Thursday, 6 May 2010

Unitea: Teh segala rasa

Mungkin judulnya sedikit lebay. Judul ini saya buat karena terinpirasi dari cerita tentang permen segala rasa di buku Harry Potter. Dalam Novel tersebut, diceritakan bahwa tiap permen yang dimasukkan kemulut, memberi kejutan rasa yang berbeda-beda. Teh ini, sesuai dengan namanya, Unitea, merupakan campuran dari tiga macam teh, yaitu Oolong, Hijau dan White tea. Teh ini dapat juga disebut sebagai unik tea. Karena, memang unik.

Keunikan pertama adalah, campuran teh ini sedikit keluar dari pakem. Blend tea, biasanya menggunakan teh dari jenis yang sama. Jadi teh hijau blend dengan teh hijau, atau dengan herbal lain. Misalnya teh hijau dengan daun mint.

Semula sedikit bingung, bagaimana cara seduh teh ini. White tea dan green tea biasanya diseduh menggunakan air sekitar 70 derajat, sedangkan Oolong, membutuhkan air yang lebih panas, sekitar 90 derajat.

Ketika saya tanyakan kepada pak Mustopha dari PT. Chakra (beliaulah yang mengkreasi teh ini), saya diberitahu untuk di treatment seperti halnya teh hijau. Oolong yang digunakan, masih kategori Oolong green, begitu asalannya.

Keunikan lain adalah, ketika kita menyendok teh untuk diseduh, akan tersusun komposisi yang berbeda untuk teko yang lainnya.

Kebetulan sendok saya mendapatkan komposisi Oolong yang lebih banyak, beberapa helai white tea dan teh hijau.

Ketika saya seduh, rasanya memang dominan Oolong. Rasa fruity, cukup menonjol, tetapi ada litle bit bitter khas teh hijau. White tea, kurang begitu terasa, karena kebetulan komposisinya tidak terlalu banyak.

Jadi itu yang saya maksud teh segala rasa. Anda bisa mendapatkan seduhan yang berbeda dari tiap takaran sendok teh yang diambil.

Monday, 19 April 2010

Morrocan Mint tea

Pada awalnya, sebenarnya saya kurang begitu suka dengan aroma mint. Sampai akhirnya, saya mencoba teh yang diblend dengan daun mint, selera saya jadi berubah.

Saya pertama kali mengenal blend teh dengan daun mint, ketika ada acara Warna-warni teh Indonesia, dimana pada waktu itu bekerja sama dengan jalansutra, saya dan Ratna Somantri ikut pameran dan mengisi talk show tentang teh.

Salah satu koleksi teh Ratna Somantri yang dipamerkan saat itu adalah Morrocan mint tea, keluaran Twinning. Morrocant mint Twinning merupakan blend teh hijau grade Gun Powder1, dengan daun mint kering. Satu hal yang membanggakan (atau mungkin menyedihkan), teh yang digunakan, produksi perkebunan teh Dewata di daerah Jawa Barat.

Morrocan mint, merupakan teh yang sangat digemari dan menjadi budaya ngeteh tersendiri di daerah Afrika Utara dan sebagian Arab. Teh ini disebut sebagai Tuareg Tea. Dalam dialel Arab disebut sebagai Attay

Teh yang digunakan adalah teh hijau pan Frying, grade Gun Powder atau Chunmee, kemudian ditambahkan daun mint segar dan gula. Cara penyeduhan, kurang lebih sama dengan penyeduhan teh wangi ala Indonesia, walaupun jenis teh hijau, tetapi digunakan air mendidih.


Step pertama penyeduhan, mirip dengan penyeduhan teh china, seduhan pertama dibuang airnya untuk menghilangkan debu yang timbul akibat rusaknya teh selama transportasi, dan juga sedikit mengurangi rasa sepat. Kemudian ditambahkan gula dan daun mint segar, seduh sekitar 3-menit, tuang ke gelas. Terkadang dari gelas, tuang kembali ke teko, tuang ke gelas, diulang sampai tiga kali supaya rasanya lebih tercampur.

Teko yang digunakan adalah teko tradisional dengan leher panjang berbentuk V. Dengan teko model seperti itu,memungkinkan teh dituang ke dalam gelas kecil dari ketinggian sekitar ½ meter, sehingga teh yang tertuang di cangkir akan sedikit muncul busa dipermukaannya.

Saya mulai menyukai mint tea, ketika bersama teman-teman dari milist pecinta teh berkunjung ke kebun teh Dewata, sebelum terjadi bencana longsor. Disana kami disuguhi teh hijau Yabukita, dengan ditambahkan daun mint segar. Entah karena suasana yang dingin, daun mint terasa sangat menyegarkan dan membuat lebih fresh.

Pada waktu itu saya juga baru tahu, kalau ternyata di Indonesia banyak sekali ditanam daun mint. Kuper ya. Bahkan, istri saya bercerita, kalau di Garut, daerah asal nenek moyang dia, daun mint biasa dibuat lalapan. Disana disebutnya daun colgate, karena rasanya mirip salah satu merek pasta gigi.

Beberapa waktu yang lalu, pak Robby Baddudin, pemilik kebun teh Dewata, memberi saya sample Teh hijau mint produksi mereka sendiri. Berbeda dengan Morrocan minta buatan Twinning, grade yang digunakan kali ini adalah Chunmee. Sedangkan daun mint yang digunakan diambil dari kebun sendiri, yang kemudian dikeringkan.

Perbedaan Gun Powder dan Chunmee adalah bentuknya. Gun Powder berbentuk bulat-bulat, sedangkan chunmee bentuknya memanjang. Ketika saya buka kemasannya, aroma mint langsung menyeruak menyegarkan.

Segera saya siapkan air mendidih untuk menyeduhnya. Saya bilas sebentar dengan air mendidih untuk mengurangi debu remukan teh yang rusak. Karena saya tidak minum teh manis, lama seduhan Cuma sekitar 90 detik saja. Dengan waktu seduh 90 detik, aroma teh dan mint sudah keluar, tetapi rasa sepat khas teh hijau assamica tidaklah terlalu mengganggu. Kecuali kalau memang mau ditambahkan gula, seduhan bisa dilakukan 3-5 menit.

Segar sekali rasanya. Aroma mint dan rasa khas sepat teh Indonesia berbaur menjadi satu. Aroma mint ini, juga berfungsi menghilangkan bau langu yang biasa terdapat dalam teh hijau varians assamica. Kalau biasanya, kita hanya mengenal teh hijau dengan flavouring wangi melati, ternyata ditambahkan daun mint okay juga. Bagi yang masih menjadi anggota peminum teh manis, teh ini masih cocok juga. Mau coba?

Sebenarnya anda bisa menambahkan sendiri daun mint segar kedalam teh hijau anda. Cuma agak hati-hati, jangan sampai daun mintnya kena panas langsung. Ini akan mengakibatkan daun mint berwarna kehitaman, dan baunya agak kurang menyenangkan. Sedikit kelemahan menggunakan daun mint segar, teh tidak bisa diseduh lebih dari satu kali. Seduhan kedua, aroma daun mint sudah kurang nyaman. Kecuali anda ganti daun mintnya dengan yang baru.

Monday, 22 March 2010

White tea tasting

Tampaknya white tea akhir-akhir ini sedang naik daun. Kandungan EGCG yang tinggi, yang bermanfaat untuk aktioksidan, banyak yang mengasosiasikannya bermanfaat buat kecantikan. Banyak sekali produk komestik yang menambahkan kandungan white tea ke dalam produk mereka. Mungkin saja ada benarnya, mengingat antioksidan bermanfaat buat penangkal kerusakan sel dari pengaruh radikal bebas. Dengan dijaganya sel-sel dari kerusakan, white tea dipercaya dapat membuat awet muda.

Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa white paling banyak bermanfaat sebagai anti kanker. Juga disebutkan bahwa white tea memiliki kandungan antiviral dan antibakterial lebih tinggi dibanding teh hijau.

Kepopuleran white tea, makin bertambah seiring dengan musibah yang menimpa kebun teh Dewata. Entah apa sebabnya dalam berita yang disajikan, disebutkan Kebun teh Dewata sebagai penghasil teh putih, walau sebenarnya kebun ini juga menghasilkan jenis teh lain seperti green tea Gun Powder dan juga Sencha. Bahkan beberapa orang yang baru saya kenal, dan ketika saya ajak ngobrol soal teh, mereka langsung menanyakan, apa itu teh putih. Saya katakan dari mana tahu tentang teh putih. Mereka jawab, dari berita di Televisi yang meliput musibah longsor di kebun teh Dewata.

Tak kurang dari Malino Tea rupanya juga mencoba membuat white tea. Beberapa waktu yang lalu saya sempat di Undang oleh salah satu direksi dari Malino, ibu Diah untuk diperlihatkan hasil percobaan produksi teh putih mereka.

“Apakah white tea harus selalu putih?”, demikian pertanyaan pertama yang tercetus. Pertanyaan itu muncul, karena white yang diperlihatkan kepada saya berwarna kehitaman, dengan seleret putih, yang mengingatkan saya dengan Grey Dragon punya kebun teh Dewata (tulisan berikutnya saya akan mereview tentang Grey Dragon ini).

Logikanya, disebut white tea, dikarenakan warna daun teh keringnya berwarna putih keperakan. Di China white tea disebut sebagai Yinzhen, kalau diartikan dalam bahasa Inggris disebut sebagai Silver Needle. Bentuknya yang runcing seperti jarum, dengan warna putih keperakan.

White tea dari Malino ada dua macam, yaitu dari varians Assamica Klon TRI, dan varians Sinensis dari klon Yabukita. Saya teringat, bahwa saya juga memiliki stock white tea Sinensis dari Fujian China, dan Assamica dari Dewata. Semula saya mengira klon yang digunakan oleh Dewata adalah Klon Gambung, seperti kebanyakan kebun teh Indonesia. Tetapi menurut pak Robby dari Kabepe Chakra, klon yang digunakaan adalah Klon Dewata 27. Klon ini merupakan hybrid antara varians Sinensis dan Assamica.

Supaya tahu perbedaan dari masing-masing white tea tersebut, saya lakukan tea tasting bersama-sama. Dari beberapa pengalaman saya, ternyata treatment penyeduhan white tea assamica dan sinensis sedikit berbeda. Untuk Assamica, lama brewing cukup 3 menit. Lebih dari itu akan overbrew, dan menimbulkan astringency yang kurang menyenangkan. Sedangkan untuk varians Sinensis, justru 3 menit, belum keluar semua rasa dan aroma. Minimal seduh 5 menit, baru keluar semua.

Supaya lebih adil, membandingkan dari dua jenis varians yang sama. Jadi pertama-tama saya seduh white tea assamica TRI dan Dewata 27.

Secara appearance, Dewata 27 paling cantik. Teh hanya terdiri dari pucuk daun yang masih kuncup, dengan warna putih jernih. TRI, seperti yang saya ceritakan di awal, tampaknya memang teroksidasi, sehingga warnanya kehitaman. Walaupun begitu, secara aroma memang wangi sekali, mengingatkan saya wangi rose, hanya sedikit grassy.

Warna seduhan, Dewata 27 kelihatan jernih dan bening, sedang TRI putih kecoklatan.

Untuk rasa, saya membenarkan pendapat beberapa teman mengenai white tea assamica, ada rasa buah lengkeng. Apalagi ketika sedikit bersendawa, rasa buah lengkengnya terasa banget. Beberapa orang luar, mengatakan rasanya Peachy. Mungkin karena mereka belum kenal buah lengkeng ya, tahunya buah peach. Kalau dibandingkan dengan rasa peachy di teh Darjeeling, tentu beda. Kalau mereka kenal buah lengkeng, mungkin akan menyebutnya rasanya Lengky he..he...

Sedang TRI, rasa fruity ada Cuma perbendaharaan memory saya belum ketemu buah apa yang pas. Aroma wanginya terasa panjang, tetapi juga grassy.

Rasa grassy, mungkin karena proses pengeringan yang belum sempurna. Hal ini juga tampak dari daun teh kering yang terasa agak lembek belum terlalu kering. Mengingat ini masih percobaan, dan kondisi cuaca juga tidak bagus, mungkin saya hasil percobaannya belum terlalu sempurna.

Berikutnya saya seduh white tea dari Fujian dan Yabukita. White tea Fujian saya dapat dari Terry, member milis pecinta teh.

Untuk lebih mudahnya White tea Fujian saya sebut Yinzhen, sedangkan Malino saya sebut Yabukita white.

Warna Yinzhen putih sedikit kehijauan. Beberapa daun sedikit hancur. Kemungkinan karena pada saat terima kondisinya dipacking dengan sistem vakum. White tea memang sangat rapuh banget, kalau divakum akan banyak yang hancur. Yabukita white, kondisinya sama mirip dengan TRI, tampak teroksidasi.

Warna seduhan Yinzhen, bening, sedikit kuning keemasan. Warna Yabukita white, lebih tebal cenderung kekuningan. Aroma seduhan, tidak seperti white tea lainnya yang biasanya flowery, Yinzhen jutru aromanya nutty, demikian juga rasanya, dan diakhiri dengan rasa manis. Rasa Nutty, sangat mirip dengan Longjing, dari Huang Zhou. Dari beberapa pengalaman saya menyeduh green tea dari China, kebanyakan memang rasa dan aroma nutty.Mungkin itu salah satu ciri khas teh China.

Sedangkan rasa Yabukita juga cukup manis.

Kebetulan tema gathering dari milist pecinta teh adalah White tea, nanti saya akan membawa teh ini untuk dicoba bersama-sama. Kalau dulu pernah dilakukan tea tasting white tea dari beberapa grade (semuanya sinensis), seperti Yinzhen, Bai Mudan, Shou Mei, gathering nanti juga akan dicoba White tea dari varians yang lain.

Sedikit catatan mengenai perbedaan white tea varians Assamica dan Sinensis. Untuk takaran, tetap digunakan takaran yang sama, dan jumlah takaran 2 kali dari takaran teh jenis lainnya. Waktu seduh Assamica cukup 3 menit seduhan pertama, dan hanya enak diseduh 2 kali saja. Seduhan kedua bisa 4 menit. Seduhan ketiga, biasanya rasa sepetnya sudah cukup mengganggu. Hanya sebagian orang justru suka dengan rasa sepet ini. Selain itu, rasa sepet bisa juga sebagai pertanda bahwa kandungan katekinnya tinggi. Dalam tulisan terdahulu, pernah saya singgung, bahwa kandungan katekin teh Indonesia memang jauh lebih tinggi dibandingkan teh Varians Sinensis dari China maupun Jepang.

White tea varians Sinensis, seduhan pertama minimal 5 menit, dan dapat diseduh ulang 3-4 kali. Untuk aroma, saya lebih suka varians assamica, karena aroma wanginya sangat kuat. Hanya untuk rasa dan after taste varians Sinensis tidak ada rasa sepet yang bagi saya terkadang cukup mengganggu.

Sunday, 14 March 2010

Duka di Lembah Dewata

“Saya suka bekerja disini, karena pemilik kebun ini sayang sama kita semua.Tetapi, sekarang kami harus bagaimana”, begitulah sekilas wawancara salah seorang korban longsor Kampung Dewata yang saya lihat di Televisi.

Saya tercenung. Saya paham, apa yang dirasakan oleh pekerja tersebut. Dia sudah bekerja bertahun-tahun disitu. Bahkan mungkin entah sudah berapa generasi, mereka beranak pinak disitu. Saya yang baru 2 kali mengunjungi Lembah Dewata, sudah dapat merasakan betapa kedamaian, keakraban dan kesahajaan, seluruh warga kampung dewata, termasuk pejabat-pejabat perkebunan bahkan hingga pemiliknya.

Jadi ketika saya mendengar kabar adanya longsor di kampung Dewata pada hari Selasa , saya pikir Cuma longsor biasa yang tidak terlalu parah. Tetapi ketika mendengar berita betapa jumlah korban yang meninggal maupun hilang cukup banyak, apalagi ketika saya melihat photo di kompas dibawah ini, hati saya terasa sangat pilu.


Coba bandingkan dengan photo yang diambil Willy Suwandi, rekan dari komunitas pecinta teh ketika berkunjung ke tempat ini bulan October 2009, sungguh sangat menyedihkan.



Ingatan saya melayang beberapa bulan silam, awal-awal sa

ya berkenalan dengan pak Robby Baddrudin, salah seorang putra dari Rahmad Baddrudin, pemilik kebun teh Dewata ini.

Pak Atik Dharmadi, salah seorang mantam tea scientist dari Bandung, yang membawa dan memperkenalkan pak Robby dengan komunitas pecinta teh. Pada waktu itu kami mengadakan gathering di Kantor Pemasaran Bersama, Gondangdia Jakarta.

Saya pikir, Cuma sekedar basa-basi ketika pak Robby menawarkan kami untuk datang berkunjung ke kebunnya. Apalagi menurut beliau, jalanan yang ditempuh medannya cukup berat, dan harus menggunakan mobil offroad untuk mencapainya dengan lebih nyaman.

Cerita tentang kunjungan ke kebun mungkin saya akanceritakan di lain waktu. Yang saya ingat adalah, keramahan dari seluruh pekerja kebun. Mereka menyiapkan kedatangan kami dengan sepenuh hati. Bahkan pak Irvan, salah seorang Administratur kebun, rela meminjamkan rumah dinasnya kepada kami, sementara beliau dan keluarga mengungsi ke tempat lain.

Dan ternyata rumah yang dulu kami inapi, sekarang sudah tertutup dengan tanah. Yang lebih menyedihkan, putra terkecil dari pak Irvan menjadi salahsatu korban yang tidak selamat dari bencana tersebut.

Kali kedua saya berkunjung ke Lembah Dewata adalah ketika saya mengikuti acara program jurnalistik yg diadakan bu Maria dari kantor berita Antara.

Di kali kedua, tersebut saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Dewata. Bahkan saya menginap satu kamar bersama pak Darso dan pak Robby di mess 2, yg sekarang hanya tampak gundukan tanah seperti halnya Mess 1 dan rumah pak Irvan. Disitu kami sempat ngobrol semalaman bicara mengenai visi, filosofy serta impian-impian kami.



Saya teringat, betapa ceria dan gembiranya wajah para pemetik teh, ketika kami memotret mereka. ”Nanti dikirim ya pak”, kata mereka sambil tersenyum lebar.
Saya teringat, betapa sepanjang jalan, mereka melambaikan tangan kepada kami.

Betapa menyedihkannya, ketika melihat betapa mereka sekarang harus mengungsi dari kampung yang telah mereka tinggali entah berapa generasi.




Saya teringat, betapa saya telah bersama-sama memasak di dapur mess mereka, ketika menyiapkan baberque untuk makan malam. Kemana ikan-ikan super besar hanya mau memakan rumput saja. Kemana sekarang sebuah pohon teh besar yang telah berusia 50 tahun lebih.

Hal yang membuat saya gundah, demikian juga dengan pertanyaan Nilam Zubir, salah satu peserta loka karya menulis di Lembah Dewata, yaitu kenapa sebuah bukit penuh pepohonan bisa runtuh? Bukankah alam dan manusia telah bersahabat sebelumnya. Betapa pohon-pohon tersebut dirawat, dan tidak ada ekploitasi alam yang berlebihan. Bukankah akar-akar pohon teh tersebut akar yang kuat. Bahkan para tamu, diwajibkan menanam pohon sebagai kenangan dan juga pelestarian lingkungan.


Beberapa analisa para ahli sedikit menjawab kegundahandan pertanyaan saya. Gempa Tasik yang melanda pengalengan beberapa waktu yang lalu, ternyata telah menyebabkan retakan tanah. Ketika turun hujan, dimana pada masa-masa sebelum bukit tersebut runtuh, air hujan mengisi retakan tanah tersebut, sehingga menyebabkan ikatan antar tanah jadi melunak. Selainitu, menurut pak Robby, memang terjadi hujan yang curahnya hujannya sangat hebat, sekitar 5 kali dari curah hujan .

Menurut teman saya, Pak Dhe Rovicky, si pendongeng Gempa, pepohonan, terkadang memang bisa menjadikan beban tanah makin berat.


Apapun analisanya, yang terpenting adalah, lembah Dewata segera dapat pulih kembali.


Monday, 14 December 2009

Warna-warni budaya minum teh di Indonesia

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan, kira-kira ada nggak sih, budaya minum
teh ala Indonesia?

Sebagai seorang pecinta teh, dan khususnya tertarik untuk mendalami seni dan
budaya teh, pertanyaan tersebut sangat menggelitik rasa ingin tahu saya. Kalau
di China punya Gong Fu cha, di Jepang ada Chanoyu, di Korea memiliki Panyaro, di
Inggris tempat lahir Afternoon tea, High tea dan tea break, Indonesia punya apa?

Bagi keluarga saya, minum teh menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan tiap pagi
dan sore. Walau sekilas kegiatasan ini mirip-mirip dengan afternoon tea di
Inggris, tetapi sifatnya lebih personal dan terbatas pada lingkungan keluarga
saja.

Untuk kegiatan yang bersifat lebih luas, teh juga menjadi minuman yang selalu
disajikan disetiap acara hajatan. Bahkan hingga kini, ketika di perkotaan
menyediakan air putih dalam kemasan gelas karena kepraktisan, kami masih tetap
menyajikan teh. Walaupun sebenarnya kegiatan ini juga sifatnya regional, yang
mungkin saja memiliki tata cara yang berbeda diantara masing-masing daerah.

Di daerah saya, khususnya di desa Nambangan, kabupaten Wonogiri, dalam setiap
hajatan, ada seseorang yang bertugas untuk menyeduh teh, jabatannya disebut
Jayeng. Ruang kerjanya disebut Jayengan. Jayeng dibantu Sinoman yang bertugas
untuk mengantarkan teh untuk para tamu dengan nampan.

Tugas seorang Jayeng mulai dari memasak air, menyeduh teh, dan menyiapkan teh ke
dalam gelas belimbing. Uniknya, proses penggulaan dilakukan tiap gelas. Jadi
semisal ada 100 tamu, gula akan dituang sendok demi sendok ke dalam 100 gelas,
dan diaduk satu persatu.

Kebiasaan ini, juga berlaku bagi keluarga saya. Ibu saya kalau menyeduh tiap
buat keluarga, selalu menuang gula ke masing-masing gelas. Dan hingga sekarang,
kebiasaan ini selalu saya bawa ketika saya menyeduh teh buat keluarga.

Berbeda dengan keluarga saya, keluarga istri yang kebetulan anggota keluarganya
juga banyak memiliki cara menyeduh yang berbeda. Karena mereka hidup
diperkotaan, tentu saja teh yang mereka gunakan adalah teh celup. Teh diseduh
dalam pitcher, dan kemudian langsung diberi gula ke dalam pitcher tersebut.

Lain keluarga, lain kebiasaannya. Apalagi daerah. Kalau di daerah Jawa tengah
dan sebagian Jawa Timur, teh yang diminum adalah teh hijau wangi melati. Banyak
diantara mereka yang fanatik terhadap merk-merk tertentu seperti teh cap Sepeda
Balam, Sintren, Dandang , Nyapu, Tong Tji, 66, dsb Ada pula sebagian yang
melakukan blend, yaitu mencampur teh dengan beberapa merk yang berbeda. Teh-teh
tertentu aroma wanginya yang diambil, sedangkan teh merk lain, diambil warnanya
yang lebih merah.

Sedangkan di daerah Jawa Barat, peminum teh hijau dan sebagian teh hitam.
Berbeda dengan dengan jawa tengah yang hampir selalu minum teh manis, di daerah
jawa barat seduhan tehnya sangat bening, dan diminum tanpa gula. Di daerah
Garut, bukan bunga melati yang dicampurkan melainkan Chamomile, yang mereka
sebut sebagai kembang teh. Berbeda dengan proses pewangian teh wangi melati,
yang dilakukan proses khusus, pencampuran chamomile mirip dengan proses tea
blending. Bunga Chamomile langsung ditabur disatukan dengan daun teh kering.
Uniknya, di Garut, teh dijualnya layaknya tea house, hanya dengan penampilan
yang lebih sederhana. Beberapa penjual teh menjual teh dengan berbagai varian
grade yang berbeda-beda, dan dijual kiloan. Jadi kita bisa memilih sendiri,
apakah mau batang saja, daun saja, atau mau dicampur.

Di daerah Sumatera, familiar dengan teh hitam rasa Vanilla. Itu sebabnya teh
merk Bendera dan Prenjak cukup populer disana. Beberapa kebiasaan minum teh juga
cukup unik. Di Medan teh dicampur susu, dituang ke cangkir lain secara
berulang-ulang sehingga menyebabkan susu menjadi berbusa. Proses ini mirip
sekali dengan teh tarik yang ada di Malaysia. Entah Malaysia atau Medan yang
duluan, tetapi tampaknya budaya ini dipengaruhi oleh kebiasaan minum teh susu di
India. Bedanya kalau di India, teh dan susu langsung direbus bersama dengan
rempah-rempah seperti cengkeh, kapulaga, jahe dan Kayu Manis. Teh ini terkenal
dengan nama Masala Chai.

Di padang lain lagi. Disini teh dicampur dengan telur, yang terkenal dengan
sebutan teh talua.

Satu lagi kebiasaan minum teh yang cukup terkenal dan memiliki nilai filosofi
adalah teh poci. Kebiasaan ini berlaku di daerah tegal dan sekitarnya, dan
menyebar ke beberapa daerah lainnya. Di sini, teko yang digunakan adalah teko
tanah liat, dengan ukuran personal. Satu teko, hanya untuk 2 cangkir saja,
karena menyeduh teh disini merupakan sesuatu yang personal. Entah bagaimana
sejarahnya, tampaknya kebiasaan ini merupakan adapatasi dari Kebudayaan Gong Fu
cha di China. Gong fu cha, juga dilakukan secara personal, bahkan ukuran tekonya
jauh lebih kecil lagi. Teko yang digunakan juga teko tanah liat, hanya memang
teh Poci tidak sedetail dan seribet cara-cara Gong Fu cha, yang memerlukan
pengetahuan teh dan cara-cara penyeduhan khusus, karena masing-masing jenis teh
mempunyai treatment yang berbeda. Teh yang digunakan juga sebagian besar adalah
teh Oolong.

Sedang teh poci, walau teh yang digunakan sebenarnya teh hijau wangi melati,
tetapi treatment yang dilakukan mirip dengan penyeduh hitam. Kalau di China, teh
hijau digunakan air yang tidak terlalu panas (sekitar 70-80 ºC), teh hijau wangi
melati digunakan air mendidih (sekitar 100 ºC). Keunikan lain adalah pemanis
yang digunakan adalah gula batu, dan tidak boleh di aduk, melainkan cukup
digoyang sedikit cangkirnya. Dan hal ini memiliki nilai filosofi tersendiri,
yaitu hidup ini awalnya pahit. Kita mesti bersabar, sehingga di akhir nanti kita
akan mendapatkan manisnya.

Dengan keanekaragaman budaya kita, mestinya masih banyak lagi yang digali seni
dan budaya minum teh khas Indonesia.

Ada yang menambahkan, budaya minum teh di daerah masing-masing?

Saturday, 14 November 2009

Oolong, Kepahiang Bengkulu


Dunia memang sempit itu benar adanya. Terkadang beberapa hal terjadi secara kebetulan bak sebuah drama sinetron saja. Pertemuan saya dengan Oolong bengkulu adalah salah satu contohnya.

Teh Oolong bengkulu adalah salah satu teh Oolong yang dulu pernah kami cari-cari.
Ceritanya, pada waktu itu mbak Ratna tanya kepada saya, apakah saya mengetahui kebun teh Oolong di Bengkulu yang hasil produksinya semua di ekpor ke Taiwan. Seperti biasa, segala macam pertanyaan biasanya saya teruskan ke Om Google. Atas saran Om Google saya diminta menghubungi PT. Trisula Ulung Megasurya. Saya juga dapat nomor telponnya, tetapi tidak pernah berhasil melakukan kontak bicara.

Sebuah kebetulan kalau akhirnya saya bisa mengenal lebih dekat dengan Julian Julindra. Dia 'menemukan' saya di tengah belantara booth teh sewaktu acara tea festival di Bandung pada tahun 2008. Setelah pertemuan itu, Julian akhirnya menjadi peserta Gathering yang paling aktif. Kami ketemu di acara gathering yang dilakukan di Festival teh di Kemajoran. .

Sepulang dari gathering Kemayoran, secara kebetulan, saya dan Julian ngobrol tentang teh Oolong dari Bengkulu, dan Julian mengatakan bahwa dia punya teman dimana bapaknya punya kebun teh di Bengkulu. Wah, jangan-jangan dia, pikir saya. Berkat Julian pula akhirnya saya berkenalan dengan pak Surya Dharmadi. Ternyata benar dugaan saya, setelah pak Surya mengeluarkan kartu nama, tertera nama perusahaannya PT. Trisula Ulung Megasurya. Dunia benar-benar sempit.

Baik, saya rasa prolog yang cukup panjang perlu saya tulis, untuk menggambarkan perjalanan untuk menemukan teh Indonesia kualitas premium memang terkadang dibarengi oleh beberapa keberuntungan. Untung ada Julian, untung ada mbak Ratna yang menanyakan teh tersebut, untuk ada milist pecinta teh, dsb.

Singkat cerita, kata sederhana yang dapat saya ungkapkan ketika mencoba Oolong bengkulu, memang benar-benar singkat saja : Sumpah, enak banget!!

Ini benar-benar teh aromatik Indonesia yang pernah saya coba. Aromatik yang saya maksud disini bukannya ditambah aroma dari bahan lain, tetapi benar-benar rasa asli teh yang mengeluarkan aroma dan rasa yang sangat exotic.

Daun teh keringnya berwarna hijau emerald, dan aromanya wangi sekali. Hasil seduhan, berwarna kuning keemasan. Ketika diteguk, rasa Fruitynya begitu terasa, seperti buah ranum yang segar, dan ada sedikit rasa kesat dan slighty sepet, mengingatkan saya pada buah apel ranum. Saya suka sekali dengan Oolong bengkulu ini. Benar apa yang dikatakan mbak Ratna, Oolong bengkulu ini tidak kalah dengan teh-teh Olong dari Taiwan.

Syukurlah kalau akhirnya pak Surya mau bergabung dengan milist pecinta teh, dan dapat membantu kita semua untuk dapat menikmati teh Indonesia kualitas tinggi.

Saturday, 29 August 2009

Make a delicious bowl of tea

"Make a delicious bowl of tea", Itu jawaban pertama dari Sen No Rikyu ketika ditanya muridnya tentang hal yang terpenting yang harus dipahami dan tersimpan dari dalam pikiran kita ketika kita sedang melakukan tata cara upacara minum teh. Jadi tak heran kalau sensei Uchida, salah seorang pengajar Chanoyu di JF Indonesia mengatakan hal tersebut kepada muridnya, karena hal tersebut merupakan bagian dari Seven Rules of Rikyu's yang menjadi fondamental bagi seseorang yang berhubungan perilaku kita sewaktu latihan Chanoyu.


Walau tampaknya sederhana, tetapi membuat teh yang lezat, tampaknya begitu sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan effort, knowledge dan kesungguhan hati dari Otemae. Simplenya, untk membuat teh yang paling lezat, tentu kita sajikan teh yang paling mahal. Mahal disini bukan sekedar dari nilai uang yang kita gunakan untuk membeli teh tersebut, tetapi juga valueable dri teh tersebut. Apakah teh tersebut mahal karena kemasannya? Karena langka? Karena susah prosesnya? Karena dibuat dari bahan baku terbaik, lokasi yang baik, proses yang dan sebagainya.

Lalu apakah semua itu cukup hanya dengan memiliki teh terbaik dan mahal kita bisa menyajikan teh yang paling lezat?

Sayangnya teh-teh yang mahal (baca kualitas tinggi), seringkali membutuhkan pengetahuan dan treatment yang khusus. Kualiatas air, suhu yang tepat, lama seduh (khusus untuk Chanoyu tentunya keterampilan dalam menggunakan chasen), adalah langkah-langkah berikutnya.

Untuk mengetahui ini semua, selain membutuhkan ilmu tersendiri juga pengalaman dan jam terbang. Bagaimana kita tahu teh tersebut yang terbaik, kalau belum mencoba yang kurang baik. Kita juga mesti tahu, bagaimana seharusnya teh tersebut diproses.

Jadi make a delicous bowl of tea, lebih bermakna filosofis, untuk menunjukkan kesungguhan dan terlebih passionate kita untuk membuatnya.

Chanoyu atau Chado bukan sekedar ritual ceremony dalam bahasa simbolisasi, melainkan sebuah jalan hidup yang memang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip dasar dari Rikyu, yaitu Wa (keselarasan), Kei (rasa hormat), Sei (kesucian) dan Jaku (ketenangan) itulah dasar-dasar kita dapat menjadi otemae yang baik.

Dalam sebuah ceremony, beberapa memang dilakukan dalam simbolisasi. Seperti Keselarasan peralatan yang digunakan, yang mesti disesuaikan dengan musim sesuai kehendak alam. Keselarasan gerak, yang presisi namun penuh nilai seni tinggi. Seorang Otemae seperti Uchida, dimata saya gerakannya seperti penari yang lembut, tetapi tegas dan khidmat.

Rasa hormat, diaplikasikan dengan beberapa macam cara hormat seperti Sin, So atau Gyo. Tetapi prinsip dasar dari rasa hormat disini adalah sincerity, atau ketulusan untuk membawa kita kesuatu hubungan yang terbuka dan intim dengan lingkungan, kemanusian dan alam.

Tanpa rasa hormat dan ketulusan hati, niscaya sulit kita dapat menyajikan teh dengan baik, yang mesti dilakukan dengan tata cara dimana dimata orang awam terlihat ribet dan lama. Begitu juga sebagai tamu, tanpa ada rasa hormat dan ketulusan, sang tamu tidak akan dapat menikmati teh yang disajikan. Karena kesemua itu tidak hanya dinikmati di mulut, tetapi juga dipikiran dan dihati.

Kemurnian, dapat terlihat dari awal penyajian disiapkan, mulai dari merendam chakin (lap chawan) dan chasen (pengocok teh) dalam air panas, kemudian simbolisasi pembersihan Natsume (tempat teh), Chashaku (sendok teh), Chawan (mangkok teh), dan Chasen. Dalam upacara lengkap, bahkan simbolisasi ini dimulai ketika kita masuk pintu gerbang menuju Chasitsu (rumah teh), dimana kita sudah disediakan Tsukubai (tempat simbol pembersihan).
Di tempat ini disediakan air di dalam wadah batu, lengkap dengan peralatan pembersihan lainnya.

Kesemua itu dilakukan dalam suasana penuh ketenangan dan kedamaian, jauh dari hiruk pikuk dunia. Dalam ketenangan, di dalam ruang penyajian teh, kita seakan masuk ke dalam dunia microcosmos penuh dengan kedamaian. Dalam ketenangan kita renungkan kembali, sejauh mana Wa, Kei dan Sei telah dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari