjang perlu saya tulis, untuk menggambarkan perjalanan untuk menemukan teh Indonesia kualitas premium memang terkadang dibarengi oleh beberapa keberuntungan. Untung ada Julian, untung ada mbak Ratna yang menanyakan teh tersebut, untuk ada milist pecinta teh, dsb.

Singkat cerita, kata sederhana yang dapat saya ungkapkan ketika mencoba Oolong bengkulu, memang benar-benar singkat saja : Sumpah, enak banget!!

Ini benar-benar teh aromatik Indonesia yang pernah saya coba. Aromatik yang saya maksud disini bukannya ditambah aroma dari bahan lain, tetapi benar-benar rasa asli teh yang mengeluarkan aroma dan rasa yang sangat exotic.

Daun teh keringnya berwarna hijau emerald, dan aromanya wangi sekali. Hasil seduhan, berwarna kuning keemasan. Ketika diteguk, rasa Fruitynya begitu terasa, seperti buah ranum yang segar, dan ada sedikit rasa kesat dan slighty sepet, mengingatkan saya pada buah apel ranum. Saya suka sekali dengan Oolong bengkulu ini. Benar apa yang dikatakan mbak Ratna, Oolong bengkulu ini tidak kalah dengan teh-teh Olong dari Taiwan.

Syukurlah kalau akhirnya pak Surya mau bergabung dengan milist pecinta teh, dan dapat membantu kita semua untuk dapat menikmati teh Indonesia kualitas tinggi.

Saturday, 29 August 2009

Qualitea life

Belum lama ini, saya, Ratna Somantri, Julian dan Renny, mewakili milist pecinta teh, mendapat kehormatan untuk menghadiri acara launching Teh Celup Sosro dalam kemasan baru dengan tajuk TEACHNOLOGY CELEBRATION, dengan tagline Qualitealife.

Acara ini diselenggarakan oleh Gunung Slamat, yang memproduksi teh celup Sosro, dan juga teh lainnya (Teh Cap Botol, Teh Cap Poci).

Tentu kami merasa bangga bahwa perusahaan sebesar group Sosro turut mengundang kami. Paling tidak kami merasa, milist pecinta teh kami sudah di dengar oleh perusahaan sebesar Gunung Slamat.

Dalam presentasinya, pak Soehartono Gunawan, marketing Director Gunung Slamat mengatakan bahwa dengan dedikasi selama 70 tahun di dunia teh, mereka sangat berkomitment dengan kualitas. Komitmen ini didukung dengan kepemilikan kebun sendiri, sehingga mampu mendapatkan source teh yang berkualitas, yang mereka lakukan mulai dari awal pembibitan sehingga didapatkan bahan mentah teh basah yang berkualitas yang nantinya dioleh menjadi teh kering. Dukungan lain kepemilikian pabrik modern yang menggunakan tehnologi modern dan sistem kualitas.

Management Sosro secara umum, selain terkenal memiliki jaringan distribusi yang handal, mereka handal dalam strategi pemasaran yang selalu mengikuti perkembangan jaman.

Berawal dari kepercayaan mereka bahwa budaya minum teh sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya, mereka mencoba terus mengikuti gaya hidup masyarakat yang terus berkembang.

Khusus untuk teh kering Celup Sosro, mereka mencoba menghubungkannya dengan gaya hidup modern yang mobile. Dengan target market wanita usia 19-49 tahun, kaum urban dan modern moms, mereka mencoba memadukan teh dan gaya hidup dengan Miracle Packaging concept yang diharapkan dapat memberikan sentuah emosi, gampang diingat, interaktif dan menambah pengalaman.

Berkaitan dengan perkembangan gaya hidup modern yang mobile, mereka memanjakan pelanggan setia teh Celup Sosro dengan mengeluarkan aplikasi Handphone yang merupakan qualitea life mobile guide. Aplikasi tersebut berisi fitur-fitur menarik dan bermanfaat mengenai cerita-cerita yang mengundang inspirasi, wisata budaya, wisata kuliner, hotel serta percakapan dalam bahasa setempat. Untuk saat ini baru Jakarta, Bandung dan Bali yang masuk ke dalam directory.

Untuk menunjang semua itu, mereka juga merubah kemasan dengan tema Augmented Reallity, yang merupakan terobosan tehnology yang memukau yang diharapkan dapat menampilkan ”Keajaiban kemasan teh celup Sosro”, menjadi sebuah kemasan yang hidup.

Sebuah strategi marketing yang sangat menarik. Walaupun begitu saya akan memberikan catatan sesuai dengan opini saya terhadap dua program mereka, Qualitea Life Mobile Guide dan Augmented Reality.

Menawarkan aplikasi dalam gadget untuk penunjang gaya hidup modern memang sangat menarik. Hanya saya masih belum begitu mengerti sejauh mana hal ini akan memberi efek terhadap teh celup Sosro.

Sebelum memberikan pandangan saya terhadap program ini, saya akan mengelompokkan pasar-pasar para peminum berdasarkan versi saya.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, golongan kelompok peminum teh, saya bagi menjadi tiga bagian, yaitu Tea Connoisseur, Executive moderate dan Urban Pop.

Tea Connoisseur saya kelompokkan untuk mereka yang sangat mengerti tentang teh, memiliki waktu dan mau menyeduh teh dengan tata cara tertentu sesuai dengan jenis teh ataupun budaya menyeduh teh yang berbeda-beda di masing-masing negara. Paling tidak mereka memiliki pengetahuan, tentang hal tersebut. Kelompok ini begitu concern terhadap kualitas teh, sehingga mereka hampir selalu menggunakan teh kering, bukan teh celup.

Executive moderate saya kelompokkan untuk mereka yang menyukai teh-teh Import, terutama teh Inggris. Mereka biasanya lebih mengenal merk dari pada jenis teh. Teh-teh bermerk terkenal seperti Twining, Tetley atau Dilmah sangat mereka gemari. Kelompok ini di dominasi kalangan menengah ke atas, kaum executive yang suka nongkrong di Cafe-cafe.

Urban Pop saya kelompokan untuk mereka yang gaya hidupnya lebih ngepop, sebagian kalangan komuter yang banyak menghabiskan waktunya di jalan,.

Sebagian dari mereka terjebak dalam pola hidup tidak sehat, stress karena presure pekerjaan, sering makan makanan junk Food, pola makan tidak teratur. Mereka mulai tahu dan sadar bahwa minum teh cukup bermanfaat buat kesehatan, dan menganggap minum teh adalah sebagai penyeimbang dari pola hidup mereka yang kurang sehat. Mereka juga suka hal-hal yang praktis yang tidak buang-buang waktu.

Dalam kelompok versi saya, peminum teh Celup Sosro masuk dalam golongan Urban Pop. Sedangkan dalam target market versi Gunung Slamat, golongan yang mereka bidik adalah gabungan executive moderate dan Urban pop.

Sekarang saya coba bahas, bagaimana program Qualitea life dan Augmentend really, dalam hubungannya dengan target market yang dibidik.

Pertama soal kemasan, sebagai orang yang dapat dikatakan awam terhadap design, saya memang tidak menemukan sesuatu yang baru dalam perubahan kemasan mereka. Bahkan, kalau tidak membandingkan dengan kemasan yang lama, tidak terlalu tampak perbedaannya. Penggunakan logo, gambar, pilihan Font dapat dikatakan hampir sama. Hanya warna yang memang berubah, dimana dalam kemasan lama warnanya sangat merah, dalam kemasan baru warnanya merupakan gradasi warna merah, oranye dan kuning. Kemasan baru memang terasa fresh dan modern. Evolusi kemasan (kalau dapat dikatakan demikian), memang merupakan salah satu strategi yang digunakan. Menurut pak Daniel Surya, Country Director dari the Brand Union Jakarta, walau kemasan baru, tetap tidak melupakan asal muasal.

Walau secara sekilas tidak ada perubahan yang mencolok, tetapi sebenarnya kemasan baru tersebut secara tekhnologi dapat dikatakan revolusioner. Mereka menyebutnya Augmented Reallity. Dengan bantuan tehnologi komputer, setelah kita menginstall software khusus di komputer kita, kemasan tersebut mampu menampilkan gambar bahkan video.

Dengan mengarahkan webcam pada kemasan Teh Celup Sosro, di komputer kita seakan memunculkan suatu gambar rahasia yang tersembunyi di balik kemasan. Entah mungkin karena saya melihatnya sepintas, atau memang ini masih dalam taraf pengembangan, gambar atau video yang ditampilkan dalam keajaiban kemasan tersebut, belum memberikan pesan khusus.

Padahal gambar-gambar tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, mengenai manfaat teh misalnya. Atau tip trik cara seduh teh yang baik dan benar.

Kedua qualitea life mobile guide, tentunya merupakan sebuah kebutuhan bagi mereka yang selalu mobile.

Anda dapat mengunduh fasilitas ini secara gratis lewat www.qualitealife.com ke ponsel Anda. Bluetooth, infrared, data kabel dari ponsel dan komputer anda dapat menginstall program tersebut ke dalam ponsel anda. Dalam program in janda akan mendapatkan fitur-fitur direktori tempat-tempat, seperti lokasi dan peta restoran, hotel, tourist spot, lokasi budaya dan wisata, bahkan ada daftar nomor telepon darurat.

Sebuah usaha yang cukup menarik untuk meningkatkan citra teh celup Sosro.

Ibu Meicy, dari Gunung Slamat menjelaskan, bahwa untuk kualitas tehpun dilakukan peningkatan kualitas. Kalau dulu digunakan grade dust, sekarang sudah digunakan grade fanning.

Akan lebih mengesankan lagi, kalau perubahan kemasan juga dibarengi peningkatan kemasan di dalamnya.

Beberapa kelemahan dasar produk-produk teh Indonesia adalah tidak diperhatikannnya kemasan sebagai alat untuk menjaga aroma dan rasa teh itu sendiri.

Teh, seperti halnya kopi, kesegaran daun teh keringnya harus selalu terjaga. Musuh utama dari teh adalah udara dan cahaya langsung. Selain itu sifat teh juga menyerap aroma yang ada disekitarnya. Itu sebabnya beberapa produk teh kualitas tinggi selalu membungkus teh dalam kemasan aluminium foil. Kemasan ini, hingga saat ini masih merupakan bahan terbaik untuk melindungi teh dari oksidasi udara dan pengaruh aroma dari luar teh.

Kebanyakan, teh-teh kita hanya dibungkus plastik bening, atau sekedar dimasukkan begitu saja ke dalma kemasan luarnya. Dapat dibayangkan, perjalanan panjang teh hingga sampai ke tangan pembeli akhir, harus melewati beberapa moda angkutan. Kemudian di tangan pengecer, melewati beberapa macam ruangan dengan aneka aroma segala rupa. Ketika dipajang di supermarketpun bercampur dengan aneka aroma lain yang ada disana.

Pada saat teh tersebut pindah ke tangan pengguna akhir, di tempat penyimpanan keluarga, boleh jadi teh tersebut disimpan di dapur, dimana disana sudah menunggu aroma bumbu masak lainnya.

Seringkali saya mendapatkan teh-teh yang semestinya tidak terlalu buruk, tetapi dengan sangat sederhanya kemasan, membuat teh ini cepat berbau apek.

Nah dengan adanya perubahan kemasan dan tehnologi, peningkatan kualitas produk yang digunakan, juga inner kemasan, mestinya akan menjadikan teh Celup Sosro bisa berdiri setingkat di atas pesaingnya.

Thursday, 26 March 2009

Teh Cap Botol Premium

Kalau anda dilahirkan dan dibesarkan di Jawa, tentunya sudah tidak asing lagi dengan teh wangi. Ada berbagai merek yang masing-masing memiliki penggemar fanatik. Ada merek-merek yang menguasai pasar regional seperti Dandang, Nyapu, Balap, Sintren. Beberapa merek lain yang cukup dikenal di perkotaan adalah Cap Botol, Tong Tji dan 2 Tang dan Gopek.


Saya pernah mereview khusus ke empat merk terakhir. Walau kesimpulan terakhir saya lebih memilih cap Botol, tetap saja saya merasa belum puas karena tangkai dan batang teh cukup mengusik dan mengganggu.


Saya sempat bermimpi, apa mungkin kalau saya pesan kualitas premium, dimana saya mendapatkan daun-daun utuh tanpa batang.

Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk bermimpi, karena beruntung sekali saya dapat berkenalan dengan pak Budi HS, marketing manager dari Gunung Slamat, sebuah perusahaan teh yang memproduksi teh cap Botol dan Poci. Beliau mengundang saya untuk melakukan tea tasting di kantornya.

“Kami masih pasarkan di supermarket kecil, macam Naga dan Gelael pak”, demikian penjelasan pak Budi. “Untuk pasaran lokal memang kurang disukai, karena teh ini tidak bisa nasgithel seperti halnya cap Botol warna hijau atau biru. Teh inilah yang digunakan untuk membuat teh botol Sosro”.


Disini terjawab dengan jelas, bahwa kalau selama ini orang banyak menduga teh botol Sosro adalah teh hitam adalah salah besar. Penjelasan pak Budi juga menjawab beberapa persepsi yang keliru yang mengatakan bahwa teh wangi adalah teh hitam.


Menurut pak Budi, bahan dasar yang dipakai untuk membuat teh wangi adalah teh hijau. Khusus untuk kualitas premium, digunakan grade Pekoe Super.


Dalam situs Sosro, dijelaskan bahwa untuk teh hijau mereka ada tiga macam sortiran, yaitu Peko, Jikeng (daun tua), Kempring (remukan daun) dan tulang. Sedangkan untuk teh hijau kualitas tinggi, seperti teh cap pucuk sari misalnya, kualitas Peco dibagi lagi menjadi beberapa grade, yaitu Gun Powder, Pekoe Super dan Pekoe. Dibawah itu adalah grade Fanning dan Dust, yang biasanya digunakan untuk bahan teh celup.


Proses pewangian teh adalah dengan cara terlebih dahulu melembabkan teh hijau (yang sebenarnya telah dikeringkan). Tujuan proses pelembaban ini adalah agar supaya teh dapat menyerap aroma melati yang akan dicampurkan. Yang perlu diketahui adalah, bunga melati hanya diambil aromanya saja. Setelah dibiarkan semalaman, bunga melati tersebut akan diblow up dan terpisah dari teh daun tehnya.


Kalau ada yang tercampur di dalam teh, kalau tidak “katutan” mungkin sebagai hiasan untuk menandai bahwa teh tersebut beraroma melati.


Bunga melati yang digunakan juga bukan bunga melati sembarangan. Bunga yang dipakai adalah bunga yang siap mekar. Menurut pak Budi ada jenis macam bunga melati yang dipakai, yaitu Bunga Melati (jasminum sambac) yang diambil dari daerah pantura (pemalang, pekalongan) dan bunga melati gambir (jasminum Officinale) diambil dari daerah pegunungan di dekat Slawi. Bunga ini harus diambil dalam keadaan segar, sebab kalau tidak bisa-bisa aromanya sudah menghilang ketika mau digunakan. Itu sebabnya, kenapa pabrik teh wangi selalu berada di daerah pantura seperti tegal, slawi, pekalongan dikarenakan lebih mendekatkan kepada sumber bunga melatinya.


Penambahan bunga melati juga bukannya tanpa alasan. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pohon teh yang di tanam di Indonesia adalah varians dari Assamica. Varians ini ditanam dan disebar luaskan d Indonesia, karena kebetulan Belanda yang pada waktu itu membudidayakan teh di Indonesia, ingin menjual tehnya di pasar Eropa, yang kebetulan lebih suka teh hitam varians Assamica.


Teh varians Assamica, ketika dibuat menjadi teh hijau, aroma dan rasanya kurang enak. Kalau dalam bahasa Jawa disebut sebagai langu. Untuk mengatasi rasa enak tersebut, maka dicampurlah dengan melati. Selain itu, sebenarnya teh hijau Assamica juga terlalu sepat. Itu sebabnya teh wangi melati, kalau diseduhnya pekat, lebih enak diminum dengan gula.


Inilah keunikan teh hijau wangi melati. Sekalipun teh hijau treatment yang dilakukan mirip teh hitam. Selain diseduh dengan air mendidih (sekitar 100ºC), juga diminum dengan gula. Teh wangi melati inilah yang digunakan untuk menyeduh teh ala teh poci, yang menjadi tradisi di Tegal dan sekitarnya.


Dalam photo dibawah, saya lampirkan photo teh cap botol dan cap botol premium. Tampak jelas dari daun teh kering cap Botol, tampak besar-besar (Jikeng?), dengan ranting yang besar pula, Selain itu tampak juga serpihan warna putih, bunga melati. Sedangkan photo cap Botol premium, gulungan daun terlihat lebih kecil. Tangkai daun masih terlihat juga, dengan ukuran lebih kecil. Sama sekali tidak tampak serpihan bunga melati. Aroma melatinya tidak terlalu tajam.. Daunya masih berwarna hijau tua, dan ukurannya masih cenderung utuh, sekalipun masih tercampur tangkai daun kecil-kecil.


Khusus teh hijau cap botol Premium, aroma melatinya tidak terlalu tajam. Kalau dilihat dari daun teh keringnya, sama sekali tidak tampak serpihan bunga melati di dalamnya. Daunya masih berwarna hijau tua, dan ukurannya masih cenderung utuh, sekalipun masih tercampur tangkai daun kecil-kecil. Seduhan yang disarankan adalah satu sendok makan teh, untuk ukuran 300 ml air, dengan lama seduh 3-5 menit. Ampas bekas seduhan terlihat daun hijau segar dan cenderung utuh.


Bagi penggemar teh wangi, teh cap Botol premium merupakan teh wangi kualitas tertinggi diantara teh wangi dipasaran yang ada.


Mungkin teman-teman pernah beberapa kali mencoba membuat es teh manis, tetapi kok tidak mendapatkan rasa yang mendekati rasa teh botol Sosro (baca tea tasting di Gunung slamat). Karena merupakan bahan yang sama yang digunakan untuk proses produksi teh botol, seduhan teh ini sangat terasa teh botol Sosro sekali.


Beberapa teman dan keluarga saya langsung jatuh cinta ketika mencoba teh ini. Sama halnya dengan beberapa teh kualitas tinggi lainnya, pertanyaan yang susah dijawab adalah ketika mereka menanyakan, “Dapat dibeli dimana?”

Thursday, 9 October 2008

Mengungkap rahasia teh botol Sosro

Popularitas teh botol Sosro tentunya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan beberapa pemain besar seperi Coca Cola masih tak berdaya dibuatnya. Distribusi Coca cola belum bisa menggeser pasar teh botol. Beberapa pemain yang mencoba memasuki pasar tersebut juga masih terengah-engah untuk mengejarnya. Teh Kita, sudah ada tidak kabar beritanya. Fresh tea masih mencari-cari jati diri.


Sebenarnya apa sih yang membuat teh botol ini begitu popular?

Dari beberapa sumber memang banyak yang mengatakan bahwa kekuatan Sosro ada pada sistem distribusi mereka. Dimana-mana dengan mudahnya dapat ditemukan teh botol sosro. Di kaki lima, di warung makan, warteg, nasi padang, restoran, hampir selalu tersedia teh botol. Hanya memang belakangan ini ada sedikit strategi monopoli dari pesaing, sehingga beberapa tempat di Mall atau warung makan hanya menjual teh merk tertentu. Walau sedikit menggoyahkan sistim distribusi teh botol sosro, tetapi tampaknya belum dapat menggoyang brand image dari teh botol.


Ya, memang selain dari kekuatan distribusi, brand image teh botol sudah terlanjur melekat kuat di benak konsumen. Beberapa slogan yang kreatif dan kuat tampaknya cukup berhasil meninggalkan citra yang kuat. Seperti slogan terbaru sekarang, apapun makannya minumnya teh botol sosro, Hari-hari teh botol, dsb.

Apakah dengan iklan dan promosi saja sudah cukup untuk menjaga loyalitas konsumennya?

Kekuatan lain dari teh botol adalah pada rasanya. Beberapa konsumen teh botol yang loyal selalu mengatakan rasa teh botol adalah yang terbaik. Wangi melati tidak terlalu kuat, kekenthalan dan rasa manis yang pas, adalah kombinasi terbaik yang dirasakan.


Beberapa pesaing dikatakan ada yang tehnya terlalu entheng, wangi melatinya seperti air rendaman melati.

Jadi tampaknya slogan Sosro ahlinya teh memang bukan sekedar omong kosong belaka.

Sebenarnya sudah lama saya pingin tahu lebih banyak bagaimana tentang teh Sosro. Ada beberapa isue dan pertanyaan yang mesti saya buktikan kebenarannya. Salah satunya adalah teh botol itu teh hijau atau teh hitam?

Beberapa teman berpendapat bahwa teh botol adalah teh hitam, atau paling tidak dicampur dengan teh hitam (untuk mendapatkan warna yang gelap). Pendapat ini didasarkan pada beberapa fakta yang mengatakan bahwa Sosro juga membeli teh dari beberapa perkebunanan teh Nusantara, yang nota bene kebanyakan produksinya adalah teh hitam.


Pucuk dicinta ulam tiba, begitu peribahasa yang tepat untuk menggambarkan keberuntungan saya. Beberapa waktu yang lalu, pak Budi HS, Marketing Manager dari PT. Gunung Slamat, mengundang saya untuk tea tasting di kantornya di bilangan Artha Gading, Jakarta. PT. Gunung Slamat adalah perusahaan yang memproduksi dan memasarkan teh kering dalam kemasan. Sedangkan PT. Sinar Sosro adalah sebagai beverage company yang hanya memproduksi teh dalam bentuk Liquid alias siap minum. Kebutuhan teh kering untuk memproduksi liquid tea dari PT. Sinar Sosro di supply dari PT. Gunung Slamat.


PT. Gunung Slamat memiliki perkebunan teh yang menghasilkan teh hitam dan teh hijau. Khusus untuk teh hitam, mereka juga membeli dari beberapa perkebunan lain di Indonesia.

Dalam kesempatan tea tasting tersebut saya diperkenalkan dengan bapak Ernest. Beliau adalah tea taster yang sangat berpengalaman. Beliau pernah bekerja di PT. Lipton di kawasan Nuwara Eliya, yang dikenal sebagai the campagne of Ceylon tea.


Menurut pak Ernest, teh hitam untuk digunakan untuk produksi Fruit Tea. Sedangkan untuk teh botol digunakan teh hijau wangi melati.Khusus untuk fruit tea liquid selalu digunakan grade BOP. Sedangkan grade dust dan fanning digunakan untuk produksi teh celup.

“Teh memerlukan 2/3 ruangan untuk mengembang”, demikian penjelasan pak Ernest. “Itu sebabnya, untuk teh celup hanya digunakan grade dust dan Fanning. Kalau digunakan grade BOP, membutuhkan kantong yang besar, dan tentunya tidak efiesien lagi kalau dijual dalam bentuk teh celup”


Khusus untuk teh kering hitam, digunakan grade broken mix. Teh ini dipasarkan dengan merk teh Poci.

Sedangkan untuk teh botol digunakan teh hijau wangi melati premium grade. Grade ini dihasilkan dari proses flavoring teh hijau grade pekoe super dengan melati gambir, atau melati dari gunung. Sedangkan teh hijau wangi melati grade dust digunakan untuk teh wangi melati celup.


“Inilah biangnya teh botol”, kata pak Budi sambil memberikan saya sample teh cap botol premium. Teh ini sebenarnya mirip dengan teh cap botol warna hijau dan biru yang biasa ditemukan dipasaran, bedanya teh ini hampir semua daun besar, dan sangat sedikit sekali terdapat tangkai daun. Wangi melatinya yang tidak terlalu tajam, mengingatkan saya pada aroma dragon pearl, chinese jasmine tea.


“Kami hanya mengambil aroma melatinya saja,” begitu penjelasan pak Budi.

“Bunga melati keringnya kami sisihkan.” Penjelasan pak Budi benar adanya. Meskipun teh cap botol premium ini beraroma lembut wangi melati, tetapi tidak tampak ada serpihan bunga melati di dalam tehnya.


Mengenai beberapa isue yang mengatakan teh botol Sosro dicampur dengan teh hitam, dari awal saya menduga bahwa kemungkinan itu kecil. Salah satu prosedur dalam melakukan tea blending adalah hanya mencampur teh yang sejenis. Jadi teh hitam hanya diblend dengan teh hitam, teh hijau dengan teh hijau.

Saya pernah mencoba mencampur teh putih dengan teh hitam untuk maksud mengambil aroma teh putih yang sangat wangi. Hasilnya saya mendapatkan rasa yang kacau balau.


Hal ini dibenarkan oleh pak Ernest. Jadi menurut beliau tidak mungkin mereka mencampur teh hitam dengan teh hijau. Menanggap isue tentang pembelian teh hitam dari perkebunan nusantara dikatakan bahwa hal tersebut untuk keperluan produksi fruit tea dan teh hitam celup.


Selesai tea tasting, saya mendapatkan bingkisan satu set teh poci dan teh wangi melati cap botol grade premium (khusus teh ini akan saya review dalam tulisan tersendiri).


“Nanti dilain kesempatan saya undang bapak ke Slawi. Disana tea tasting teh wangi melati beda dari tea tasting pada umumnya”, pak Budi memberikan penawaran yang tentu saja saya akan dengan senang hati menerimanya.



Photo-photo lain dapat dilihat di

http://laresolo.multiply.com/photos/album/92/Tea_Tasting_di_kantor_Gunung_Slamat

Sunday, 27 January 2008

Teh hitam Kertowono


Entah untuk keberapa kalinya, betapa saya sangat merasa beruntung memiliki teman-teman di dunia maya. Terkadang teman-teman tersebut tidak disangka-sangka tetangga dekat, Cuma beda komplek perumahan belaka. Salah satu teman saya dari milist Jalansutra dan milis pecinta teh adalah mas Dayat, yang ternyata selain penggemar teh, juga memiliki pengetahuan yang cukup luas. Dari beliau akhirnya saya mendapatkan teh hitam Kertowono produksi PTPN XII.

Perkebunan teh Kertowono terletak di Gunung Bromo dan Semeru, tepatnya di Kecamatan Gusi Alit, kabupaten Lumajang Jawa Timur. Dari arsip tulisan website Republika, saya dapatkan informasi bahwa teh di perkebunan tersebut ditanam sejak tahun 1910 oleh NV Ticderman Van Kerchen, sebuah perusahan milik pemerintah belanda yang membuka lahan tersebut sejak 1875.

Kemasan teh berwarna hijau dengan gambar gajah dan gambar gunung cukup menarik. Hanya sayangnya, di dalam kemasan teh hanya dibungkus plastik bening biasa, bukannya aluminium foil. Seperti halnya teh tambi, di kemasan juga dituliskan sedikit informasi mengenai perkebunan teh serta petunjuk menyeduh teh. Berikut saya kutipkan informasi yang tertulis di kemasan sebagai perbandingan:

Teh hitam Kertowono diproduksi oleh PTPN XII (Persero) Kebun Kertowono Lumajang, berasal dari lereng pegunungan Bromo Tengger pada ketinggian 600 – 1250m DPL. Pemetikan daun teh berasal dari pucuk 2 daun dan diolah secara CTC.

Cara menyeduh teh yang benar:

1. Gunakan air dari mata air pegunungan atau air dengan rasa netral.

2. Panaskan air hingga mendidih 1 kali dan jangan terlalu lama atau mendidih 2 kali.

3. Masukkan bubuk teh ke dalam teko proselin/keramik selama 5 menit kemudian pisahkan ampasnya (disaring). 2 gram teh atau 1 peres sendok teh uncuk secangkir (140 ml) air yang telah mendidih.

4. Teh siap disajikan, tambahkan gula dan untuk variasi dapat ditambahkan jeruk atau susu.

5. Hindarkan menyimpan air teh pada thermos.

Suatu informasi yang cukup lengkap. Bahkan hingga diinformasikan jenis mesin pengolahnya, sekalipun mungkin untuk orang awam agak kurang dapat dimengerti artinya.

Saya informasikan kembali, bahwa untuk teh hitam ada dua metode pengolahan, yaitu sistem Orthodox dan CTC (Crush, Tear & Curl). Perbedaan dua metode tersebut adalah pada mesin pemotong daun tehnya. Kalau Orthodox menggunakan silinder untuk menggulung dan merobek daun teh, sedangkan metode CTC menggunakan pisau untuk mencacah daun teh.

Kalau berdasarkan informasi yang tertulis di kemasan, grade dari teh ini mestinya adalah BP. Kalau dibandingkan dengan Walini, warna daun teh kering jauh lebih hitam, hanya finestnya lebih kecil. Aroma wangi terasa menyerbak, baik sebelum dan sesudah diseduh. Rasa manis terasa, sekalipun belum dipakai gula. Dan sudah barang tentu jangan bandingkan manisnya dengan kada manis gula. Warna seduhan cukup bold, seperti halnya teh hitam CTC pada umumnya.