Showing posts with label liputan Media. Show all posts
Showing posts with label liputan Media. Show all posts

Saturday, 19 February 2011

Liputan Indah dari Jakarta Post

Satu liputan yang membuat saya sangat tersanjung. Tulisan ini ditulis oleh Arif Suryo, seorang kontributor Jakarta Post yang begitu serius dalam hal ekploring data, begitu cerewet dan detail ketika minta data, dan terlebih dia juga seorang pecinta teh yang rela mengorbankan waktu, uang, jarak dan waktu hanya untuk memburu kenikmatan secangkir teh.

Selain itu, pak Arif juga seorang translator. Tidak heran, kalau akhirnya artikel yang dia tulis menjadi sangat indah. Pemilihan kata-katanya sangat tidak biasa, tetapi memberikan arti yang begitu dalam. Appresiasi setinggi-tingginya untuk pak Arif dan terima kasih untuk Jakarta Post yang telah memuat artikel tersebut. Sebuah kehormatan yang sangat berarti buat saya.

Dibawah ini saya share tulisan tersebut yang saya copy paste dari http://www.thejakartapost.com/news/2011/02/13/tea-treasures-unassuming-stall.html


Tea treasures in an unassuming stall

Drinking tea is a pleasure for the senses as well as the mind.


A leisurely discussion, sharing information about tea with like-minded fellows is one of the best experiences and times spent in life. For me and many others, one particular venue for such good times is the Laresolo tea stall.

Designed in the style of a thatched bar at the Agripark Complex in Bogor, the simple, rustic and humble-but-cozy tea bar, operational since July 11, 2010, offers an excellent, intriguing and unusual selection of teas including blended and herbal teas, and at times, unique teas such as the early spring ya bao (bud treasure) which is a white pu-erh tea made of wild white camellia variety from Dehong, Western Yunnan, China.

Owned by Bambang Muhtar Rusdianto, a meticulous tea lover who is also co-founder and moderator of the Pecinta Teh (Tea Lover) club, the stall is basically a gourmet tea establishment disguised as an unassuming tea stall.

It may still have in its stock Indonesia’s finest, export-bound, top-quality teas. Some of them were recently introduced, such as the highly fragrant Bengkulu oolong tea and the organic, complex Banten oolong tea.

Some others have existed since long ago, such as the Tambi tea (from Wonosobo) and the full-bodied, strong-tasting Kajoe Aro tea (of the “dust” type) from the foot of Mt. Kerinci in Jambi.

Both teas have been exported to Europe since Dutch colonial times, with the latter being used extensively for blending and having reportedly filled the teacup of the late Queen Wilhelmina of the Netherlands and Queen Elizabeth II of Britain (as English breakfast tea). In general, these fine teas are not available in supermarkets throughout the country due to their extremely high prices and export status. Many Indonesians are not even cognizant of them.

So, by offering these teas as well as a selection of other excellent foreign teas at prices that senior high school and university students can swallow, the stall makes them affordable luxuries.

For example, a pot of chamomile tea (containing one Twinnings tea bag), which can be found in any major supermarket in Jakarta, cost me around Rp 40,000 (US$4.46) plus tax and service at a French “fine dining” restaurant in Kebayoran Baru, South Jakarta, a few years ago.

By contrast, a pot of chamomile tea I drank at the stall set me back just Rp 10,000 and what’s more, the chamo-mile is not in a tea bag, but dried, whole-flower chamomile whose flavors are much more wonderful than their bagged counterparts — which true tea connoisseurs normally despise.

However, availability is a luxury.

What is available today may no longer be available tomorrow. And what is no
longer available may never be available again.

This is especially true for teas that are not included on the menu such as a particular Qing Xin oolong tea with a delicate taste which Bambang refers to as “the last oolong tea in the world” because the plantation from which it comes, probably in the township of Guangxi, is no more to be found due to landslides from the 2008 Sichuan earthquake.

Another tea the stall used to have is a Mariage Frères tea named Wedding Imperial. It ran out quickly, which is not surprising because it coasts on the popular flavors with some sweet sensations loved by many: chocolate, toffee and caramel.

In spite of this, the teas that are listed on the stall’s menu are available most of the time, although changes in their sources, and thus their tastes, are inevitable as Bambang gets more advanced in sourcing his teas and creating his own blends.

The stall’s four best sellers, however, are teas that true tea connoisseurs often look down on because they are coasting on enhanced flavors and do not really bring out the best of the real tea (Camellia sinensis).

The four are a kuwini fragrant mango (Mangifera odorata)-flavored tea, After Dark (a blend of dried blackberry leaves, balm, peppermint, chamomile flowers, orange flowers, rose flowers, lemon grass and bilberry flowers), Red Berries (raspberry-cherry flavored herbal mixture of dried Hibiscus blossoms, elderberries, grapes, billberries and citrus peel), and Dream of Fruit (black tea, dried strawberries and raspberries).

They may occasionally be out of stock due to popular demand, which is indicative of where the taste of the public is going.

The stall’s signature teas are cold teas, notably green mint lemon tea, slowly brewed for 12 hours. It is a simple but great combination of flavors: a green tea and mint tea blend mixed with freshly peeled skins of deliciously fragrant imported lemons from a certain source which, unfortunately, is not always available on the market.

Another tea that tastes great when brewed cold is Banten oolong tea, arguably one of the country’s finest oolong teas. The cold brew of this tea gave me an uplifting, emotionally and intellectually stimulating and relaxing experience with its delightful encounter with carefully arranged rose, honeysuckle, nutty and lychee flavors and beyond.

A cold brew of the Tambi black tea (of the “Broken Orange Pekoe” type) whose taste hints at complex honey is another great-tasting tea.

Bambang aspires to set up a center of the world’s tea culture. But that would require a lot of investment. On Nov. 22 of last year, he managed to open another tea bar in a more modern setting at the food court of a shopping mall, Yogya Bogor Junction.

I wish him a lot of success with his venture. However, should his business grow by leaps and bounds, chances are that the stall would be relocated to a luxurious building or mall, transformed into a modern-day tea house, commercialized and franchised, and accessible only to upscale clientele.

This may set the law of effect in motion, thus making this type of business too crowded. And yet, before my thoughts ramble too far into the stereotypical predictability of the unpredictable future,
let’s have a cup of tea…

Tuesday, 31 August 2010

Laresolo: Merayakan Khazanah Teh Dunia

Kedai Teh Laresolo at Vivanews

Kedai ini memiliki koleksi teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih cukup lengkap.
Senin, 23 Agustus 2010, 15:13 WIB Bonardo Maulana Wahono



VIVAnews - Teh, orang bilang, menyimpan harapan. Sejarah keberadaannya yang berusia ribuan tahun serta menyentuh begitu banyak kebudayaan telah membuatnya begitu berwibawa. Tapi kurangnya pengetahuan masyarakat kita terhadap berlapis-lapis varian teh menyebabkan apresiasi terhadap minuman ini begitu rendah. Sementara di beberapa tempat kehadiran teh senantiasa dinantikan dengan penuh debar dan dibarengi upacara istimewa - misal Inggris, Cina, atau Jepang - kita kerap menganggapnya tak berharga.

Di tengah tandusnya penilaian baik itu, Kedai Teh Laresolo seakan membawa terang dan meneruskan harapan. Tempatnya berdiri mungkin tak terlihat 'canggih' jika dibandingkan dengan kedai-kedai kopi nomor satu yang ada di Jakarta. Namun dari pojok yang bersahaja itu, di kompleks Agri Park, Taman Kencana, Bogor, nan teduh, para pengunjung dapat mencecap bentangan rasa teh yang didapatkan dari beberapa negara.

Warung yang disusun dari bilah-bilah bambu itu cukup memiliki koleksi lengkap teh hitam, teh hijau, oolong, serta teh putih. Sebut saja Ti Kuan Yin (Ti Guan Yin), teh oolong Cina kualitas premium dari provinsi Fujian yang termasyhur itu. Atau oolong Bengkulu, sebuah varian teh Indonesia yang juga punya posisi mulia di industri ini. Kita juga dapat dengan mudah memesan teh putih (white tea) ketika sudah di sana. Teh putih terbuat hanya dari pucuk dauh teh, yang jumlahnya, dalam satu pohon, sangatlah sedikit, sesuatu yang mendongkrak harga jualnya. Pue erh juga tak boleh alpa disebutkan. Di dunia teh, pu erh dapat disejajarkan dengan anggur (wine) dari segi lama penyimpanan. Laresolo menyediakan teh pu erh yang sudah berusia empat tahun. Pemilik kedai ini, yang nyaman dipanggil Bambang Laresolo, memiliki teh yang berusia 15 tahun.
"Suhu amat mempengaruhi proses penyajian teh," tukas Pak Bambang ketika meracik Wedding Imperial untuk saya. Teh ini berasal dari Sri Lanka dan diracik oleh pabrik teh ternama asal Perancis, Mariage Freres. Setiap jenis teh memiliki suhu ideal yang diperlukan untuk mengungkapkan kelebihannya. Jika suhu air terlalu panas, rasa dan aroma teh akan rusak. Karena itu, merebus teh dalam air mendidih adalah sebuah keteledoran, ungkapnya.

Teh putih, contohnya. Suhu air terbaik untuk menyiapkan teh jenis itu berkisar antara 70-80 derajat Celsius. Setelah itu, lama merendam daun teh pada air cukup antara 1 sampai 5 menit. Teh hijau hanya butuh air yang bersuhu kurang lebih 60-70 derajat Celsius. Teh hijau cukup ditenggelamkan selama satu hingga dua menit. Sementara teh hitam dan oolong dapat disiapkan pada suhu air 90-95 derajat Celsius.


Laresolo, yang secara harafiah berarti Bocah Solo, resmi menghuni Agri Park pada bulan Juni yang basah tahun 2010. Dengan luas sekitar 2x2 meter persegi, kedai itu bertetangga dengan sebuah kolam yang menenangkan serta sehimpunan rumah makan. Pada awalnya, kedai itu semata merupakan, seperti yang termaktub dalam blog-nya, "kedai virtual" yang hanya terlibat dalam interaksi di jagat maya. Sebagaimana pengakuannya, dari internet pula ia berkenalan dengan dunia teh, yakni di milis jalan-jalan dan makan-makan Jalansutra. Di milis itu ia bertemu dengan orang-orang yang membuka jalannya untuk menyelami lebih dalam hal-ihwal teh. Persinggungan yang kian intensif itu kemudian mendorongnya untuk sering berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang teh di Jalansutra.

Salah satu hal yang ia bagikan adalah khasiat teh. Pak Bambang mendedahkan bahwa masing-masing teh menyasar pada bagian tubuh yang berbeda. Sebagai misal, khasiat teh hijau berbeda dengan teh oolong. "Teh hijau banyak mengandung asam amino, karena itu dia berguna untuk otak. Ia juga baik untuk kulit wajah," terangnya. Sedangkan teh oolong banyak berguna untuk kesehatan jantung. Bagi anda yang memiliki masalah pencernaan, cobalah untuk mengonsumsi teh Pu Erh secara teratur sebab ia bertanggung jawab pada wilayah perut.

Kebiasaan berbagi itu terus ia salurkan di Kedai Laresolo. Jika kebetulan sedang ada di sana, ia tak sungkan menjawab berbagai pertanyaan tentang teh. Ia juga tak terlihat ragu untuk merekomendasikan teh yang kiranya akan cocok dengan lidah para pelanggannya. Ia mungkin menamai tindakannya sebagai kewajiban melayani. Saya menyebutnya hospitality.

Ada cerita menarik mengenai keramah-tamahan ini, yang kini kian langka di dunia kuliner. Suatu ketika, ia bercerita, ada seorang gadis SD datang ke sana dengan seorang temannya. Mereka berniat membeli. Si gadis menanyakan harga termurah teh di kedai itu kepada salah satu stafnya. Setelah dijawab, si gadis kemudian beranjak sambil berkata "oh, ya udah. nggak jadi. Uangnya kurang."

Pak Bambang sedang menyiapkan komposisi teh leci yang pas ketika mendengar itu. Setelah sedikit percakapan, ia memberikan teh leci itu kepada si gadis dan temannya. "Dia tamu spesial saya. Butuh keberanian dan passion untuk bertanya apakah uangnya mencukupi," jelasnya. Dua hari kemudian, sang gadis datang lagi ke sana dengan empat temannya. Dan kali itu, mereka membawa cukup uang.

Teh, memang, menyimpan harapan. Dengan mematok harga sekitar Rp 5.000 hingga Rp 15.000, Laresolo tidak hanya meluaskan cakrawala lidah kita akan kekayaan rasa teh yang tak tepermanai. Ia juga sekaligus menyinggung kita akan kenikmatan berbagi.