Sunday, 14 March 2010

Duka di Lembah Dewata

“Saya suka bekerja disini, karena pemilik kebun ini sayang sama kita semua.Tetapi, sekarang kami harus bagaimana”, begitulah sekilas wawancara salah seorang korban longsor Kampung Dewata yang saya lihat di Televisi.

Saya tercenung. Saya paham, apa yang dirasakan oleh pekerja tersebut. Dia sudah bekerja bertahun-tahun disitu. Bahkan mungkin entah sudah berapa generasi, mereka beranak pinak disitu. Saya yang baru 2 kali mengunjungi Lembah Dewata, sudah dapat merasakan betapa kedamaian, keakraban dan kesahajaan, seluruh warga kampung dewata, termasuk pejabat-pejabat perkebunan bahkan hingga pemiliknya.

Jadi ketika saya mendengar kabar adanya longsor di kampung Dewata pada hari Selasa , saya pikir Cuma longsor biasa yang tidak terlalu parah. Tetapi ketika mendengar berita betapa jumlah korban yang meninggal maupun hilang cukup banyak, apalagi ketika saya melihat photo di kompas dibawah ini, hati saya terasa sangat pilu.


Coba bandingkan dengan photo yang diambil Willy Suwandi, rekan dari komunitas pecinta teh ketika berkunjung ke tempat ini bulan October 2009, sungguh sangat menyedihkan.



Ingatan saya melayang beberapa bulan silam, awal-awal sa

ya berkenalan dengan pak Robby Baddrudin, salah seorang putra dari Rahmad Baddrudin, pemilik kebun teh Dewata ini.

Pak Atik Dharmadi, salah seorang mantam tea scientist dari Bandung, yang membawa dan memperkenalkan pak Robby dengan komunitas pecinta teh. Pada waktu itu kami mengadakan gathering di Kantor Pemasaran Bersama, Gondangdia Jakarta.

Saya pikir, Cuma sekedar basa-basi ketika pak Robby menawarkan kami untuk datang berkunjung ke kebunnya. Apalagi menurut beliau, jalanan yang ditempuh medannya cukup berat, dan harus menggunakan mobil offroad untuk mencapainya dengan lebih nyaman.

Cerita tentang kunjungan ke kebun mungkin saya akanceritakan di lain waktu. Yang saya ingat adalah, keramahan dari seluruh pekerja kebun. Mereka menyiapkan kedatangan kami dengan sepenuh hati. Bahkan pak Irvan, salah seorang Administratur kebun, rela meminjamkan rumah dinasnya kepada kami, sementara beliau dan keluarga mengungsi ke tempat lain.

Dan ternyata rumah yang dulu kami inapi, sekarang sudah tertutup dengan tanah. Yang lebih menyedihkan, putra terkecil dari pak Irvan menjadi salahsatu korban yang tidak selamat dari bencana tersebut.

Kali kedua saya berkunjung ke Lembah Dewata adalah ketika saya mengikuti acara program jurnalistik yg diadakan bu Maria dari kantor berita Antara.

Di kali kedua, tersebut saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Dewata. Bahkan saya menginap satu kamar bersama pak Darso dan pak Robby di mess 2, yg sekarang hanya tampak gundukan tanah seperti halnya Mess 1 dan rumah pak Irvan. Disitu kami sempat ngobrol semalaman bicara mengenai visi, filosofy serta impian-impian kami.



Saya teringat, betapa ceria dan gembiranya wajah para pemetik teh, ketika kami memotret mereka. ”Nanti dikirim ya pak”, kata mereka sambil tersenyum lebar.
Saya teringat, betapa sepanjang jalan, mereka melambaikan tangan kepada kami.

Betapa menyedihkannya, ketika melihat betapa mereka sekarang harus mengungsi dari kampung yang telah mereka tinggali entah berapa generasi.




Saya teringat, betapa saya telah bersama-sama memasak di dapur mess mereka, ketika menyiapkan baberque untuk makan malam. Kemana ikan-ikan super besar hanya mau memakan rumput saja. Kemana sekarang sebuah pohon teh besar yang telah berusia 50 tahun lebih.

Hal yang membuat saya gundah, demikian juga dengan pertanyaan Nilam Zubir, salah satu peserta loka karya menulis di Lembah Dewata, yaitu kenapa sebuah bukit penuh pepohonan bisa runtuh? Bukankah alam dan manusia telah bersahabat sebelumnya. Betapa pohon-pohon tersebut dirawat, dan tidak ada ekploitasi alam yang berlebihan. Bukankah akar-akar pohon teh tersebut akar yang kuat. Bahkan para tamu, diwajibkan menanam pohon sebagai kenangan dan juga pelestarian lingkungan.


Beberapa analisa para ahli sedikit menjawab kegundahandan pertanyaan saya. Gempa Tasik yang melanda pengalengan beberapa waktu yang lalu, ternyata telah menyebabkan retakan tanah. Ketika turun hujan, dimana pada masa-masa sebelum bukit tersebut runtuh, air hujan mengisi retakan tanah tersebut, sehingga menyebabkan ikatan antar tanah jadi melunak. Selainitu, menurut pak Robby, memang terjadi hujan yang curahnya hujannya sangat hebat, sekitar 5 kali dari curah hujan .

Menurut teman saya, Pak Dhe Rovicky, si pendongeng Gempa, pepohonan, terkadang memang bisa menjadikan beban tanah makin berat.


Apapun analisanya, yang terpenting adalah, lembah Dewata segera dapat pulih kembali.


Monday, 14 December 2009

Warna-warni budaya minum teh di Indonesia

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan, kira-kira ada nggak sih, budaya minum
teh ala Indonesia?

Sebagai seorang pecinta teh, dan khususnya tertarik untuk mendalami seni dan
budaya teh, pertanyaan tersebut sangat menggelitik rasa ingin tahu saya. Kalau
di China punya Gong Fu cha, di Jepang ada Chanoyu, di Korea memiliki Panyaro, di
Inggris tempat lahir Afternoon tea, High tea dan tea break, Indonesia punya apa?

Bagi keluarga saya, minum teh menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan tiap pagi
dan sore. Walau sekilas kegiatasan ini mirip-mirip dengan afternoon tea di
Inggris, tetapi sifatnya lebih personal dan terbatas pada lingkungan keluarga
saja.

Untuk kegiatan yang bersifat lebih luas, teh juga menjadi minuman yang selalu
disajikan disetiap acara hajatan. Bahkan hingga kini, ketika di perkotaan
menyediakan air putih dalam kemasan gelas karena kepraktisan, kami masih tetap
menyajikan teh. Walaupun sebenarnya kegiatan ini juga sifatnya regional, yang
mungkin saja memiliki tata cara yang berbeda diantara masing-masing daerah.

Di daerah saya, khususnya di desa Nambangan, kabupaten Wonogiri, dalam setiap
hajatan, ada seseorang yang bertugas untuk menyeduh teh, jabatannya disebut
Jayeng. Ruang kerjanya disebut Jayengan. Jayeng dibantu Sinoman yang bertugas
untuk mengantarkan teh untuk para tamu dengan nampan.

Tugas seorang Jayeng mulai dari memasak air, menyeduh teh, dan menyiapkan teh ke
dalam gelas belimbing. Uniknya, proses penggulaan dilakukan tiap gelas. Jadi
semisal ada 100 tamu, gula akan dituang sendok demi sendok ke dalam 100 gelas,
dan diaduk satu persatu.

Kebiasaan ini, juga berlaku bagi keluarga saya. Ibu saya kalau menyeduh tiap
buat keluarga, selalu menuang gula ke masing-masing gelas. Dan hingga sekarang,
kebiasaan ini selalu saya bawa ketika saya menyeduh teh buat keluarga.

Berbeda dengan keluarga saya, keluarga istri yang kebetulan anggota keluarganya
juga banyak memiliki cara menyeduh yang berbeda. Karena mereka hidup
diperkotaan, tentu saja teh yang mereka gunakan adalah teh celup. Teh diseduh
dalam pitcher, dan kemudian langsung diberi gula ke dalam pitcher tersebut.

Lain keluarga, lain kebiasaannya. Apalagi daerah. Kalau di daerah Jawa tengah
dan sebagian Jawa Timur, teh yang diminum adalah teh hijau wangi melati. Banyak
diantara mereka yang fanatik terhadap merk-merk tertentu seperti teh cap Sepeda
Balam, Sintren, Dandang , Nyapu, Tong Tji, 66, dsb Ada pula sebagian yang
melakukan blend, yaitu mencampur teh dengan beberapa merk yang berbeda. Teh-teh
tertentu aroma wanginya yang diambil, sedangkan teh merk lain, diambil warnanya
yang lebih merah.

Sedangkan di daerah Jawa Barat, peminum teh hijau dan sebagian teh hitam.
Berbeda dengan dengan jawa tengah yang hampir selalu minum teh manis, di daerah
jawa barat seduhan tehnya sangat bening, dan diminum tanpa gula. Di daerah
Garut, bukan bunga melati yang dicampurkan melainkan Chamomile, yang mereka
sebut sebagai kembang teh. Berbeda dengan proses pewangian teh wangi melati,
yang dilakukan proses khusus, pencampuran chamomile mirip dengan proses tea
blending. Bunga Chamomile langsung ditabur disatukan dengan daun teh kering.
Uniknya, di Garut, teh dijualnya layaknya tea house, hanya dengan penampilan
yang lebih sederhana. Beberapa penjual teh menjual teh dengan berbagai varian
grade yang berbeda-beda, dan dijual kiloan. Jadi kita bisa memilih sendiri,
apakah mau batang saja, daun saja, atau mau dicampur.

Di daerah Sumatera, familiar dengan teh hitam rasa Vanilla. Itu sebabnya teh
merk Bendera dan Prenjak cukup populer disana. Beberapa kebiasaan minum teh juga
cukup unik. Di Medan teh dicampur susu, dituang ke cangkir lain secara
berulang-ulang sehingga menyebabkan susu menjadi berbusa. Proses ini mirip
sekali dengan teh tarik yang ada di Malaysia. Entah Malaysia atau Medan yang
duluan, tetapi tampaknya budaya ini dipengaruhi oleh kebiasaan minum teh susu di
India. Bedanya kalau di India, teh dan susu langsung direbus bersama dengan
rempah-rempah seperti cengkeh, kapulaga, jahe dan Kayu Manis. Teh ini terkenal
dengan nama Masala Chai.

Di padang lain lagi. Disini teh dicampur dengan telur, yang terkenal dengan
sebutan teh talua.

Satu lagi kebiasaan minum teh yang cukup terkenal dan memiliki nilai filosofi
adalah teh poci. Kebiasaan ini berlaku di daerah tegal dan sekitarnya, dan
menyebar ke beberapa daerah lainnya. Di sini, teko yang digunakan adalah teko
tanah liat, dengan ukuran personal. Satu teko, hanya untuk 2 cangkir saja,
karena menyeduh teh disini merupakan sesuatu yang personal. Entah bagaimana
sejarahnya, tampaknya kebiasaan ini merupakan adapatasi dari Kebudayaan Gong Fu
cha di China. Gong fu cha, juga dilakukan secara personal, bahkan ukuran tekonya
jauh lebih kecil lagi. Teko yang digunakan juga teko tanah liat, hanya memang
teh Poci tidak sedetail dan seribet cara-cara Gong Fu cha, yang memerlukan
pengetahuan teh dan cara-cara penyeduhan khusus, karena masing-masing jenis teh
mempunyai treatment yang berbeda. Teh yang digunakan juga sebagian besar adalah
teh Oolong.

Sedang teh poci, walau teh yang digunakan sebenarnya teh hijau wangi melati,
tetapi treatment yang dilakukan mirip dengan penyeduh hitam. Kalau di China, teh
hijau digunakan air yang tidak terlalu panas (sekitar 70-80 ºC), teh hijau wangi
melati digunakan air mendidih (sekitar 100 ºC). Keunikan lain adalah pemanis
yang digunakan adalah gula batu, dan tidak boleh di aduk, melainkan cukup
digoyang sedikit cangkirnya. Dan hal ini memiliki nilai filosofi tersendiri,
yaitu hidup ini awalnya pahit. Kita mesti bersabar, sehingga di akhir nanti kita
akan mendapatkan manisnya.

Dengan keanekaragaman budaya kita, mestinya masih banyak lagi yang digali seni
dan budaya minum teh khas Indonesia.

Ada yang menambahkan, budaya minum teh di daerah masing-masing?

Saturday, 14 November 2009

Oolong, Kepahiang Bengkulu


Dunia memang sempit itu benar adanya. Terkadang beberapa hal terjadi secara kebetulan bak sebuah drama sinetron saja. Pertemuan saya dengan Oolong bengkulu adalah salah satu contohnya.

Teh Oolong bengkulu adalah salah satu teh Oolong yang dulu pernah kami cari-cari.
Ceritanya, pada waktu itu mbak Ratna tanya kepada saya, apakah saya mengetahui kebun teh Oolong di Bengkulu yang hasil produksinya semua di ekpor ke Taiwan. Seperti biasa, segala macam pertanyaan biasanya saya teruskan ke Om Google. Atas saran Om Google saya diminta menghubungi PT. Trisula Ulung Megasurya. Saya juga dapat nomor telponnya, tetapi tidak pernah berhasil melakukan kontak bicara.

Sebuah kebetulan kalau akhirnya saya bisa mengenal lebih dekat dengan Julian Julindra. Dia 'menemukan' saya di tengah belantara booth teh sewaktu acara tea festival di Bandung pada tahun 2008. Setelah pertemuan itu, Julian akhirnya menjadi peserta Gathering yang paling aktif. Kami ketemu di acara gathering yang dilakukan di Festival teh di Kemajoran. .

Sepulang dari gathering Kemayoran, secara kebetulan, saya dan Julian ngobrol tentang teh Oolong dari Bengkulu, dan Julian mengatakan bahwa dia punya teman dimana bapaknya punya kebun teh di Bengkulu. Wah, jangan-jangan dia, pikir saya. Berkat Julian pula akhirnya saya berkenalan dengan pak Surya Dharmadi. Ternyata benar dugaan saya, setelah pak Surya mengeluarkan kartu nama, tertera nama perusahaannya PT. Trisula Ulung Megasurya. Dunia benar-benar sempit.

Baik, saya rasa prolog yang cukup panjang perlu saya tulis, untuk menggambarkan perjalanan untuk menemukan teh Indonesia kualitas premium memang terkadang dibarengi oleh beberapa keberuntungan. Untung ada Julian, untung ada mbak Ratna yang menanyakan teh tersebut, untuk ada milist pecinta teh, dsb.

Singkat cerita, kata sederhana yang dapat saya ungkapkan ketika mencoba Oolong bengkulu, memang benar-benar singkat saja : Sumpah, enak banget!!

Ini benar-benar teh aromatik Indonesia yang pernah saya coba. Aromatik yang saya maksud disini bukannya ditambah aroma dari bahan lain, tetapi benar-benar rasa asli teh yang mengeluarkan aroma dan rasa yang sangat exotic.

Daun teh keringnya berwarna hijau emerald, dan aromanya wangi sekali. Hasil seduhan, berwarna kuning keemasan. Ketika diteguk, rasa Fruitynya begitu terasa, seperti buah ranum yang segar, dan ada sedikit rasa kesat dan slighty sepet, mengingatkan saya pada buah apel ranum. Saya suka sekali dengan Oolong bengkulu ini. Benar apa yang dikatakan mbak Ratna, Oolong bengkulu ini tidak kalah dengan teh-teh Olong dari Taiwan.

Syukurlah kalau akhirnya pak Surya mau bergabung dengan milist pecinta teh, dan dapat membantu kita semua untuk dapat menikmati teh Indonesia kualitas tinggi.

Saturday, 29 August 2009

Make a delicious bowl of tea

"Make a delicious bowl of tea", Itu jawaban pertama dari Sen No Rikyu ketika ditanya muridnya tentang hal yang terpenting yang harus dipahami dan tersimpan dari dalam pikiran kita ketika kita sedang melakukan tata cara upacara minum teh. Jadi tak heran kalau sensei Uchida, salah seorang pengajar Chanoyu di JF Indonesia mengatakan hal tersebut kepada muridnya, karena hal tersebut merupakan bagian dari Seven Rules of Rikyu's yang menjadi fondamental bagi seseorang yang berhubungan perilaku kita sewaktu latihan Chanoyu.


Walau tampaknya sederhana, tetapi membuat teh yang lezat, tampaknya begitu sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan effort, knowledge dan kesungguhan hati dari Otemae. Simplenya, untk membuat teh yang paling lezat, tentu kita sajikan teh yang paling mahal. Mahal disini bukan sekedar dari nilai uang yang kita gunakan untuk membeli teh tersebut, tetapi juga valueable dri teh tersebut. Apakah teh tersebut mahal karena kemasannya? Karena langka? Karena susah prosesnya? Karena dibuat dari bahan baku terbaik, lokasi yang baik, proses yang dan sebagainya.

Lalu apakah semua itu cukup hanya dengan memiliki teh terbaik dan mahal kita bisa menyajikan teh yang paling lezat?

Sayangnya teh-teh yang mahal (baca kualitas tinggi), seringkali membutuhkan pengetahuan dan treatment yang khusus. Kualiatas air, suhu yang tepat, lama seduh (khusus untuk Chanoyu tentunya keterampilan dalam menggunakan chasen), adalah langkah-langkah berikutnya.

Untuk mengetahui ini semua, selain membutuhkan ilmu tersendiri juga pengalaman dan jam terbang. Bagaimana kita tahu teh tersebut yang terbaik, kalau belum mencoba yang kurang baik. Kita juga mesti tahu, bagaimana seharusnya teh tersebut diproses.

Jadi make a delicous bowl of tea, lebih bermakna filosofis, untuk menunjukkan kesungguhan dan terlebih passionate kita untuk membuatnya.

Chanoyu atau Chado bukan sekedar ritual ceremony dalam bahasa simbolisasi, melainkan sebuah jalan hidup yang memang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip dasar dari Rikyu, yaitu Wa (keselarasan), Kei (rasa hormat), Sei (kesucian) dan Jaku (ketenangan) itulah dasar-dasar kita dapat menjadi otemae yang baik.

Dalam sebuah ceremony, beberapa memang dilakukan dalam simbolisasi. Seperti Keselarasan peralatan yang digunakan, yang mesti disesuaikan dengan musim sesuai kehendak alam. Keselarasan gerak, yang presisi namun penuh nilai seni tinggi. Seorang Otemae seperti Uchida, dimata saya gerakannya seperti penari yang lembut, tetapi tegas dan khidmat.

Rasa hormat, diaplikasikan dengan beberapa macam cara hormat seperti Sin, So atau Gyo. Tetapi prinsip dasar dari rasa hormat disini adalah sincerity, atau ketulusan untuk membawa kita kesuatu hubungan yang terbuka dan intim dengan lingkungan, kemanusian dan alam.

Tanpa rasa hormat dan ketulusan hati, niscaya sulit kita dapat menyajikan teh dengan baik, yang mesti dilakukan dengan tata cara dimana dimata orang awam terlihat ribet dan lama. Begitu juga sebagai tamu, tanpa ada rasa hormat dan ketulusan, sang tamu tidak akan dapat menikmati teh yang disajikan. Karena kesemua itu tidak hanya dinikmati di mulut, tetapi juga dipikiran dan dihati.

Kemurnian, dapat terlihat dari awal penyajian disiapkan, mulai dari merendam chakin (lap chawan) dan chasen (pengocok teh) dalam air panas, kemudian simbolisasi pembersihan Natsume (tempat teh), Chashaku (sendok teh), Chawan (mangkok teh), dan Chasen. Dalam upacara lengkap, bahkan simbolisasi ini dimulai ketika kita masuk pintu gerbang menuju Chasitsu (rumah teh), dimana kita sudah disediakan Tsukubai (tempat simbol pembersihan).
Di tempat ini disediakan air di dalam wadah batu, lengkap dengan peralatan pembersihan lainnya.

Kesemua itu dilakukan dalam suasana penuh ketenangan dan kedamaian, jauh dari hiruk pikuk dunia. Dalam ketenangan, di dalam ruang penyajian teh, kita seakan masuk ke dalam dunia microcosmos penuh dengan kedamaian. Dalam ketenangan kita renungkan kembali, sejauh mana Wa, Kei dan Sei telah dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari

Qualitea life

Belum lama ini, saya, Ratna Somantri, Julian dan Renny, mewakili milist pecinta teh, mendapat kehormatan untuk menghadiri acara launching Teh Celup Sosro dalam kemasan baru dengan tajuk TEACHNOLOGY CELEBRATION, dengan tagline Qualitealife.

Acara ini diselenggarakan oleh Gunung Slamat, yang memproduksi teh celup Sosro, dan juga teh lainnya (Teh Cap Botol, Teh Cap Poci).

Tentu kami merasa bangga bahwa perusahaan sebesar group Sosro turut mengundang kami. Paling tidak kami merasa, milist pecinta teh kami sudah di dengar oleh perusahaan sebesar Gunung Slamat.

Dalam presentasinya, pak Soehartono Gunawan, marketing Director Gunung Slamat mengatakan bahwa dengan dedikasi selama 70 tahun di dunia teh, mereka sangat berkomitment dengan kualitas. Komitmen ini didukung dengan kepemilikan kebun sendiri, sehingga mampu mendapatkan source teh yang berkualitas, yang mereka lakukan mulai dari awal pembibitan sehingga didapatkan bahan mentah teh basah yang berkualitas yang nantinya dioleh menjadi teh kering. Dukungan lain kepemilikian pabrik modern yang menggunakan tehnologi modern dan sistem kualitas.

Management Sosro secara umum, selain terkenal memiliki jaringan distribusi yang handal, mereka handal dalam strategi pemasaran yang selalu mengikuti perkembangan jaman.

Berawal dari kepercayaan mereka bahwa budaya minum teh sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya, mereka mencoba terus mengikuti gaya hidup masyarakat yang terus berkembang.

Khusus untuk teh kering Celup Sosro, mereka mencoba menghubungkannya dengan gaya hidup modern yang mobile. Dengan target market wanita usia 19-49 tahun, kaum urban dan modern moms, mereka mencoba memadukan teh dan gaya hidup dengan Miracle Packaging concept yang diharapkan dapat memberikan sentuah emosi, gampang diingat, interaktif dan menambah pengalaman.

Berkaitan dengan perkembangan gaya hidup modern yang mobile, mereka memanjakan pelanggan setia teh Celup Sosro dengan mengeluarkan aplikasi Handphone yang merupakan qualitea life mobile guide. Aplikasi tersebut berisi fitur-fitur menarik dan bermanfaat mengenai cerita-cerita yang mengundang inspirasi, wisata budaya, wisata kuliner, hotel serta percakapan dalam bahasa setempat. Untuk saat ini baru Jakarta, Bandung dan Bali yang masuk ke dalam directory.

Untuk menunjang semua itu, mereka juga merubah kemasan dengan tema Augmented Reallity, yang merupakan terobosan tehnology yang memukau yang diharapkan dapat menampilkan ”Keajaiban kemasan teh celup Sosro”, menjadi sebuah kemasan yang hidup.

Sebuah strategi marketing yang sangat menarik. Walaupun begitu saya akan memberikan catatan sesuai dengan opini saya terhadap dua program mereka, Qualitea Life Mobile Guide dan Augmented Reality.

Menawarkan aplikasi dalam gadget untuk penunjang gaya hidup modern memang sangat menarik. Hanya saya masih belum begitu mengerti sejauh mana hal ini akan memberi efek terhadap teh celup Sosro.

Sebelum memberikan pandangan saya terhadap program ini, saya akan mengelompokkan pasar-pasar para peminum berdasarkan versi saya.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, golongan kelompok peminum teh, saya bagi menjadi tiga bagian, yaitu Tea Connoisseur, Executive moderate dan Urban Pop.

Tea Connoisseur saya kelompokkan untuk mereka yang sangat mengerti tentang teh, memiliki waktu dan mau menyeduh teh dengan tata cara tertentu sesuai dengan jenis teh ataupun budaya menyeduh teh yang berbeda-beda di masing-masing negara. Paling tidak mereka memiliki pengetahuan, tentang hal tersebut. Kelompok ini begitu concern terhadap kualitas teh, sehingga mereka hampir selalu menggunakan teh kering, bukan teh celup.

Executive moderate saya kelompokkan untuk mereka yang menyukai teh-teh Import, terutama teh Inggris. Mereka biasanya lebih mengenal merk dari pada jenis teh. Teh-teh bermerk terkenal seperti Twining, Tetley atau Dilmah sangat mereka gemari. Kelompok ini di dominasi kalangan menengah ke atas, kaum executive yang suka nongkrong di Cafe-cafe.

Urban Pop saya kelompokan untuk mereka yang gaya hidupnya lebih ngepop, sebagian kalangan komuter yang banyak menghabiskan waktunya di jalan,.

Sebagian dari mereka terjebak dalam pola hidup tidak sehat, stress karena presure pekerjaan, sering makan makanan junk Food, pola makan tidak teratur. Mereka mulai tahu dan sadar bahwa minum teh cukup bermanfaat buat kesehatan, dan menganggap minum teh adalah sebagai penyeimbang dari pola hidup mereka yang kurang sehat. Mereka juga suka hal-hal yang praktis yang tidak buang-buang waktu.

Dalam kelompok versi saya, peminum teh Celup Sosro masuk dalam golongan Urban Pop. Sedangkan dalam target market versi Gunung Slamat, golongan yang mereka bidik adalah gabungan executive moderate dan Urban pop.

Sekarang saya coba bahas, bagaimana program Qualitea life dan Augmentend really, dalam hubungannya dengan target market yang dibidik.

Pertama soal kemasan, sebagai orang yang dapat dikatakan awam terhadap design, saya memang tidak menemukan sesuatu yang baru dalam perubahan kemasan mereka. Bahkan, kalau tidak membandingkan dengan kemasan yang lama, tidak terlalu tampak perbedaannya. Penggunakan logo, gambar, pilihan Font dapat dikatakan hampir sama. Hanya warna yang memang berubah, dimana dalam kemasan lama warnanya sangat merah, dalam kemasan baru warnanya merupakan gradasi warna merah, oranye dan kuning. Kemasan baru memang terasa fresh dan modern. Evolusi kemasan (kalau dapat dikatakan demikian), memang merupakan salah satu strategi yang digunakan. Menurut pak Daniel Surya, Country Director dari the Brand Union Jakarta, walau kemasan baru, tetap tidak melupakan asal muasal.

Walau secara sekilas tidak ada perubahan yang mencolok, tetapi sebenarnya kemasan baru tersebut secara tekhnologi dapat dikatakan revolusioner. Mereka menyebutnya Augmented Reallity. Dengan bantuan tehnologi komputer, setelah kita menginstall software khusus di komputer kita, kemasan tersebut mampu menampilkan gambar bahkan video.

Dengan mengarahkan webcam pada kemasan Teh Celup Sosro, di komputer kita seakan memunculkan suatu gambar rahasia yang tersembunyi di balik kemasan. Entah mungkin karena saya melihatnya sepintas, atau memang ini masih dalam taraf pengembangan, gambar atau video yang ditampilkan dalam keajaiban kemasan tersebut, belum memberikan pesan khusus.

Padahal gambar-gambar tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, mengenai manfaat teh misalnya. Atau tip trik cara seduh teh yang baik dan benar.

Kedua qualitea life mobile guide, tentunya merupakan sebuah kebutuhan bagi mereka yang selalu mobile.

Anda dapat mengunduh fasilitas ini secara gratis lewat www.qualitealife.com ke ponsel Anda. Bluetooth, infrared, data kabel dari ponsel dan komputer anda dapat menginstall program tersebut ke dalam ponsel anda. Dalam program in janda akan mendapatkan fitur-fitur direktori tempat-tempat, seperti lokasi dan peta restoran, hotel, tourist spot, lokasi budaya dan wisata, bahkan ada daftar nomor telepon darurat.

Sebuah usaha yang cukup menarik untuk meningkatkan citra teh celup Sosro.

Ibu Meicy, dari Gunung Slamat menjelaskan, bahwa untuk kualitas tehpun dilakukan peningkatan kualitas. Kalau dulu digunakan grade dust, sekarang sudah digunakan grade fanning.

Akan lebih mengesankan lagi, kalau perubahan kemasan juga dibarengi peningkatan kemasan di dalamnya.

Beberapa kelemahan dasar produk-produk teh Indonesia adalah tidak diperhatikannnya kemasan sebagai alat untuk menjaga aroma dan rasa teh itu sendiri.

Teh, seperti halnya kopi, kesegaran daun teh keringnya harus selalu terjaga. Musuh utama dari teh adalah udara dan cahaya langsung. Selain itu sifat teh juga menyerap aroma yang ada disekitarnya. Itu sebabnya beberapa produk teh kualitas tinggi selalu membungkus teh dalam kemasan aluminium foil. Kemasan ini, hingga saat ini masih merupakan bahan terbaik untuk melindungi teh dari oksidasi udara dan pengaruh aroma dari luar teh.

Kebanyakan, teh-teh kita hanya dibungkus plastik bening, atau sekedar dimasukkan begitu saja ke dalma kemasan luarnya. Dapat dibayangkan, perjalanan panjang teh hingga sampai ke tangan pembeli akhir, harus melewati beberapa moda angkutan. Kemudian di tangan pengecer, melewati beberapa macam ruangan dengan aneka aroma segala rupa. Ketika dipajang di supermarketpun bercampur dengan aneka aroma lain yang ada disana.

Pada saat teh tersebut pindah ke tangan pengguna akhir, di tempat penyimpanan keluarga, boleh jadi teh tersebut disimpan di dapur, dimana disana sudah menunggu aroma bumbu masak lainnya.

Seringkali saya mendapatkan teh-teh yang semestinya tidak terlalu buruk, tetapi dengan sangat sederhanya kemasan, membuat teh ini cepat berbau apek.

Nah dengan adanya perubahan kemasan dan tehnologi, peningkatan kualitas produk yang digunakan, juga inner kemasan, mestinya akan menjadikan teh Celup Sosro bisa berdiri setingkat di atas pesaingnya.

Tuesday, 12 May 2009

Sincha

Teh hijau Jepang adalah teh yang unik dan memiliki rasa dan aroma yang unik pula. Negara Jepang merupakan negara kepulauan yang tentu saja dikelilingi oleh lautan. Kondisi geographis inilah yang mempengaruhi cita rasa teh hijau jepang yang memiliki aroma rumput laut, dengan rasa yang sedikit amis. Aroma dan cita rasa ini, juga dipengaruhi oleh masa dimana teh tersebut di panen.

Itu sebabnya, pengelompokan kualitas teh hijau Jepang, selain dari ukuran daun juga ditentukan oleh waktu panen. Pengelompokan lain, juga dibedakan apakah sebelum dipanen, pohon teh tersebut diberi naungan penuh atau tidak.

Sencha adalah teh hijau jepang yang paling dikenal. Bentuknya yang lurus, seperti jarum kecil-kecil, dengan warna hijau Jamrud.

Sencha yang di panen pertama (sekitar bulan April), dinamakan Sincha. Ini merupakan teh sencha kualitas terbagus, walaupun juga masih terbagi lagi dengan utuh tidaknya daun. Makin utuh daun, makin bagus kualitasnya. Kalau makin banyak bubuknya, berarti bukan kualitas terbagus. Bubuk ini selain memberi warna seduhan lebih gelap, juga menyebabkan rasa teh lebih pahit.

Belum lama ini saya mendapat kiriman Sincha dari ibu Lim Kim Soan, sahabat saya dari Milist Pecinta Teh . Beliau memang tinggal di Jepang, sehingga acap kali kalau ada teman beliau yang datang ke Indonesia, beliau sering titip sesuatu untuk saya. Saya juga mendapatkan kiriman buku tentang teh. Tampaknya buku ini cukup lengkap dengan photo-photo yang sangat bagus. Sayangnya saya tidak dapat membacanya, karena hurufnya kanji semua.

Sincha, harus disimpan di dalam refrigerator, kalau tidak aromanya akan cepat hilang. Agar supaya tidak terpengaruh oleh aroma lain yang ada di dalam refrigerator, sebaiknya Sincha tetap di dalam bungkus aluminium foilnya, lalu dimasukkan lagi ke dalam wadah plastic. Lebih bagus lagi wadah tersebut wadah yang kedap udara.

Karena panenan pertama, aroma Sincha lebih kuat, dan warna daun tehnya juga berwarna jamrud. Saya biasanya menggunakan takaran 1 sendok teh, untuk air volume air sekitar 200 cc. Seduhan pertama 2 menit, seduhan kedua empat menit. Biasanya memang hanya 2 kali seduh, karena seduhan ketiga aroma dan rasanya sudah berkurang cukup banyak.

Sincha rasa cukup lembut, dengan aroma sea weed lebih halus. Sekalipun ada hint rasa pahit, tetapi after tastenya cukup manis.

Ampas Sincha, juga sangat lembut. Kalau dalam tulisan sebelumnya saya mencoba membuat peyek dari ampah Sencha, sekarang saya coba makan begitu saja ampas sinchanya. Sedikit mirip rasa bayam, dengan sisa aroam rumput laut. Rasa pahit juga sudah mulai menghilang (mungkin karena sudah diseduh 2 kali). Daunnya begitu muda dan lembut. Bahkan tangkai daunnya juga cukup lembut.

Kalau istri saya memiliki cara lain memanfaatkan ampas daun Sincha. Dengan dicampur sedikit telor, jadilah masker yang menurut beberapa penelitian, kandungan Cathecinnya memiliki manfaat anti oxidant yang cukup tinggi.

Jadi minum Sincha, bukan sekedar minum air seduhannya, tetapi juga sekaligus dapat dimakan daunnya, atau digunakan sebagai masker. Mudah-mudahan semua cathecin, baik yang sudah terektrak di air dan tersisa di ampas, masih cukup bermanfaat buat tubuh. Sebenarnnya kandungan cathecin teh hijau jepang, tidak setinggi kandungan cathecin teh hijau Indonesia, tetapi walaupun begitu, saya belum memiliki keberanian untu mencoba makan ampas daun teh hijau Indonesia.

Wednesday, 6 May 2009

Rempeyek teh

Teh adalah minuman nomor dua di dunia setelah air putih. Di beberapa negara, teh bukan hanya sekedar minuman, tetapi juga dimakan. Dalam tulisan saya tentang teh Myanmar , pernah saya ceritakan bahwa di negara tersebut teh dibuat semacam asinan dan dibuat kudapan sambil menonton televisi.

Jepang merupakan jagonya teh hijau. Di negara ini, ditemukan sistem penghentian proses oksidasi dengan cara steam, sebagai pengganti cara pan frying seperti yang dilakukan di china. Dengan cara ini, selain menjaga kandungan cathecin tidak banyak terbuang dalam proses produksi, juga membuat warna daun teh menjadi lebih segar dan lebih hijau.

Dalam gambar, dapat anda lihat untuk teh Sencha, warna ampas tehnya lebih hijau dan segar. Sedangkan teh hijau Indonesia dan China, yang menggunakan sistem pan frying, ampasnya berwarna coklat.

Khusus untuk teh Jepang kualitas tertentu, ampas daun teh hasil seduhan, selain dapat digunakan sebagai bahan perawatan kecantikan (untuk masker misalnya), juga dapat dapat dimakan.


Kalau anda memiliki Sencha kualitas Fine,. Untuk daun teh Sencha kualitas tinggi, digunakan daun teh yang sangat muda coba anda kunyah ampas daun tehnya. Karena daun teh yang digunakan sangat muda, ketika dikunyah terasa lembut dan tidak pahit.. Nah, anda juga dapat mencoba membuatnya menjadi makanan.


Kebetulan sekali Istri saya sedang membuat risole, yang menggunakan bahan tepung terigu, mentega dan telur. Untuk percobaan, saya ambil sebagian adonan tadi, dan saya campur dengan ampas teh Sencha, lalu digoreng.

Hasilnya mirip dengan rempeyek teh. Tetapi, karena adonan tersebut dominan rasa telur dan menteganya, rasa tehnya memang kurang begitu terasa. Kemungkinan lain, karena teh tersebut sudah diseduh 3 kali, sehingga sudah banyak berkurang aroma dan rasanya.


Anda dapat saja berkreasi dengan mencampur ampas teh dengan bahan makanan lain, sebagai campuran pecel, asinan atau gado-gado misalnya?

Paling tidak, kita masih mendapatkan sisa-sisa cathecin yang mungkin masih terkandung di dalam ampas teh tersebut. Hanya yang perlu diperhatikan hanya daun teh yang benar-benar muda yang enak untuk dijadikan bahan makanan.