Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti conference international Logistic di Jakarta Convention Centre. Acara tersebut dibuka langsung oleh bapak wakil presiden Jusuf Kalla, yang juga sekaligus membuka acara pameran Sulawesi Ekspo. Nah, disela-sela rehat, saya menyempatkan diri melihat-lihat stand Sulawesi Ekspo. Pada salah satu stand, mata saya tertumbuk pada sesuatu terpajang yang pernah saya kenal.Ya, itu dia teh Malino hitam kiriman dari Ervita, salah seorang teman dari milist jalan sutra, sebuah milist jalan-jalan dan makan-makan. Tetapi bukan sekedar satu bungkus teh itu saja yang membuat saya enggan beranjak dari stand tersebut, ada satu bungkus lagi yang belum saya kenal: Malino Hijau. Ini dia yang saya cari-cari, begitu kata saya dalam hati.
“Mbak, teh tersebut dijual tidak?”, tanya saya dengan sangat berharap kepada salah satu penjaga stand.
“Wah sayang sekali itu hanya sample pak. Tetapi coba nanti hari terakhir, barangkali kami berubah pikiran, dari pada harus dibawa pulang.” Jawabannya cukup diplomatis, tetapi juga memberi harapan. Pada hari terakhir, ternyata saya tetap kembali ke stand tersebut dengan tangan hampa.
Rupanya keberuntungan tidaklah terlalu jauh dari saya. Saya teringat, tidak berapa lama saya posting review tentang teh hitam Malino, saya mendapatkan email pribadi dari Dewi Puspita. Dia adalah salah seorang sekretaris di perusahaan Mitora, perusahaan baru yang kini mengelola perkebunan teh Malino setelah diambil alih dari PT. Nittoh. Sewaktu perusahaan dia membeli Nittoh, dia coba search tentang teh Malino, dan kebetulan ketemulah blog saya. Di emailnya, dia menjanjikan saya untuk mengirim beberapa sample beberapa grade teh hitam Malino.
Dan suatu kebetulan yang menyenangkan ternyata kantor Mitora lokasinya diseberang kantor saya. Jadi ketika mendapat kabar bahwa sample sudah tersedia, dengan tak sabar saya langsung menjemputnya.
Yang pertama saya coba karena saking penasarannya sudah tentu adalah Malino hijau. Selama ini memang saya masih penasaran karena belum menemukan teh hijau
Warna daun teh kering berwarna hijau tua. Dari warnanya saya menduga bahwa proses penghentian fermentasi dilakukan dengan sistem steaming. Apalagi teh ini memang khusus diekpor ke Jepang, dimana negeri tersebutlah yang menemukan proses pembuatan teh hijau dengan proses steaming. Ketika saya cium aromanya, saya menemukan aroma yang sangat saya kenal. Ya aroma rumput laut yang lazim terdapat pada sencha teh hijau dari Jepang.
Aroma ini semakin terasa ketika air panas dituang. Dengan waktu seduh pertama 3 menit menghasilkan warna kuning keemasan. Rasanyapun mirip dengan sencha, selain dari aroma rumput air teh terasa sedikit licin di tenggorokan. Hingga seduhan ketika rasa dan aroma masih terasa enak, walaupun memang ada sedikit penurunan kualitas pada seduhan kedua dan ketiga.


Overall, teh hijau Malino hingga saat ini merupakan teh hijau


8 comments:
serius ndak dijual ke endonesa?
eh, kok komen untuk umum ditutup ya? :D
Wah, saya malah gak tahu kalau comment untuk umum ditutup. Mungkin itu kebijaksanaan Blogspot kali ya. Jelas ndak asyik tuh.
Kebanyakan teh kualitas bagus tidak dijual di Indonesia. Kalau mau beli, terkadang harus kenal dengan orang pabrik atau perusahaan tehnya.
Makasih udah diingatkan. Setelah saya cek, ternyata memang settingnya komentar tidak untuk umum. Udah dibuka. Pantesan sedikit yang komentar .... ;-)
pak bambang,
saya pernah dengar tentang teh hijau yang diproduksi di daerah jawa barat dengan teknologi jepang. bahkan mesinnya pun dari jepang. saking rahasianya proses tersebut, sampe-sampe kalo mesin tersebut rusak, hanya teknisi dari jepang langsung yang boleh memperbaikinya.
dan rasanya kok mirip dengan yang bapak sampaikan ya ? aroma rumput lautnya kental sekali, tingkat kekentalannya lebih kental dari teh hitam, dan rasanya sedikit licin waktu ditelan.
sayangnya saya malah tidak bisa menikmati teh seperti ini. hihihi.. memang katro yak.
Dear Yuda,
Apakah mungkin yang dimaksud oleh Yuda adalah teh Walini hijau. Teh ini, selain juga menggunakan klon Yabukita, klon yang sama untuk sencha, supervisi produksi juga masih dilakukan oleh orang Jepang. Pabriknya di daerah Garut. Tetapi kok kentalnya lebih kental dari teh hitam ya?
Bagi-bagi tehnya dong,sapa bisa laku di kampoengku...he3X
Benarkah teh malino tdk pernah dijual di Indonesia? saya pernah beli dipameran di gasibu bandung. Saya tertarik teh ini karena dipromosinya dapat melancarkan proses pencernaan (maaf. saya memang bermasalah dengan BAB yang tidak teratur, karena selama ini saya sering kali minum pencahar agar proses pencernaan saya lancar. Setelah saya coba beberapa hari, ternyata memang menunjukan hasil positif, tetapi saat yg bersamaan saya juga mengubah pola makan dengan menambahkan buaha dan sayur dalam jumlah besar. Tehnya hampir habis dan saya berniat akan membelinya lagi, karena ternyata dikemasannya ada nomor telepon dan alamat produsennya. Pertanyaan saya, betulkah teh malino berpengaruh terhadap proses pencernaan? amankah mengkonsumsinya setiap hari, karena saya beranggapan bila minum yg berwarna secara rutin pasti akan menimbulkan endapan di ginjal sehingga kerjanya harus lebih keras. kapankah sebetulnya waktu yg tepat untuk mengkonsumsi teh, apakah pagi sebelum sarapan, siangkah atau sore hari kah? tereima kasih pak, mohon responnya.
Dear Meita,
Sewaktu menulis review ini, memang teh Malino masih belum dijual di Indonesia, dan dalam proses alih kepemilikan dari Nittoh ke Mitora. Sekarang sudah di jual, di Makasar. Di Jakarta, retailnya belum terlalu banyak, tetapi bisa langsung beli ke Mitora.
Mengenai khasiat untuk konstipasi, beberapa teman mengalaminya. mengenai efek negatif teh, hingga saat ini belum pernah ditemukan kasus orang kebanyakan minum teh dan memiliki masalah ginjal. Kecuali mereka yang memiliki kelian ginjal, atau gagal ginjal, memang disarankan tidak minum teh terlalu banyak. Untuk mendapatkan manfaat teh, minimum empat cangkir perhari.
Post a Comment